#pelecehanseksual#asusila#pencabulan

Surat Pengakuan Terbuka Korban Pemerkosaan Guru SMP Beredar

( kata)
Surat Pengakuan Terbuka Korban Pemerkosaan Guru SMP Beredar
Ilustrasi Medcom.id


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Beredar di pesan berantai aplikasi whatsapp, sebuah surat pernyataan yang diduga ditandatangani DA (15), korban pelecehan seksual seorang guru salah satu SMP di Bandar Lampung


Dalam surat pernyataan yang diterima Lampost.co itu, tertulis beberapa poin yang ditandatangani di atas materai 10.000. Poin pertama, korban mengakui kesalahannya karena melanggar hukum.

Baca juga: Guru Pemerkosa di SMP Bandar Lampung Pernah Jadi Begal Payudara

"1. Menjadi wanita yang menjual diri kepada pria yang membayar. 2. Menjadi penyambung lidah (mucikari) untuk teman-teman," tulis DA di atas kertas secara manual.

Poin kedua, isi surat itu DA menyebutkan tiga nama teman wanitanya yang Ia promosikan. Mengejutkan, karena ketiganya masih berstatus pelajar SMP dan SMK.

"Dan saya bersaksi bahwa nama-nama di bawah ini adalah wanita yang saya promosikan. Adapun nama-nama tersebut adalah Na, Nu, IPS," tulisnya.

Lalu, surat itu ditutup dengan sebuah janji DA untuk tidak mengulangi perbuatannya dan siap menerima sanksi jika terbukti melanggar. Surat ditandatangani di Bandar Lampung, 10 Maret 2022.

"Dengan ini saya berjanji untuk tidak mengulangi dan melanjutkan kegiatan ini. Apabila saya mengulangi dan melanjutkan maka saya siap diberikan sanksi sesuai aturan dari lembaga dan instansi terkait,” tulisnya.

Sementara itu saat dikonfirmasi mengenai surat yang diduga menjadi salah satu barang bukti kasus pencabulan seorang oknum guru SMP (HM) tersebut, Kapolsek Kedaton, Kompol Atang Syamsuri mengaku belum mengetahui terkait adanya surat pernyataan yang dibuat korban tersebut.

"Surat yang mana, saya belum tahu mengenai hal itu," katanya, Kamis, 17 Maret 2022.

Atang menjelaskan saat ini penyidik fokus pada kasus pencabulan yang dilakukan oleh oknum guru. Mengenai surat pernyataan yang tersebar, Ia mengatakan belum bisa dikaitkan karna berbeda pidana.

"Namun bila dikatakan dia jual diri, itu hal lain karena saat ini korban masih di bawah umur dan di bawah perlindungan orang tua," ujarnya.

Senada dengan Polsek Kedaton, baik Satreskrim maupun PPA Polresta Bandar Lampung memilih bungkam mengenai surat pernyataan tersebut.

Winarko








Berita Terkait



Komentar