#DianWahyuKusuma#Nuansa#Bantuan

Berharap Bantuan Datang

( kata)
Berharap Bantuan Datang
Ilustrasi Pixabay.com

Dian Wahyu Kusuma
Wartawan Lampung Post

DALAM kondisi pandemi Covid-19, saya dan keluarga memang menghindari ke luar rumah, kecuali ada urusan untuk membeli bahan pangan selain rutinitas ke kantor tentunya. Pada Rabu (22/4) siang, saya mencoba menyusuri Jalan ZA Pagaralam, Bandar Lampung, karena ada suatu urusan.

Saya melihat sepanjang jalan itu 18 warga tampak bersama gerobak warna-warni tampak beristirahat. Ada satu dua gerobak yang tampak mengajak satu anak. Ada satu gerobak lagi yang membuat saya tampak kagum.

Bapak paruh baya penjual minuman botol dingin dengan gerobaknya tetap bersemangat mendorong gerobak untuk dijajakan kepada konsumen. Ia tampak yakin dengan penjualan minumannya, meski jalan raya tak ramai seperti biasanya.

Usai melewati flyover, saya melanjutkan ke Jalan Teuku Umar. “Manusia gerobak” itu jumlahnya makin banyak, sampai 20 orang. Kondisi ini bisa jadi terkena pengurangan pekerjaan di pabrik atau memang ingin sengaja mencari belas kasih pengguna jalan raya agar mendapat bantuan. Siapa tahu ada orang baik mengulurkan bantuan.

Mungkin wajar, manusia gerobak ini banyak lagi kuantitasnya di dalam kota. Sejak wabah korona masuk ke kota, aktivitas warga menjadi terbatas. Bagi karyawan yang bisa bekerja di rumah dan memang pekerjaannya bisa dalam jarak jauh, itu tak menjadi masalah. Tapi, ada warga yang kehilangan pekerjaannya akibat wabah penyakit yang belum tuntas pergi.

Belum lama ini, warga Serang, Banten, Yuli (43 tahun), meninggal dunia pada Senin (20/4) usai dikabarkan kelaparan dan tak makan selama dua hari. Yuli bersama empat anak dan suaminya yang seorang pemulung terpaksa hanya meminum air galon untuk mengganjal perut lapar mereka.  (Kompas.com).

Tapi, setelah diberitakan, pemerintah kota setempat telah memberi bantuan kepada Yuli dan keluarga. Jangan sampai ada keluarga lagi yang kelaparan di kala pandemi Covid-19 masih mengusik.

Dalam status WhatsApp, pengelola rumah sosial, menuliskan pesan yang mengharukan. Isinya, “Alhamdulillah, sejak diberlakukan #dirumahaja semua keluarga bisa berjualan di rumah. Minggu ke-1 jualan emas, minggu ke-2 jualan TV, minggu ke-3 jualan kulkas, minggu ke-4 kejual semua laku keras”.

Pemilik rumah sosial itu bercerita, sejak kampanye #dirumahaja, bantuan sosial khususnya bahan pangan makin berkurang. Alasannya, donatur enggan keluar rumah. Tapi, ada cara lain untuk memberi bantuan, seperti mentransfer sejumlah dana ke rekening pemilik rumah sosial itu untuk dibelikan bahan pangan bagi anak panti. Semoga orang dermawan masih bertebaran di muka bumi. Selamat berbagi.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar