#Kesehatan#VirusKorona

Birahi Virus

( kata)
Birahi Virus
Ilustrasi: Medcom.id


Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post

PENULARAN Covid-19 luar biasa! Itulah pesan yang disampaikan Rektor Universitas Lampung Prof. Karomani, akhir pekan lalu, di sela-sela isolasinya di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung. Dia bersama istri tercinta dirawat karena terkonfirmasi positif setelah menjalani uji usap (swab test).

Rektor tidak mengetahui secara persis, kapan Covid-19 itu masuk ke tubuhnya. Memang aktivitasnya selama dua minggu, hilir mudik ke Jakarta karena urusan dinas. “Kesehatan Pak Rektor menurun. Beliau mengeluh sakit flu,” kata pejabat di Rektorat, sebelum dirawat di RS.

Setelah dites cepat (rapid test), lalu dilanjutkan uji usap sebanyak dua kali, kata dia, barulah Karomani diketahui positif. Kini, dia harus diisolasi di rumah sakit. Tidak hanya Rektor Unila yang terpapar Covid-19, banyak pejabat di Lampung mengalami hal serupa. Ingat! Corona bisa menyerang siapa saja, baik orang sehat maupun sakit. Pasien yang sakit juga banyak keluhan beragam.

Dalam penjelasan dari tim medis, seorang terinfeksi corona mengalami bergejala umum, seperti demam, batuk kering, dan tubuh lemas. Belakangan ada gejala lain disertai sesak napas, tenggorokan sakit, batuk darah, menggigil, pegal, linu, nyeri kepala dan perut, diare, serta hidung tersumbat.

Gampang sekali Covid-19 merenggut nyawa anak manusia, apalagi disertai penyakit komorbid (penyerta) seperti hipertensi (darah tinggi), diabetes, penyakit paru-paru (asma, tuberkulosis), penyakit jantung, serta demam berdarah dengeu (DBD). Dalam hitungan hari, virus corona menyerang organ tubuh. Terkadang tidak bisa diselamatkan.

Apalagi di musim pancaroba saat ini, DBD mulai menjangkiti masyarakat. Ketua Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban, mengatakan pasien demam berdarah dengan gejala trombosit rendah dan pegal linu berpotensi terpapar. Badan panas disertai batuk. Ketika dites dan rontgen, pasien sudah dinyatakan positif Covid-19. Waspadai ini!

Diperparah lagi tidak mengindahkan protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun. Bersiap-siaplah ia akan terkontaminasi virus mematikan ini. Dan sangat mengagetkan, ketika  Gubernur Arinal Djunaidi mengumpulkan bupati dan wali kota pada awal pekan ini, terungkap 55% warga Lampung masih abai protokol kesehatan. 

Hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, kata Arinal, mengambil sample 90 ribu orang itu, terungkap juga masyarakat di Lampung belum menyadari pandemi berkategori rendah. Terbukti hasil Operasi Yustisi per September 2020, ditemukan 232.140 pelanggaran protokol kesehatan.

Pekan ini juga Lampung tidak ada lagi daerah yang berzona hijau. Sebagian  berstatus oranye dan kuning. Dua daerah lagi masuk zona merah, yakni Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran. Ada yang keliru dalam menangani pencegahan wabah Covid-19 dalam tiga bulan terakhir.

Apa itu? Mengendurnya semangat pencegahan Covid-19 di kalangan warga dengan memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M). Selain itu, masih ada daerah yang belum menerapkan protokol kesehatan, serta melemahnya aparat dalam menindak para pelanggar di ruang publik.

Ingat! Lampung jadi daerah tujuan wisata bagi masyarakat Jabodetabek, Banten, serta Palembang yang menghabiskan waktu liburan pada akhir Oktober lalu. Sehingga pasien terpapar Covid-19 naik sangat signifikan. Apalagi Pelabuhan Bakauheni tidak ketat menerapkan protokol kesehatan. Warga sangat leluasa lalu lalang di pelabuhan yang beroperasi 24 jam ini. 

***

Data Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengungkapkan ada kenaikan kasus dalam pekan kedua November atau usai liburan panjang, 28 Oktober—1 November lalu. Minggu pertama ditemukan 2.853 kasus. Puncaknya pada 13 November naik sebesar 5.444 kasus.

Kenaikan pasien positif ini juga pernah terjadi usai libur peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus dan 20—23 Agustus. Kini, kenaikan kasus juga dikhawatirkan pada kampanye terbuka pilkada serentak, serta libur cuti bersama pada Desember nanti. Pertanyaannya, apakah pilkada dan libur panjang berdampak kepada perekonomian?

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjawabnya. "Kalau suasana normal, hari libur orang melakukan interaksi kemudian terjadi konsumsi. Namun, yang dilihat saat ini, setiap libur panjang, jumlah Covid-19 bertambah, sedangkan indikator ekonomi tidak membaik, atau konsumsi tidak seperti diharapkan," ungkap Sri Mulyani, Senin (23/11).

Artinya, libur panjang tidak meningkatkan konsumsi bahkan sebaliknya terjadi penyebaran Covid-19 meluas. Saatnya perlu dievaluasi lagi penerapan libur panjang di akhir tahun ini. Belum lagi pelaksanaan pilkada serentak tidak menggerakan ekonomi rakyat, serta kepatuhan pasangan calon belum maksimal mengampanyekan protokol kesehatan.

Seperti pilkada serentak kali ini diikuti 1.468 pasangan calon. Mereka berkampanye di 10 titik pertemuan selama 71 hari. Jika kampanye tentang protokol kesehatan, ada puluhan juta warga patuh memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Agaknya, model kampanye ini tidak terpenuhi karena masih ada yang lalai protokol kesehatan.

Dampak pilkada serentak, janganlah menaikkan jumlah pasien terpapar Covid-19. Nanti bisa dievaluasi pada pekan ketiga Desember. Apalagi masa libur panjang tidak dipangkas. Tunggu saja, jumlah pasien naik berlipat-lipat. Rumah sakit penuh, meninggal dunia kian bertambah!

Belum lagi wacana pada Januari 2021, akan ada tatap muka belajar bagi siswa di sekolah. Perlulah diingatkan setiap tatap muka belajar—perlu prakondisi, waktu yang tepat, skala prioritas, serta koordinasi perlu ditingkatkan antara Pemerintah Pusat dan daerah. Ini sangat penting agar tidak menyesal di kemudian hari.

Kesepakatan tatap muka di sekolah menjadi prokontra, baik kepala daerah maupun orang tua. Mengapa? Karena hingga hari ini vaksin Covid-19 belum disuntikkan ke tubuh anak-anak bangsa. Tidak ada yang bisa menjamin virus berhenti. Yang ada akan menambah petaka bagi rakyat di negeri ini.

Selama ini anak-anak bangsa belajar melalui daring di rumah. Belakangan menambah kejenuhan. Sebab, siswa terjebak dalam rumah, tidak bisa keluar dan bersosialisasi. Semua dibatasi karena Covid-19. Timbul kebosanan teramat dalam yang menjurus pada stres tingkat tinggi. 

Yang jelas, berpikirlah dua kali dalam segala tindakan dan kebijakan yang diterapkan di tengah wabah Covid-19. Virus asal Tiongkok ini, punya birahi mencari manusia yang lengah dengan protokol kesehatan. Tahu-tahu orang banyak terinfeksi Covid-19. Mendikbud, Menag, Mendagri, dan Menkes harus memastikan dulu kesehatan serta keselamatan dari tatap muka belajar ini. Aman ndak bagi semua orang!  ***

Abdul Gafur







Berita Terkait



Komentar