#bukit#masadepan#tajuk

Bukit untuk Masa Depan

( kata)
Bukit untuk Masa Depan
dok Lampost.co


KEBERADAAN gunung maupun perbukitan di suatu kawasan memiliki manfaat yang jelas untuk wilayah itu sendiri. Gunung atau bukit menjadi daerah resapan air yang berguna apabila memasuki musim kemarau agar ketersediaan air tetap terjaga dan tidak mengalami kekeringan. Sebaliknya, ketika memasuki musim hujan agar tidak terjadi banjir di daerah sekitar bukit tersebut. Keberadaan gunung maupun bukit ini termasuk sebagai kawasan ruang terbuka hijau (RTH).

Namun, manfaat tersebut bisa berkurang atau bahkan tidak ada jika gunung maupun perbukitan digunduli atau dirusak oknum tertentu. Perusakan bukit lazimnya dilakukan untuk kepentingan pertambangan dan eksploitasi alam lainnya demi mencari keuntungan sesaat tanpa memperhatikan dampak kerusakan lingkungan setelahnya. Selain kekeringan ketika kemarau, saat musim hujan longsor pun bisa menjadi ancaman serius akibat adanya perusakan bukit tersebut.

Kondisi ini pun dialami sejumlah bukit di Kota Bandar Lampung yang makin hari makin memprihatinkan. Dari total 33 bukit dan gunung yang ada, rata-rata sudah beralih fungsi menjadi kawasan pertambangan, lokasi wisata, dan ada yang menjadi lokasi perumahan.

Eksploitasi alam yang tidak terkendali itu pula yang memicu longsornya salah satu bukit di Sukamenanti, Kedaton, Bandar Lampung, Rabu (30/10). Kejadian itu bukan yang pertama kali. Sebelumnya peristiwa yang sama telah berlangsung sejak bertahun-tahun silam.

Penyebab utama runtuhnya tebing bukit tersebut karena aktivitas penambangan batu yang merupakan mata pencarian warga setempat. Para penambang bekerja dari pagi hari hingga sore.

Penambangan tersebut sudah menjadi mata pencarian warga sekitar sejak lama dan hampir 90 persen warganya mencari nafkah di gunung atau bukit itu.
Ini menjadi sebuah dilema bagi pemerintah. Di saat pemerintah hendak melarang aktivitas tambang atau pengerukan di bukit itu, maka mata pencarian warga bisa lenyap.
Pemerintah Kota Bandar Lampung pun sudah berupaya memberikan pemahaman kepada warga sekitar tentang akibat buruk yang bakal terjadi, namun pengerukan bukit masih saja terjadi.

Untuk itu, Pemkot Bandar Lampung harus intens berkoordinasi dengan Pemprov Lampung terkait penerbitan izin penambangan bukit batu yang berada di Sukamenanti yang longsor baru-baru ini dan juga di sejumlah bukit lain. Sehingga pemerintah tidak sembarangan memberikan izin eksploitasi alam. Tetapi di sisi lain, tidak menggulingkan periuk nasi masyarakat sekitar bukit.

Tindakan ini sebagai salah satu cara agar kejadian longsor maupun bencana alam tidak terulang, terutama saat memasuki musim kemarau maupun hujan.
Jika memang kondisi bukit yang sudah gundul dan mengalami kerusakan parah tidak bisa diperbaiki lagi, minimal warga bersama pemerintah bisa memperbaiki kondisi bukit yang mengalami kerusakan tersebut. Bahkan, mempertahankan kondisi bukit atau gunung yang masih asri dan alami agar tidak dirusak oleh oknum-oknum tertentu. Sehingga masih ada ruang terbuka hijau dan wilayah resapan air.

Untuk itu, komitmen pemerintah bersama warga sekitar harus dibuktikan guna menjaga kelestarian bukit-bukit di Kota Bandar Lampung yang saat ini mulai rusak dan rawan longsor. Tindakan nyata seperti ini akan bermanfaat bagi warga sekitar dan yang pasti akan dirasakan generasi mendatang agar tidak selalu dirundung bencana.

Setiaji Bintang Pamungkas







Berita Terkait



Komentar