#berlakuadil#nuansa

Berlaku Adil

( kata)
Berlaku Adil
Ilustrasi. Foto: Dok/Google Images


PERISTIWA yang sempat viral di media sosial baru-baru ini adalah seorang anggota DPR yang dilantik dengan membawa ketiga istrinya ke Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, (1/10) lalu.

Menjadi sorotan karena tak lazim dari kebiasaan secara umum. Biasanya anggota yang dilantik akan didampingi seorang istri atau suami beserta anak serta kerabat.

Lantas muncul beragam tanggapan netizen terhadap hal itu, terutama soal poligami dan sikap adil. Dalam beberapa keyakinan, termasuk Islam, poligami dibenarkan dengan syarat yang tidak mudah dijalani, yakni berlaku adil. 

Memang, ada perkara yang kita anggap biasa dan sepele, tetapi ternyata itu termasuk kezaliman yang sangat besar. Sebaliknya, bisa jadi sesuatu yang kita anggap sebagai nilai keadilan yang sangat tinggi, namun ternyata masih ada keadilan lain yang lebih tinggi dan lebih berhak untuk dibela.

Adil adalah meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya. Lawan dari adil adalah zalim, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. Allah memerintahkan setiap muslim untuk selalu bersikap adil. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat.” (QS An Nahl: 90).

Setiap muslim hendaknya selalu bersikap adil terhadap siapa pun, bahkan terhadap non-muslim sekalipun (QS Mumtahanah: 60). Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil. Allah berfirman, “Dan hendaklah kamu berlaku adil. Sesungguhnya, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS Al Hujurat: 9).

Berlaku adil menjadi keutamaan. Sebab, pemimpin yang adil akan mendapatkan naungan dari Allah di hari kiamat nanti. Sebagaimana dalam hadis yang masyhur Rasulullah bersabda, “Tujuh golongan yang Allah akan naungi dengan naungan-Nya di hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah mereka berkumpul dan berpisah karena Allah, sorang laki-laki yang dirayu perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan tetapi dia mengatakan ‘saya takut pada Allah’, seorang yang bersedekah sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya, dan seorang yang berzikir kepada Allah seorang diri dan air matanya bercucuran,” (HR Bukhari).

Pemimpin di sini maknanya luas, bisa pemimpin negara, pemimpin wilayah, pemimpin organisasi tertentu, bahkan juga termasuk pemimpin dalam keluarga dan pemimpin dirinya sendiri (personal).

Begitu juga dengan tugas sebagai hakim, mereka dipercaya sebagai orang yang sangat bijak dan memiliki kejujuran tinggi dalam melaksanakan tugasnya. Hakim memikul tanggung jawab besar terhadap nilai-nilai keadilan yang diharapkan oleh masyarakat.

Sri Agustina







Berita Terkait



Komentar