#nuansa#setitikair#vertigo

Bukan Vertigo

( kata)
Bukan Vertigo
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

JUMAT malam (2/8/2019) saya tengah duduk-duduk santai sambil menyandarkan punggung ke tembok. Tiba-tiba tubuh ini terasa terayun-ayun. Saya sedikit tersentak. Ada gempa, kah? Atau saya mengalami vertigo?

“Ada gempa ya, Bunda?”

Enggak kerasa, tuh!”

Ah, jangan-jangan saya benar-benar mengalami vertigo. Di tengah lamunan sesaat itu, gawai tergeletak di lantai mulai bergetar berulang ulang. Tanda notifikasi dari aplikasi WhatsApp secara runtun mulai berdatangan.

Benar saja. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi telah terjadi gempa bumi. Gempa bermagnitudo 7,4 itu berpusat di 7.54 LS,104.58 BT, 147 km barat daya Sumur, Banten. Pusat berada di kedalaman 10 km.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan guncangan gempa Banten terasa cukup luas. Guncangan dengan skala 2—3 modified mercalli intensity (MMI) itu terasa hingga Yogyakarta dan Bali.

Di Lampung, guncangan itu cukup terasa di beberapa tempat. Dari Pesisir Barat, Tanggamus, juga Bandar Lampung. Bahkan, lantaran panik, sejumlah warga di Kota Tapis Berseri berhamburan menuju dataran tinggi takut diterjang tsunami.

BNPB pun mencatat 1.050 orang mengungsi pascagempa. Hal ini terjadi di beberapa titik. Sebanyak 1.000 jiwa mengungsi di halaman kantor Gubernur Lampung dan kurang lebih 50 orang mengungsi di eks Hotel Lima Enam, Kabupaten Lampung Selatan.

Esok harinya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Banten melansir sekitar 178 bangunan terdiri dari rumah, sekolah, dan masjid rusak akibat gempa, belakangan diralat BMKG berkekuatan 6,9 skala Richter, yang terjadi malam itu.

Gempa bumi yang sempat menghebohkan itu tak menimbulkan korban puluhan jiwa. Patut disyukuri lagi BMKG memberi bantahan bahwa gempa itu tak berkait dengan Sunda Megatrhust, gempa besar yang juga berpotensi besar menghasilkan tsunami.

Lebih bersyukur lagi para nelayan di pantai pantai pesisir Lampung Selatan. Beberapa hari terakhir hasil tangkapan ikan nelayan bagan, nelayan pancing rawe, dan jaring payang melimpah saja beberapa hari pascagempa.

Biasanya, kata nelayan,  dalam semalam mereka hanya mendapat 6 cekeng. Namun, pascagempa, hasil tangkapan naik signifikan hingga 20 cekeng per malam.

Nelayan menduga saat gempa terjadi ribuan ikan bergerombol mencari lokasi berlindung. Lokasi aman adalah wilayah dengan kondisi teluk maupun deretan kepulauan. Begitulah. Di balik kepahitan, pasti terselip hal manis.

 

Abdul Gafur/Wartawan Lampung Post

loading...

Berita Terkait

<<<<<<< .mine
loading...
||||||| .r621
loading...
=======
>>>>>>> .r624

Komentar