#kelahiran#biayamahal

Biaya Persalinan Mahal, Istri dan Anak Tertahan di Klinik

( kata)
Biaya Persalinan Mahal, Istri dan Anak Tertahan di Klinik
Jumlah biaya yang harus dibayarkan untuk perawatan ibu dan anak di salah satu klinik di Way Kandis. Dok.


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Nasib memilukan harus diterima Leti Safari, warga Way Kandis, bersama bayi yang dilahirkan secara cesar sudah beberapa hari tertahan di salah satu klinik di Way Kandis. Hal itu terjadi karena suaminya, Agung Akbar (26), kesulitan membayar biaya persalinan yang mencapai Rp16,5 juta.

Agung mengungkapkan awalnya sang istri dibawa ke klinik tersebut, tapi kemudian dirujuk ke RS DKT Bandar Lampung karena pihak klinik tak sanggup membantu proses kelahiran. Istrinya pun melahirkan cesar di RS DKT pada Jumat, 9 Oktober 2020.

"Jadi kan kalau lahiran normal saya sanggup bayar, jadi enggak kepikiran bakal cesar. Tiba-tiba istri saya dirujuk ke RS DKT dan alhmadulillah operasi lancar. Saya juga bingung dengan proses rujukannya, tiba-tiba di sana saya disodorin surat persetujuan operasi cesar. Namanya lagi bingung, saya setujui yang penting istri anak selamat," ujarnya, Kamis, 15 Oktober 2020.

Istrinya sempat dirawat satu hari di RS DKT dan pada Sabtu, 10 Oktober 2020, dibawa ke klinik dengan alasan akan dirawat. Namun ketika hendak pulang dan membayar biaya persalinan, ia kaget dengan besaran nominal Rp16,5 juta. Nominal tersebut juga tak dirinci oleh klinik.

Agung Akbar pun berinisiatif mencari besaran biaya operaai cesar di RS DKT dan ia mendapatkan setruk pembayaran beserta rincian detail biaya. Ternyata di RS DKT biaya kelahiran sang anak hanya Rp5,6 juta. "Biaya yang Rp5,6 juta itu juga dibayar sama klinik tanpa sepengatahuan saya," ujarnya.

Ia pun meminta penjelasan mengapa biaya membengkak jadi Rp16,5 juta. Namun, pihak klinik tidak transparan dan hanya menyodorkan nominal tarif dengan 10 item biaya/tindakan tanpa rincian tarif per itemnya.

Ia pun merasa janggal, ketika biaya operasi cesar lebih murah daripada biaya di klinik tersebut. "Saya sudah minta transparan dan minta kekurangan, tapi enggak bisa. Istri sama anak saya enggak bisa pulang sebelum lunas. Istri saya juga nangis di sana, bingung kayak mana, kerjaan saya juga serabutan dulunya sopir angkot, sekarang karena Covid apa saja saya kerjakan," katanya.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar