#nuansa

Bukan Euforia Sesaat!

( kata)
Bukan Euforia Sesaat!
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images

WARGA Lampung seperti mendapat hiburan baru saat tim sepak bola Badak Lampung resmi menjadikan Kota Tapis sebagai markas barunya. Setiap pertandingan digelar di Stadion Sumpah Pemuda, penonton penuh sesak memadati kandang Si Badak. Warna merah pun menyelimuti setiap jengkal tempat duduk di tribune stadion.

Sebuah pemandangan yang begitu masuk akal, mengingat sudah 17 tahun Lampung menunggu hadirnya klub yang mewakilinya di kompetisi teratas sepak bola Indonesia. Euforia itu terus membuncah hingga kompetisi memasuki setengah perjalanan.

Namun, bara euforia itu makin meredup di lima pertandingan terakhir Badak Lampung seiring jebloknya performa tim asuhan Milan Petrovic itu. Laskar Saburai—julukan Badak Lampung—hanya meraih satu poin dari lima laganya. Jelas ini bukanlah sebuah prestasi yang diharapkan.

Otomatis, posisi Badak Lampung pun melorot ke urutan 17, hanya berada satu tingkat di atas Semen Padang yang berada di dasar klasemen. Jika tidak segera beranjak dari zona degradasi itu, tentu Laskar Saburai bakal terancam turun kelas menuju Liga 2.

Terakhir, saat bermain di kandang sendiri, Badak Lampung harus takluk oleh tamu jauhnya dari Papua: Persipura Jayapura. Beberapa pekan sebelumnya, laga pedih juga tersaji saat sang mantan striker, Fransisco Torres, menjebol tiga kali gawang Badak Lampung untuk membawa klub barunya, Barito Putra, menang 4-1 di Banjarmasin.

Manajemen klub semestinya tidak diam merespons performa tim yang melempem ini. Kita patut memberi apresiasi saat manajemen mendatangkan dua bek tangguh, Bojan Malisic dan Anthony Golec, untuk keluar sebagai status tim dengan kebobolan terbanyak. Namun, di satu sisi, sepeninggal Fransisco Torres, tak ada lagi juru gedor yang memberi kontribusi banyak gol bagi Badak Lampung.

Laskar Saburai hanya mengandalkan pemain tengah dan winger macam Fernandinho, Marquinhos, dan Haryanto Panto untuk mencetak gol. Andai di depan ada striker tajam yang mampu mengonversikan umpan-umpan para gelandang itu, tentu gol demi gol akan lebih mudah didapat. Striker yang sudah ada maupun yang baru direkrut belum bisa berbicara banyak di depan gawang lawan.

Dukungan, doa, dan kritik konstruktif akan selalu kami gaungkan buat Badak Lampung. Sebab, Si Badak adalah satu-satunya wakil Lampung di turnamen besar sepak bola Liga 1. Apa pun kondisinya, jersey merah bergaris tapis tetap melekat di raga kami; semangat Badak yang menempel di dada pun akan selalu meresap di hati kami.

Kami tidak ingin euforia ini hanya berlangsung sesaat. Ayo, Badak Lampung, bangkit! Maksimalkan laga yang tersisa dengan meraup poin sebanyak mungkin. Masyarakat Lampung mendukungmu!

Setiaji Bintang Pamungkas

Berita Terkait

Komentar