#bencanaalam#tsunami#beritalamsel

BPBD: Masyarakat Tak Perlu Panik, Sudah Ada Alat Deteksi Dini Tsunami dan Gempa

( kata)
BPBD: Masyarakat Tak Perlu Panik, Sudah Ada Alat Deteksi Dini Tsunami dan Gempa
Ilustrasi alat deteksi tsunami. Foto: Google Images

Kalianda (Lampost.co): Masyarakat di sepanjang pesisir Kecamatan Kalianda dan Rajabasa, Lampung Selatan diminta tidak panik dan tetap waspada terhadap potensi tsunami. Alat deteksi dini tsunami dan gempa sudah terpasang di Lampung.

Banyak warga pesisir di Lampung Selatan panik adanya peringatan dini yang disampaikan BMKG terkait dengan adanya pergerakan lempeng tektonik cukup aktif di wilayah Indo-Australia dengan Eurasia yang mengarah pada potensi gempa yang dapat menimbulkan tsunami di selatan Pulau Jawa.

"Informasi ini bukan prediksi akan tsunami melainkan hasil kajian akan ada tsunami," kata Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Selatan, Afendi, Rabu, 30 September 2020. 

Mengenai potensi akan terjadinya tsunami, tidak ada yang bisa memprediksi kapan bencana itu akan datang dan sebesar apa tsunami tersebut. 

Baca juga: Masyarakat Pesisir Lamsel Trauma Tragedi Tsunami 2018

"Harus tetap waspada, karena tidak ada yang bisa prediksi bencana itu datang," ujarnya. 

Masyarakat diminta tidak panik, kenali peristiwa atau kejadian yang dialami, apabila ada kejanggalan bisa ambil langkah cepat. "Kalau gempa tidak bisa di prediksi, tapi kalau tsunami ada jeda waktu sekitar 20 menit," kata dia. 

BPBD Lampung Selatan sudah menyampaikan kepada masyarakat di sepanjang pantai pesisir untuk mengambil langkah cepat. 

"Perbanyak jalur evakuasi, gunakan semua alat untuk komunikasi jika terjadi bencana," ujarnya. 

Dijelaskannya, alat pendeteksi dini tsunami sudah ada di perairan sekitar Pulau Sebesi dan Gunung Anak Krakatau, sehingga ia meminta masyarakat tidak perlu panik. 

"Selain pendeteksi tsunami, sudah ada juga deteksi gempa bumi," kata dia. 

Dia mengatakan sebanyak 60 relawan tanggap bencana yang merupakan binaan BPBD Lampung Selatan, sudah memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak panik terhadap terjadinya bencana. 

"Mereka yang memberikan edukasi kepada masyarakat untuk mengenali bentuk bencana," ujarnya. 

Mantan Camat Sidomulyo itu menjelaskan di setiap desa sepanjang pesisir pantai Kecamatan Kalianda dan Rajabasa sudah dibuat jalur evakuasi menuju tempat yang aman atau yang lebih tinggi 

"Jalur evakuasi dengan rambu penunjuk sudah ada semua," ujarnya. 

Masyarakat diminta tidak mudah percaya dengan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, seperti rekaman suara yang beradar. "Sekali lagi jangan panik dan mudah percaya dengan informasi yang tidak jelas," kata dia. 

Petugas pos pemantau Gunung Anak Krakatau (GAK) di Desa Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Suwarno, menjelaskan alam kurun waktu tiga bulan terakhir, terpantau aktivitas GAK yang memiliki ketinggian 157 Mdpl, normal seperti bisanya, tidak ada peningkatan ataupun terjadinya erupsi. 

"Sejak semalam banyak yang nanya, tapi saya jelaskan semua normal yang penting tetap waspada," kata Suwarno.

Berdasarkan laporan dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari pos pengamatan GAK 24 jam terakhir, aktivitas gunung api yang berada di perairan Selat sunda Periode pengamatan 29-09-2020 00:00-24:00. 

Secara visual, gunung kabut 0-III. Asap kawah tidak teramati. Ombak laut tenang visual CCTV lava 93 teramati asap putih tipis-sedang tinggi kisaran 25-50m. Meteorologi, cuaca cerah dan berawan. Angin bertiup lemah ke arah timur laut dan barat laut. Suhu udara 22.5-27.6 °C dan kelembaban udara 50-60 %. 

Sedangkan kegempaan sebanyak 2 kali dengan amplitudo : 15-30 mm, durasi 15-32 detik. Low frekuensi sebanyak 3 kali, dengan amplitudo  12-25 mm, durasi 9-15 detik. Status GAK di level II atau waspada, masyarakat dan wisatawan dilarang mendekat kawah gunung berapi itu radius 2 km.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar