#pengeroyokan#hukum

Berebut Jadi Pembersih Kapal, 6 Nelayan Jadi Pesakitan 

( kata)
Berebut Jadi Pembersih Kapal, 6 Nelayan Jadi Pesakitan 
Ruang sidang pembacaan tuntutan kasusu pengeroyokan oleh enam nelayan karena perebutan pekerjaan membersihkan kapal.Lampost.co/Salda Andala


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Enam nelayan yang melakukan pengeroyokan harus menjalani persidangan virtual di Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Jumat, 14 Agustus 2020. Pengeroyokan yang dilakukan para terdakwa karena perebutan untuk jadi buruh pembersih kapal pengangkut minyak sawit (CPO).

Keenam nelayan tersebut, yakni Momon Santoso, Achmad Setiawan alias Mad, Joko Santoso, Ferry alias Metal, Yudi Sutrisno alias Buang, dan Maman alias KM. Keenamnya merupakan warga Kampung Telukjaya, Kelurahan Panjang Selatan, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung.

Dalam persidangan perdana, Jaksa Ponco Santoso mengatakan keenamnya didakwa telah melakukan tindak pidana penganiayaan secara bersama-sama. "Perbuatan keenam terdakwa didakwa dengan Pasal 351 Ayat (1)  KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP," ujarnya.

Jaksa menuturkan perbuatan terdakwa bermula saat saksi korban Angga Saputra mendapat pekerjaan untuk membersihkan limbah CPO di KM Silvia pada Kamis, 23 Januari 2020, sekira pukul 16.00 WIB. "Kemudian saksi korban bersama beberapa saksi berangkat menggunakan kapal klotok dari pesisir ke laut Panjang," katanya.

Terdakwa membersihkan limbah CPO bersama 11 rekannya dan pekerjaan tersebut selesai pada  Jumat, 24 Januari 2020, sekira pukul 05.00 WIB. "Setelah itu korban berlayar dari perairan laut Panjang menuju perairan laut Lempasing. Namun pada saat melintasi perairan laut Pulau Tangkil sekira pukul 06.30 WIB, korban dihampiri satu unit speedboat fiber.

Speedboat tersebut dinaiki para terdakwa dan langsung bertanya kepada saksi korban. "Kemudian terdakwa Yudi naik ke atas kapal melakukan pemukulan terhadap saksi korban dengan menggunakan tangan kosong satu kali," katanya.

Saksi korban juga mendapat dua kali pukulan dengan menggunakan bambu bangkol oleh terdakwa Maman.

Muharram Candra Lugina







Berita Terkait



Komentar