#buronan#Kejari

Buronan Kasus Penipuan Jual Beli Pasir Ditangkap di Bakauheni

( kata)
Buronan Kasus Penipuan Jual Beli Pasir Ditangkap di Bakauheni
Dok Kejari Bandar Lampung


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Tim Tabur Kejaksaan Agung dan Kejari Bandar Lampung menangkap seorang buronan atau daftar pencarian orang (DPO) di Pelabuhan Bakauheni, Selasa, 28 Juni 2022, dini hari.

DPO bernama Sri Utami (57) warga Kendal, Jawa tengah itu divonis dua tahun enam bulan penjara pada 4 Januari 2022 lalu di PN Kelas IA Tanjungkarang.

Ia kini menjalani eksekusi berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Nomor : 1100/Pid.B/2021/PN Tjk tanggal 04 Januari 2022 terhadap perkara penipuan dan penggelapan.
 
"Terpidana ditangkap di Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Selanjutnya terpidana Sri Utami Ariyanti ke Kejaksaan Negeri Bandar Lampung, dan kini telah dieksekusi di LP Perempuan Kelas II A Bandar Lampung," ujar Kasi Intel Kejari Bandar Lampung, Rio P. Halim, Selasa, 28 Juni 2022.

Selama pelariannya, ia kerap bolak-balik ke Jawa Tengah, dan Lampung, tinggal di rumah kerabatnya. Saat ditangkap ia baru saja pergi dari Palembang, dan hendak menuju Yogyakarta.

"Tim menangkapnya di Bakauheni saat hendak menyeberang usai mengetahui keberadaan yang bersangkutan," tambahnya.

Diketahui, perbuatan yang menjerat Sri Utami berawal saat terdakwa menawarkan Komisaris PT Tujuh Jaya Permai bernama Muhammad untuk menjadi suplier material berupa pasir ke PT Presisi, yang sedang mengerjakan proyek pembangunan bendungan Way Sekampung di Kabupaten Pringsewu. PT Presisi  membutuhkan material pasir sebanyak 9.300 m³.

Lalu, menurut Sri, harga material pasir dari penambang parsir seharga Rp130.000,- per m³ dan akan dijual kepada PT. Presisi seharga Rp157.000,- per m³, sehingga akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp27.000,- per m³.

Kemudian, Sri meminta bagian keuntungan Rp1.500,- per m³, sehingga terjadilah kesepakatan antara PT. Tujuh Jaya Permai dan terdakwa.

Selanjutnya PT Tujuh Permai bersedia menjadi suplier materal pasir kepada PT. Presisi, dan Sri Utami yang akan mengurus pemesanan pasir dan pengiriman. PT Tujuh Jaya pun memberikan uang secara bertahap. Namun pasir yang disuplai tak sesuai permintaan. Hingga PT Tujuh Jaya Permai menderita kerugian Rp559 juta.

Winarko






Berita Terkait



Komentar