#pemberdayaanlansia#beritalampura#ekbis

BKL Gesang Lampura Berdayakan Lansia Kembangkan Usaha Tiwul 

( kata)
BKL Gesang Lampura Berdayakan Lansia Kembangkan Usaha Tiwul 
Pembina BKL Gesang di Desa Kemalo Abung, Nusriyah, bersama anggota menumbuk singkong sebagai bahan baku beras tiwul di kediaman salah satu anggota yang dijadikan lokasi sentra produksi di desa setempat, Selasa (30/6/2020). Yudhi Hardiyanto

Kotabumi (Lampost.co): Gerakan tangan para lansia yang terhimpun dalam wadah Bina Keluarga Lansia (BKL) Gesang di Desa Kemalo Abung, Kecamatan Abung Selatan, saat menumbuk singkong sebagai bahan baku membuat beras tiwul itu terlihat penuh semangat.

Hasil jerih payah mereka (lansia, red) di tempat produksi itu setiap hari menghasilkan sekitar 10 kg beras tiwul siap jual. 

"Hasil beras tiwul yang kami produksi selalu habis dibeli para pelanggan," ujar pembina BKL Gesang, Nusriyah, di salah satu kediaman anggota yang dijadikan lokasi sentra produksi tiwul di desa setempat, Selasa, 30 Juni 2020.

Nusriyah mengatakan usaha mandiri pembuatan beras tiwul yang dikembangkan BKL Gesang sejak Februari 2020 lalu, memiliki prospek cerah untuk dikembangkan. Pertimbangan hal tersebut, dapat dinilai dari banyaknya pesanan pelanggan dari wilayah desa setempat, bahkan para pegawai negeri di instansi pemerintahan untuk membeli beras tiwul yang di produksi kelompoknya.

"Permintaan yang sanggup dipenuhi kelompok BKL Gesang hanya sekitar 10 kg tiwul. Padahal, pesanan dari pelanggan lebih dari itu. Apalagi saat pemberlakuan new normal dan semakin tingginya kesadaran masyatakat untuk hidup sehat," kata dia. 

Dia menerangkan produksi pembuatan tiwul dari bahan baku sekitar 25 kg singkong jenis Thailand dihasilkan rata-rata 10 kilo tiwul. Bahan baku singkong dibeli dari lapak atau petani sesuai harga pasar Rp500 per kilo. Sementara beras tiwul dijual dengan harga Rp15 ribu per kilo. 

"Lama pengolahan singkong untuk menjadi beras tiwul sekitar satu minggu. Karena setelah kulit singkong di kupas, singkong mesti dijadikan gaplek dulu dengan di jemur agar kering. Setelah itu, baru ditumbuk dan di ayak yang hasil akhirnya adalah beras tiwul siap konsumsi," kata dia.

Untuk keuntungan bersih dari usaha tersebut, dia mengaku, sekitar 30 persen setelah dikurangi biaya kerja, bahan baku, dan ongkos produksi. Hasil dari keuntungan penjualan itu, selain menjadi saluran berkah bagi para anggota yang bekerja, sebagian masuk menjadi kas BKL Gesang guna membiayai gerak organisasi agar tidak tergantung dari anggaran pemerintah. 

"Kegiatan ini bukan sebatas mengejar keuntungan secara ekonomi bagi lansia. Hal yang paling penting dengan melakukan sesuatu yang produktif, keberadaan para lansia itu ada dan dihargai sebagai bagian dari kelompok masyarakat yang memiliki nilai guna," kata dia.

Dia berharap, pada para generasi muda yang masih memiliki rentang usia yang panjang untuk terus mengembangkan diri dengan berkarya dan menggali serta mengoptimalkan potensi yang ada di wilayah agar memiliki manfaat bagi masyarakat. Berbeda dengan lansia yang memiliki keterbatasan usia. Tujuan mereka berkarya dan menggali potensi yang ada di desa hanya sebagai warisan bagi generasi setelahnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar