#lampung#ott#hoaks

Bupati Lamteng Laporkan Media Penyebar Hoaks Terkait OTT

( kata)
Bupati Lamteng Laporkan Media Penyebar Hoaks Terkait OTT
Ilustrasi. Dok/Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co) -- Bupati Lampung Tengah, Loekman Djoyosoemarto, melaporkan empat media online penyebar hoaks atas operasi tangkap tangan (OTT) terhadapnya ke Polda Lampung, Selasa, 5 November 2018. Padahal, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membantah adanya OTT tersebut.

Kabag Hukum Pemkab Lampung Tengah Eko Pranyoto mengatakan Loekman melaporkan keempat media penyebar hoaks tersebut ke bagian Direktorat Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Cyber Crime Polda Lampung. "Saya mewakili Bupati Lamteng Bapak Loekman melaporkan ke Polda Lampung ini untuk pencemaran nama baik terhadap Bupati Lamteng terkait pemberitaan mengenai ditangkapnya Bupati Lamteng oleh KPK pada Minggu, 3 November lalu," katanya.

"Memang Bupati Lamteng sedang berada di Jakarta dalam rangka besok (Senin) akan menerima penghargaan juara dua nasional, bukan ditangkap KPK. Hari ini kami akan melalui prosedur hukum untuk bisa membenarkan dalam arti kata membuat berita ini jelas sehingga tidak dituduh sembarangan Bupati Lamteng ditangkap KPK," katanya.

Sebelumnya, juru bicara KPK Febri Diansyah membantah adanya operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Lampung Tengah, Loekman Djoyosoemarto. Kabar OTT tersebut bahkan sempat diberitakan media-media di Lampung.

“Tidak ada informasi soal OTT. Tidak ada jadwal pemeriksaan di penyidikan untuk yang bersangkutan saat ini," ujar Febri.

Dia memaparkan agar masyarakat atau pihak media tidak langsung mengambil kesimpulan jika ada informasi yang belum valid. “Kalau ada OTT kan selalu diinfokan secara resmi. Namun memang waktu penyampaian informasi harus mempertimbangkan kebutuhan tim di lapangan. Tapi maksimal 24 jam. Jika ada OTT, hasilnya disampaikan resmi pada konpres di KPK," katanya.

Febri bingung dengan adanya informasi tersebut. Bahkan, bukan cuma Loekman, Wali Kota Metro Ahmad Pairin pernah diisukan terjaring OTT pada 19 Desember 2018 namun kabar tersebut ternyata hoaks.

"Itu siapa yang nyebar,mungkin karena banyak yang kena kali ya di Lampung," katanya.

Muharram Candra Lugina

Berita Terkait

Komentar