#sampah#plastik#laut

Bom Waktu Sampah Plastik

( kata)
Bom Waktu Sampah Plastik
Dokumentasi Pixabay.com


PELESTARIAN lingkungan menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Pemerintah Pusat maupun daerah membuat program melindungi, mengelola, dan melestarikan lingkungan hidup, demi kelangsungan kehidupan manusia beserta alam sekitarnya.

UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup mengamanahkan pentingnya melindungi wilayah Indonesia dari pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan. Tujuannya menjamin keselamatan, kesehatan, dan kehidupan manusia.

Semangat UU itu tecermin dalam penetapan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Pengelolaan sampah pun menjadi salah satu problem terberat di perkotaan. Selain luas tempat pembuangan yang terbatas, juga pengolahan sampah masih sangat minim.

Hasil perhitungan organisasi nonpemerintah terkait lingkungan, di Bandar Lampung misalnya menyatakan volume sampah per hari sekitar 850 ton. Sementara kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah sangat minim dan tidak dapat memenuhi tampungan.

Alhasil kini sampah mulai menumpuk di mana-mana, termasuk di pesisir pantai. Sampah yang dibuang sembarangan oleh masyarakat ke laut, dikembalikan lagi oleh ombak ke daratan. Tepian pantai di Teluk Lampung pun penuh dengan sebaran sampah.

Misalnya di pesisir pantai Kotaagung, Pemkab bersama Polres Tanggamus dan Forkopimda berhasil mengumpulkan 2 ton sampah, Kamis (21/2). Mayoritas sampah yang dikumpulkan itu berbahan dasar plastik. Sampah memberi wajah buruk pesisir Lampung.

Memang sampah di pesisir pantai itu bukan hanya berasal dari warga sekitar. Melainkan lebih jauh sampah berasal dari warga yang berinteraksi dengan laut di mana pun dan membuang sampahnya ke laut. Kondisi seperti ini harus menjadi perhatian kita semua.

Kesadaran masyarakat bergaya hidup sehat belum juga dapat ditingkatkan. Padahal hidup sehat merupakan salah satu upaya mengelola alam berkelanjutan. Pada akhirnya lingkungan yang bersih akan memberi dampak positif bagi kehidupan manusia.

Pemerintah harus menjadi lokomotif penggerak masyarakat untuk hidup sehat. Upaya penetapan HPSN, jangan menjadi formalitas belaka tanpa ada wujud nyata. Peduli dengan sampah bukan diperingati dengan kegiatan peduli sampah penuh seremoni.

Bersih-bersih sampah harus dilakukan menyeluruh, baik di darat maupun di laut. Masyarakat harus perlu diedukasi bahwa sampah yang dibuang ke laut akan berakhir ke darat juga. Maka dilema sampah itu harus diakhiri dengan pola daur ulang sampah.

Kita semua tentu menyadari keberadaan sampah di laut tidak hanya merusak keindahan alam, tetapi dapat menimbulkan persoalan lebih serius. Keberadaan sampah dapat mengganggu bahkan merusak ekosistem makhluk hidup di laut.

Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik kedua di dunia. Sekitar 9,8 miliar kantong plastik digunakan masyarakatnya tiap tahun. Jika sampah-sampah itu berakhir di laut, ia akan menjadi bom waktu masa depan laut kita.

Tim Tajuk








Berita Terkait



Komentar