#peternak#ekbis#biosekuriti

Biosekuriti Tiga Zona, Cara Layer Lampung Wujudkan Telur Sehat

( kata)
Biosekuriti Tiga Zona, Cara Layer Lampung Wujudkan Telur Sehat
Peternakan ayam petelur di Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur. LAMPUNG POST/DIAN WAHYU KUSUMA


Enam peternak di Lampung meraih nomor kontrol veteriner (NKV) untuk mendukung produksi telur sehat.

SUBADIYO, peternak atau layer di Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur, mengaku dapat tidur lebih nyenyak. Ia tidak lagi waswas memikirkan berapa ekor ayam yang akan mati setiap hari setelah secara bertahap menerapkan biosekuriti tiga zona di peternakan miliknya sejak beberapa waktu lalu. “Kami tertolong saat ayam semua sehat,” ujarnya.

Pada Juni lalu, tepatnya tanggal 20, ia secara resmi menerima sertifikasi nomor kendali veteriner (NKV) dari Kementerian Pertanian setelah menerapkan biosekuriti tiga zona secara menyeluruh. Artinya, produksi layer Subadiyo telah memenuhi persyaratan standar kesehatan dan sanitasi sebagai kelayakan dasar jaminan keamanan pangan asal hewan pada unit usaha pangan asal hewan.

“Saya ingin, peternak tradisional mulai berubah, paling tidak ya mirip-mirip (NKV),” kata dia, Senin (22/7/2019).

Subadiyo adalah satu dari enam layer di Provinsi Lampung yang sudah menerapkan mekanisme keamanan pangan bagi ayam-ayamnya sesuai standar yang ditetapkan badan kesehatan pangan dunia atau FAO. Ia mempekerjakan 5 perempuan dan 3 laki-laki, 1 tenaga kebersihan, dan 1 tenaga kesehatan.

Sebelum menerapkan biosekuriti tiga zona, dalam satu hari setidaknya ada lima ekor dari 30 ribu ayam yang diternakkan mati. Angka tersebut bisa saja jauh lebih banyak kalau tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Subadiyo menjelaskan tentang biosekuriti tiga zona yang sudah diterapkan di layer miliknya. Secara umum, prinsip dari biosekuriti tiga zona adalah tiga cakupan zona aman, yakni merah, kuning, dan hijau. Zona merah meliputi area di luar peternakan (banyak bakteri dan kuman). Zona kuning sebagai transisi atau antara daerah kotor dan bersih berikut aktivitasnya bagi pekerja, tempat gudang, dan kantor. Sementara zona hijau adalah zona utama dari peternakan yang terdiri atas kandang dan ayam yang dipelihara.  

Peternakan ayam milik Subadiyo berada di tengah kebun karet dengan mengusung konsep kandang terbuka. Bangunannya terbilang baru, beratap spandeks, seperti huruf W, satu bangunan terdiri atas dua jalur. Isi per sangkar terdiri atas satu ayam. Total isi satu kandang yakni 4.700 ekor. 

Saat memasuki gerbang pertama, pengunjung akan mendapati cat warna merah di setiap sisi temboknya, ini artinya pengunjung berada di zona merah, siapa pun boleh berada di zona itu. Untuk masuk ke zona kuning, pengunjung diharuskan mengganti alas kaki dengan sandal yang disediakan di rak. Lalu, pengunjung diarahkan melewati pintu pejalan kaki, yang di sebelahnya merupakan jalur khusus kendaraan mobil.

Saat masuk zona kuning, kaki akan menyetuh genangan air bercampur desinfektan. Masuk lebih dalam, terdapat besi panjang yang ketika di sentuh kaki atau ban kendaraan, secara otomatis butiran halus desinfektan menyemprot pengunjung. Pengunjung pasti basah terkena rintikan air desinfektan.  Penyemprotan itu bertujuan menghilangkan kuman yang terbawa oleh pengunjung.

Di zona kuning tersebut terdapat meja dan kursi santai, kantor, gudang telur, dan kendaraan bermotor. Lalu, saat memasuki zona hijau, yakni kandang ayam, siapa pun harus mengganti sandal yang sudah disediakan. Kemudian, masuk ke ruang zigzag yang juga terdapat penyemprot desinfektan secara otomatis. Selanjutnya, di zona hijau pengunjung harus menyemprotkan kembali pakaian dan tubuh secara manual dengan botol berisi desinfektan yang ada di sebelah tangga.

Subadiyo mengatakan setelah bergabung bersama Pinsar Petelur Nasional (PPN) Lampung merasakan perubahan setelah menerapkan aturan tersebut. Di zona hijau misalnya, aroma kandang ayam tidak lagi menyengat. Lalat pun kalau ada, masih bisa dihitung dengan jari karena jumlahnya sangat sedikit.

Melalui PPN, Subadiyo dapat bertemu dengan peternak lainnya untuk berkumpul dan bersosialisasi tentang penyuluhan obat maupun kegiatan pendampingan. “NKV ini tantangan, ke depan lebih berat, kami ingin ada perubahan,” kata dia.

Subadiyo mengaku tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk menerapkan biosekuriti tiga zona. Ia menyiapkan uang hingga Rp3,5 miliar untuk membeli tanah 7.500 meter persegi dan membuat kandang sekaligus menggunakan keamanan pangan tiga zona tersebut.

Ia memilih menginvestasikan uang sebanyak itu daripada menangisi modal karena ayamnya ludes terkena avian influenza. Menurut dia, tindakan tersebut merupakan langka antisipasi agar peternakannya tidak terserang virus AI.

Saat ini, Subadiyo memiliki dua lokasi layer, salah satunya di Desa Tanjungintan, Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur, yang sudah menerapkan biosekuriti tiga zona. Sementara satu lokasi layer meski sudah lima tahun beroperasi, tetapi belum menerima sertifikat NKV.

Pada Mei 2019, satu farm Subadiyo sudah mulai menerapkan NKV. Ia dibantu oleh tim pendamping dari Organisasi Pangan Dunia (FAO) dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan PPN Lampung. 

“Terlihat sekali bedanya pada kesehatan ayam, sekarang sebagai pemilik merasa nyaman, penyakitnya enggak ada. Sekarang tidur saya jadi lebih nyenyak.” 

 

Di lahan 7.500 meter persegi, Subadiyo memelihara 20 ribu ayam jenis sabron. Pada usia 23 hari, ayam-ayam itu mulai bertelur. Usia 24—28 minggu merupakan umur puncak ayam bertelur ayam jenis sabron itu. “Sekarang setiap hari tidak ada yang mati, lalat juga tidak banyak,” kata dia.

Ayam rentan terkena penyakit saat terjadi pergantian cuaca dari musim hujan ke kemarau atau sebaliknya. “Kalau ayam kena batuk pilek, pemberian vitaminnya yang ditambah,” ujarnya. 

Sekarang pekerja Subadiyo makin rajin merawat kandang. Ada yang menyemprot desinfektan di bagian bawah dan atas kandang pada sore hari. Penyemprotan rutin di sore hari, antibiotik hanya digunakan saat pengobatan. 

 

Tidak Murah

Tidak semua layer mau menerapkan biosekuriti tiga zona tersebut. Alasan utamanya, investasi yang tidak sedikit untuk membuat kandang ayam yang memenuhi standar tersebut.  

Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Provinsi Lampung Jenny Soelistiani menuturkan agar mendapat sertifikat NKV, peternak rata-rata membutuhkan dana hingga Rp100 juta untuk penerapan biosekuriti tiga zona. Dana sebanyak itu dialokasikan untuk membuat pagar, sistem semprot, sandal, ruang mandi, ruang ganti pakaian, gudang telur, ruang bangkai ayam, siring, galvalum, besi, dan investasi kandang terbuka.

Harapannya virus dan bakteri makin menjauh dari kandang. Kandungan antiboitik di pakan juga tidak ada lagi.

Menurut dia, masalah untuk NKV dan biosekuriti tiga zona bukan pada besar dan kecilnya investasi, melainkan perubahan sistem manajemen layer. Ia menegaskan, beternak ayam bukan lagi iseng-iseng atau hobi, tetapi harus ada perhitungan yang matang.

“Tidak ada kendala peternak tradisional untuk menerapkan biosekuriti tiga zona karena pada prinsipnya adalah mensterilkan kandang-kandang, kalau tidak ada kontaminasi, kandang aman-aman saja,” ujar Jenny.

Prosedur standar yang harus dilaksanakan seperti pekerja harus mandi, tidak boleh asal masuk kandang sehabis dari luar zona merah, dan sebagainya.

