#tenggelam#beritalamsel#peristiwa

Berujung Ribut, Polisi Mediasi Keluarga Balita Tewas Tenggelam

( kata)
Berujung Ribut, Polisi Mediasi Keluarga Balita Tewas Tenggelam
Mediasi keributan dua keluarga yang anaknya menjadi korban tenggelam. Foto: Dok

Kalianda (Lampost.co): Kematian Azka, bocah berumur 1,8 tahun yang tenggelam dikolam belakang rumahnya, Dusun 2 Desa Way Sidomukti, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, Kamis, 20 Februari 2020 sekitar pukul 15.00 WIB menimbulkan keributan.

Kedua orangtua korban, Mailatul Jamilah (ibu) warga Dusun 2, Desa Way Sidomukti dan Agung Dita (ayah) warga Desa Sri Pendowo yang telah bercerai itu nyaris bentrok disela pemakaman balita malang tersebut.

Kondisi yang kian memanas itu membuat aparatur desa setempat bergerak cepat menghubungi Polsek Penengahan, hingga akhirnya Kapolsek Penengahan AKP Hendra Saputra bersama Kanit Binmas Aipda Nurkholis dan Aipda Ansori turun ke lokasi untuk melakukan mediasi antara kedua keluarga tersebut.

"Kejadian itu berawal saat Agung bersama keluarganya akan mengambil jenazah bocah malang itu untuk dimakamkan secara Hindu (Ngaben). Namun keluarga Mila menolak dan ngotot dimakamkan secara Islam, karena sejak kecil sudah diasuh oleh keluarga Mila," kata Kapolsek Penengahan AKP Hendra Saputra kepada Lampost.co,  Jumat, 21 Februari 2020.

Kapolsek menjelaskan keributan antara kedua belah pihak berakhir damai. Perdamaian terjadi setelah pihak kepolisian melakukan mediasi dan memberi pnjelasan terhadap keluarga Agung.

"Kasus tersebut sudah ditangani dan berakhir damai sesuai dengan permintaan keluarga Mila. Akhirnya bocah tersebut dimakamkan di TPU Desa Way Sidomukti pada pukul 18.30 WIB," ujar AKP Hendra Saputra.

Aska bocah malang itu sebelum ditemukan tewas tenggelam sedang bermain dibelakang rumah seorang diri, sedangkan ibu korban tengah asik mengobrol bersama temannya di depan rumah tanpa mengetahui jika anak satu-satunya tersebut sudah berada disekitar kolam.

"Bocah malang itu diketahui oleh warga sudah mengambang di kolam," kata Supardi, kerabat korban warga Desa Way Sidomukti, Kecamatan Ketapang.

Menurut dia, biasanya setiap sore kolam tersebut ramai dikunjungi oleh anak-anak yang hendak belajar mengaji. Selain teduh, diatas kolam tersebut terdapat saung untuk lesehan.

"Saung yang dibangun diatas kolam itu biasanya ramai pada sore hari. Ramai anak anak pada belajar ngaji. Jadi saat Aska bermain dikolam itu kondisinya masih sepi,  karena masih jam 14.30 WIB," ujarnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar