#uangpalsu#beritalampung

Berdalih Terlilit Utang, Warga Tegineneng Cetak Uang Palsu Rp11 Juta

( kata)
Berdalih Terlilit Utang, Warga Tegineneng Cetak Uang Palsu Rp11 Juta
Lampost.co/Asrul Septian Malik

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Berdalih terlilit utang, Hendri Setio (36) warga Trimulyo, Tegineneng, Pesawaran nekat mencetak uang palsu. Hendri mencetak uang palsu bermodalkan kertas dan printer, karena harus membayar utang yang jatuh tempo.

Ia pun mulai membeli printer pada Jumat 11 Oktober 2019, lalu mencetak uang dengan pecahan Rp100 ribu dan R50 ribu yang jumlah nominalnya mencapai Rp11 juta, yang akan digunakan untuk membayar utang ke rentenir.

"Ya malam itu langsung saya cetak juga. Utang saya Rp20 juta. Tapi saya cetaknya Rp11 juta, karena saya buntu enggak ada duit lagi," ujar pelaku di Mapolda Lampung, Rabu 16 Oktober 2019.

Hendri pun mengaku spontan mendapatkan ide mencetak uang palsu tersebut, lantaran tak punya uang lagi untuk membayar utang. Usahanya dari hasil gerai ponsel dan petani pun tak sanggup untuk menutupi utang-utangnya. "Printer saya beli. Langsung aja spontan, enggak ada belajar," katanya.

Subdit III Ditreskrimum Polda Lampung menangkap pelaku, atas informasi dari masyarakat. Kemudian melacak keberadaan pelaku dan menangkapnya. Dari tangan pelaku diamankan barang bukti berupa uang palsu dengan pecahan Rp100 ribu 88 lembar dan pecahan Rp50 ribu  44 lembar, 1 printer, staples, pisau karter, penggaris besi, dan tas.

"Kita dapatkan informasi langsung kita amankan," ujar Dirreskrimum Polda Lampung Kombespol M. Barly, Rabu 16 Oktober 2019.

Barly mengatakan kendati telah menjadi tersangka, pihaknya masih melakukan pendalaman apakah sudah banyak korban uang palsu yang dibuat oleh pelaku, ataupun sudah lama beraksi. "Pengakuan baru sekali, tapi kami masih dalami," kata alumnus akabri 1993 itu.

Sementara kepala Tim Sistem Pengelolaan Pembayaran Uang Rupiah BI Cabang Lampung Sutono mengatakan kualitas uang yang dicetak oleh pelaku mutunya rendah.

Dari kasat mata saja, menurut Sutono bisa terlihat kalau uang tersebut palsu. "Uang ini, kita gunakan 3D saja langsung ketahuan. Dilihat warnanya mencolok diraba dibagian nominal dan bahannya halus dan diterawang pun tak ada benangnya, atau tanda airnya," katanya sambil mencontohkan pengecekan 3D uang tersebut.

Seri uang tersebut menurut Surono memang ada yang berbeda, ada yang sama, namun sifatnya acak dan tentunya diketahui langsung oleh BI kalau palsu. "Untuk mencegahnya kita sudah sering sosialisasi 3D, kepada masyarakat, sekolah, terutama ke pasar-pasar dan tempat transaksi jual beli langsung," katanya.

Asrul Septian Malik



Berita Terkait



Komentar