Menurut dia, peternak milik pribadi mestinya harus bisa lebih dari milik industri besar, seperti pembuangan kotoran ayam harus tiap hari supaya tidak bau. “Kalau peternak milik sendiri harusnya bisa lebih bagus. Sebab, kandang milik perusahaan ada pekerja yang dibayar, kadang pekerja ada masa jenuh atau malasnya,” kata dia.

Berbeda dengan Tumino, layer di Lampung Timur. Sebenarnya, pada 2003, ia sempat jatuh sakit karena kelelahan harus mengubur belasan ekor ayam yang mati setiap hari gara-gara virus AI. Namun, upaya pembuatan kandang berkonsep biosekuriti tiga zona masih belum bisa dilakukan. Alasannya, Tumino masih butuh biaya untuk menyekolahkan anak sehingga investasi ratusan juta rupiah dirasa berat untuk menerapkan konsep tersebut. Ia berencana melaksanakannya kalau semua anaknya sudah lulus sekolah.  

KANDANG AYAM. Peternakan ayam petelur yang milik Tumino yang belum memiliki sertifikat nomor kendali veteriner, di Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timur.  LAMPUNG POST/DIAN WAHYU KUSUMA

 

Ketika memasuki kandang ayam di peternakan milik Tumino, ada perbedaan mencolok dibanding yang dikelola Subadiyo. Bau menyengat feses ayam langsung tercium. Kandang ayam milik Tumino juga berbeda. 

Dia membuat kandang ayam dari bahan bambu. Feses atau kotoran ayam pun masih banyak yang menempel di bambu dan menumpuk di bagian bawah kandang. Kuatnya aroma feses ayam begitu menusuk hidung sehingga pengunjung yang mau masuk ke kandang perlu memakai masker penutup hidung. Pagar utama juga langsung menghadap layer, yang seharusnya di dalam konsep biosekuriti tiga zona, ada di zona hijau.

Kandang ayam milik Tumino berukuran 6 x 35 meter. Ia memiliki lima kadang yang populasinya sekitar 1.200 ayam per kandang. Tumino memang tidak membersihkan feses ayam setiap hari, tetapi tiga sampai tujuh hari sekali.

“Bergantung banyaknya kotoran, kalau sudah banyak kami bersihkan,” kata dia.

Rumah Tumino hanya berjarak 100 meter dari kandang ayam. Di sebelah kandang ada bangunan yang digunakan untuk gudang menyimpan telur dan tempat mencampur pakan. Dalam satu hari ia menghabiskan 2 ton jagung.

Tumino mengatakan bisa memanen 1,5 kuintal telur dalam sehari. Ia dibantu tujuh tenaga kerja untuk membersihkan kandang, memberi pakan, dan memanen telur. Ia mencampur sendiri pakan yang terdiri atas konsentrat, jagung, pasir laut, dan masamix, sedangkan vitamin diberikan pada campuran air minum untuk ayam. 

Jarak antara kandang dan tanah mencapai 1 meter. Kondisi ayam dapat dilihat dari feses ayam. Kalau sudah berwarna hijau artinya kondisi ayam tidak sehat, bisa batuk, pilek, atau masuk angin. Kalau sudah begini, Tumino memberi obat.  “Macam-macam obatnya,” ujarnya. 

Tumino mengaku hingga kini belum bergabung dengan PPN Lampung. Ia berhalangan hadir saat ada pertemuan dengan PPN Lampung. Namun, ia bertekad untuk ikut asosiasi tersebut nantinya.

 

Usul Kampung Layer

Ketua Dewan Penasihat PPN Lampung Syahrio Tantalo menuturkan Kecamatan Purbolinggo, Lampung Timut punya potensi dibentuk kampung layer, salah satunya ada ratusan layer di wilayah itu. Menurut dia, PPN Lampung sudah mengusulkan ke Pemerintah Kabupaten Lampung Timur untuk mencanangkan kampung layer di Kecamatan Purbolinggo. 

Syahrio Tantalo menilai untuk pengendalian penyakit di farm semestinya biosekuriti tiga zona itu diwajibkan. Namun sayangnya, pemerintah belum berani karena ketika statusnya wajib, ada konsekuensi dari pemerintah untuk melakukan pembinaan, pendidikan. Selain itu, harga jual yang berbeda antara hasil telur yang sudah NKV dan yang belum memperoleh sertifikat. Syahrio mengingatkan untuk menghadapi industri 4.0, layer mau tidak mau harus memiliki NKV.

Ia memahami dengan tidak menerapkan biosekuriti tiga zona, bukan berarti usaha layer tradisional serta konvensional akan kalah bersaing dan gulung tikar. Perbedaannya adalah seperti pada kondisi kandang yang berbau menyengat bila belum mendapatkan NKV. Lalu, apabila ada wabah flu burung, peternak yang belum menerapkan NKV kemungkinan sulit bertahan. 

Saat ini layer yang menerima NKV di Lampung sudah di level 2. Artinya, hasil telur dari layer sudah bisa dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Strategi lain untuk mendorong biosekuriti tiga zona lebih menarik adalah dengan mendorong pemerintah agar mengeluarkan kebijakan supaya pusat perbelanjaan modern misalnya, membeli telur yang sudah NKV.

 

Mengurangi Risiko AMR

Ada hal lain yang berkaitan dengan penerapan biosekuriti tiga zona, yakni menekan potensi risiko resistensi antimikroba atau dikenal sebagai AMR. Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan isu meminimalisasi AMR bukan hanya di Lampung, melainkan juga di seluruh Indonesia. Lampung ia nilai termasuk kategori layer luar Jawa yang salah satu pelakunya benar-benar ingin menerapkan anti-AMR. “Biosekuritinya sudah sangat bagus,” ujarnya.

Patut dipahami penerapan NKV tersebut berujung pada menekan potensi AMR karena penggunaan antibiotik di kandang akan berkurang. Industri lain, seperti obat, tidak perlu khawatir karena ayam masih memerlukan vitamin untuk memperkuat daya tahan tubuh ternak.

Idealnya, menurut Syahrio, dalam satu layer ada satu dokter hewan yang bertanggungjawab, misalnya saat pemberian antibiotik berapa dosis yang perlu diberikan kepada ternak ayam tersebut. 

Selama ini, antibiotik banyak digunakan untuk hewan secara intensif dengan tujuan pengobatan, pencegahan penyakit, bahkan pemacu pertumbuhan. Andriani dkk (2018) menyarankan pemotongan ternak untuk konsumsi harus memperhatikan withdrawal time (waktu henti obat) dari antibiotik yang diberikan.

Namun pada kenyataannya tidak demikian, sehingga residu antibiotik masih sering ditemukan pada produk yang akan dikonsumsi.

Andriani dkk (2018) di laboratorium Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) pernah melakukan penelitian terhadap sampel daging ayam untuk empat jenis antibiotik dari golongan Aminoglikosida, Makrolida, Beta Laktam (Penisilin), dan Tetrasiklin. Hasilnya, masih ditemukan adanya residu antibiotik tersebut pada daging ayam yang diuji. Andriani dkk (2018) juga menyebutkan tren hasil positif uji residu keempat golongan antibiotik terhadap sampel daging ayam mengalami penurunan setiap tahunnya.

Saat ini, pemerintah melalui UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan mulai melarang penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan yang tertuang dalam Pasal 22 ayat (4) c. 

Regulasi tersebut menjadi acuan dan dasar hukum bagi pemerintah dalam membatasi penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan sehingga memberikan dampak positif bagi penurunan residu antibiotik pada produk pangan asal hewan khususnya daging ayam. 

Berdasarkan hasil pengujian terhadap residu antibiotik golongan Aminoglikosida dan Tetrasiklin pada sampel daging ayam dapat diamati tren penurunan selama tiga tahun berturut-turut sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2017 (Andriani dkk, 2018).  Hal ini mengindikasikan penggunaan antibiotik golongan Aminoglikosida dan Tetrasiklin semakin berkurang tiap tahunnya, meski masih ditemukan sampel yang mengandung residu antibiotik tetrasiklin pada tahun 2017 yang diteliti Andriani dkk (2018).

National Technical Advisor-FAO ECTAD Indonesia, Alfred Kompudu, menuturkan pangan manusia yang bebas dari antibiotik bisa dimulai dari telur dan daging ayam. Menurut FAO Indonesia, hasil survei London School of Hygiene and Tropical Medicines tahun 2012, penggunaan antibiotik pada hewan mencapai 70%. Sementara pada manusia hanya 30% sehingga perlu alternatif penggunaan antibiotik pada ternak untuk menekan laju resistensi antibiotik. Misalnya, pada unggas ada antibiotik yang sudah tidak diperbolehkan lagi, yakni yang digunakan untuk pertumbuhan unggas. Sementara produknya berupa daging ayam dan telur, ikut dimakan manusia. “Bagaimana kalau ada residu di dalamnya,” ujar Alfred.

Adapun untuk layer di Lampung yang mulai menerapkan biosekuriti tiga zona, dapat membuat penggunaan antibiotik menurun sehingga pangan yang dikonsumsi oleh manusia aman dari batas bawah ambang batas.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Lampung Kusnadi menuturkan pihaknya memiliki visi makanan di Lampung bisa aman, sehingga pengunjung luar kota yang ada di Lampung tidak khawatir mengonsumsi makanan. Supaya bahan pangan Lampung aman dari cemaran kimiawi fisik dan biologis, ia berkoordinasi dengan pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kewenangan di bidang pangan dengan membentuk dan mengaktifkan jejaring keamanan pangan. “Tim satuan petugas pangan bagian dari jejaring tersebut,” ujarnya.

Dorong Peran Pemerintah

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian diakui Ketua PPN Lampung Jenny Soelistiani, belum banyak bersinggungan langsung terhadap usaha ternak ayam. Menurut dia, peran pemerintah saat ini hanya pada pembebasan pajak pertambahan nilai (PPN) pakan ternak dari jagung meski kalau tidak diterapkan, layer akan kewalahan membeli. Sementara untuk pakan ternak DOC, masih belum ada bantuan. "Di Purbolinggo, kami buat klaster, pemerintah  bisa ambil bagian, misal bantuan vaksinasi untuk klaster 100 peternak ayam atau desinfektan iodin 100 liter, itu sudah membantu peternak," kata Jenni. 

Berdasarkan data PPN Lampung, ada 5,5 juta ayam di Lampung dengan estimasi ayam produktif 4 juta ekor, sisanya nonproduktif, dengan produksi sekitar 200 ton telur ayam per hari. Sebanyak 20 persennya dikirim ke Jakarta.

Jenni yakin ke depan NKV bisa menjadi senjata bagi peternak untuk mendapatkan pendapatan yang lebih besar lagi. Belum lama ini, ia sudah mendapat tawaran dari perusahaan multinasional makanan cepat saji untuk meminta profil perusahaan layer dan salah satu syaratnya adalah sertifikat NKV. Menurut dia, meski harga jual telur ayam yang sudah NKV masih sama dengan yang belum NKV. Setidaknya produk telur yang sudah NKV bisa lebih dipilih oleh perusahaan.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menyarankan agar asosiasi peternak mengomunikasikan kesulitan dari para anggota sekaligus pemerintah menyiapkan reward bagi layer yang berhasil menerapkan biosekuriti tiga zona. Konsep lain adalah pemberian subsidi bagi layer yang sudah maju misalnya untuk pembuatan kandang. 

“Yang penting ikut asosiasi, asosiasi yang bisa dipercaya,” kata dia. 

I Ketut Diarmita pada Kamis (20/6) menyerahkan Sertifikat NKV untuk enam layer di Lampung. Yakni Kusno Waluyo (Lampung Timur);  Subadiyo (Lampung Timur),  Roni Agustian (Lampung Selatan), Ivan Purnama Teja (Lampung Timur), Alfredo Tanto (Lampung Selatan) dan Ruskin (Lampung Selatan). 

Peluang lain di bisnis layer adalah dari sisi asuransi peternakan ternak ayam karena di masa mendatang pebisnis mulai melirik ke white meat (daging putih) dibanding red meat (daging merah).  “Karena sapi perlu lahan luas, sedangkan ternak ayam tidak,” ujarnya. Konsep yang dapat diterapkan pun dapat berupa kemitraan antara pebisnis besar yang membantu pebisnis kecil, bukan malah yang besar memakan yang kecil. Di sisi lain, telur herbal juga akan berpotensi besar di masa mendatang sehingga peternak tidak perlu takut untuk menerapkan biosekuriti tiga zona, supaya telur sehat bisa tercipta di masyarakat lewat kampung layer.  

  

 

  

 

 

 

Dian Wahyu Kusuma






Berita Terkait



Komentar