#inflasi#kenaikanhargarokok#ekbis

BPS: Inflasi dari Rokok Sudah Terjadi di Desember 2019

( kata)
BPS: Inflasi dari Rokok Sudah Terjadi di Desember 2019
Kepala BPS Suhariyanto. FOTO: Medcom.id/Kautsar Widya

Jakarta (Lampost.co): Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat subkelompok tembakau dan minuman beralkohol mengalami inflasi sebesar 0,50 persen pada Desember 2019. Komoditas yang dominan penyumbang inflasi adalah rokok kretek, filter dan rokok putih.
 
"Meskipun kenaikan cukai rokok baru terjadi awal bulan ini tapi inflasi sudah terjadi di Desember 2019," kata Kepala BPS Suhariyanto di kantor BPS, Jalan Dr Sutomo Jakarta Pusat, Kamis, 2 Januari 2020.
 
Selain rokok, lanjut Suharyanto, subkelompok makanan jadi juga mengalami inflasi sebesar 0,19 persen dan subkelompok minuman yang tidak beralkohol sebesar 0,31 persen. Secara keseluruhan kelompok ini pada Desember 2019 memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,05
persen.

"Komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi, yaitu rokok kretek, rokok
kretek filter, dan rokok putih masing-masing sebesar 0,01 persen," paparnya.
 
Adapun angka inflasi sepanjang Desember 2019 secara keseluruhan sebesar 0,34 persen. Sebanyak 72 dari 82 kota yang dipantau mengalami inflasi dan 10 kota lainnya mengalami deflasi.
 
Inflasi tertinggi terjadi di Batam sebesar 1,28 persen dan terendah terjadi di Watampone sebesar 0,01 persen. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Manado sebesar 1,88 persen dan terendah terjadi di Bukittinggi dan Singkawang masing-masing sebesar 0,01 persen.
 
"Inflasi Desember 2019 sebesar 0,34 persen, ini akan melihat gambaran utuh inflasi 2019 secara tahun kalender sebesar 2,72 persen," ujarnya.
 
Sebelumnya Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan menyebut kenaikan harga rokok mulai berlaku 1 Januari 2020. Kenaikan ini sesuai dengan keputusan pemerintah yang menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT).
 
Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang Perubahan Kedua atas PMK Nomor 136/PMK.010/2017 tentang Tarif Cukai Hasil Tembakau.
 
Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi mengatakan kenaikan harga rokok akan disesuaikan dengan aturan yang ada. Menurut dia para pengusaha rokok sudah memahami aturan yang berlaku sehingga tinggal menyesuaikan.
 
"Saya kira komunitas pengusaha rokok sudah sangat memahami sistem yang berlaku. Karena ini kan hanya masalah tarif saja ya. Kalau sistem yang lainnya sama," kata dia ditemui di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Selasa malam, 31 Desember 2019.
 
Dalam PMK tersebut rata-rata tarif CHT naik sebesar 21,55 persen pada awal tahun ini. Untuk tarif CHT Sigaret Keretek Mesin (SKM) naik sebesar 23,29 persen, Sigaret Putih Mesin (SPM) naik 29,95 persen, dan Sigaret Keretek Tangan (SKT) atau Sigaret Putih Tangan (SPT) naik 12,84 persen.
 
Sementara untuk harga jual eceran (HJE) rata-rata mengalami kenaikan sebesar 35 persen. Adapun besaran tarif cukainya akan disesuaikan dengan HJE yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan jenis golongan serta produksi dalam negeri ataupun hasil impor.
 
Untuk SKM golongan I, batasan harga paling rendah ditetapkan Rp1.700 per batang atau gram dengan tarif cukai Rp740, SKM golongan II batasan harga diatur paling rendah Rp1.020 hingga Rp1.275 per batang atau gram tarif cukainya Rp455, SKM II yang harganya lebih dari Rp1.275 per batang atau gram tarif cukainya Rp470.
 
Rokok jenis SPM golongan I ditetapkan harga terendah Rp1.790 dengan tarif cukai Rp790. Sementara untuk SPM golongan II, ditetapkan harga terendah Rp1.015 hingga Rp1.485 dengan tarif cukai Rp470, SMP II yang harganya lebih dari Rp1.485 dikenakan tarif cukai sebesar Rp485.
 
Sementara jenis SKT atau SPT golongan I harga terendah Rp1.015 sampai Rp1.460 tarif cukainya Rp330, untuk yang harganya lebih dari Rp 1.460 dikenakan tarif cukai Rp425. Adapun untuk golongan II harga paling rendah Rp535 dengan tarif cukai Rp200 dan golongan III ditetapkan harga paling rendah Rp450 dan dikenakan cukai Rp110.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar