PenusukanSyekhalijaber

Berkas Alfin Dikembalikan, Polresta Periksa Ulang Saksi

( kata)
Berkas Alfin Dikembalikan, Polresta Periksa Ulang Saksi
Foto. Dok Lampost.co


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandar Lampung memulangkan (P-19) berkas perkara tersangka penikaman Syekh Ali Jaber, dengan tersangka Alfin Andrian.

"Iya benar sudah kami terima, berkasnya P-19," ujar Kasatreskrim Polresta Bandar Lampung Kompol Resky Maulana, Selasa, 29 September 2020.

Menurutnya, saat ini Polresta langsung melengkapi hasil teliti dan pentunjuk dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), agar segera dinyatakan lengkap dan segera disidangkan.

"Kita segera lengkapi baik petunjuk materi dan formil, tapi detailnya itu teknis penyidikan," kata Alumnus Akpol 2006 itu.

Namun salah satu point teliti jaksa yang dipaparkan Resky, yakni ada permintaan pemeriksaan atau keterangan saksi tambahan, dari beberapa saksi yang sudah diperiksa.

"Ada beberapa saksi yang kita mintai lagi keterangan, BAP tambahan," paparnya.

Disinggung apakah, ada jadwal BAP tambahan untuk Syeh Alijaber, Resky memaparkan tidak ada hal itu dari petunjuk JPU.

"Sementara tidak ada saksi tambahan, masih yang lama dan (Syekh Ali Jaber), belum ada rencana pemanggilan ulang, udah cukup," tambahnya.

Setidaknya, ada 21 saksi yang diperiksa dalam perkara ini, termasuk Ayah pelaku M. Rudi, dan ibu pelaku Yayat Rohayati, panitia penyelenggara wisuda hafiz quran, dan saksi lainnya.

Alfin Andrian menikam Syekh Ali Jaber di Masjid Falahudin, pada 13 September 2020. Pelaku dijerat dengan pasal Pasal 340 KUHP jo Pasal 53 KUHP tentang percobaan Pembunuhan Berencana dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun Subsider.

Pasal 338 KUHP jo Pasal 53 KUHP tentang Percobaan Pembunuhan dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun Subsider.

Pasal 351 ayat (2) KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan luka berat, dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan Pasal 2 ayat (1) UU Darurat no 12 Tahun 1951 tentang tanpa hak menguasai dan membawa senjata tajam, dengan ancaman pidana penjara setinggi-tingginya 10 tahun. 

Winarko







Berita Terkait



Komentar