#kedelai#tempe

Berangsur Turun, Pengrajin Tempe Nilai Harga Kedelai Masih Kemahalan

( kata)
Berangsur Turun, Pengrajin Tempe Nilai Harga Kedelai Masih Kemahalan
Acong, pengrajin tempe di kawasan Kali Belau, Teluk Betung Selatan. Lampost.co/MTVL/Putri Purnama


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Kepala Dinas Pangan Kota Bandar Lampung, I Kadek Sumartha, mengaku harga kedelai di Kota Tapis Berseri mulai mengalami penurunan dibandingkan pekan lalu.

Harga kedelai yang pekan lalu dibanderol hampir Rp11 ribu, kini turun sebesar Rp500. 

“Harga itu dipengaruhi beberapa faktor, yaitu harga internasional atau dari negara asalnya seperti Amerika dan Brazil sudah tinggi. Sedangkan kebutuhan kedelai untuk bahan baku tahu tempe di dalam negeri 80 persen masih bergantung pada impor,” kata Kadek, Senin, 21 Juni 2021.

Kendati demikian, turunnya harga itu masih dikeluhkan beberapa pengrajin tempe di kelurahan Gedung Pakuon, Kecamatan Telukbetung Selatan, Bandar Lampung, Pengrajin menilai harga itu masih jauh dari normal.

“Sekarang harganya Rp10.500 dari gudangnya. Walaupun udah turun, hitungannya masih mahal,” kata salah satu pengrajin tempe, Acong.

Acong mengatakan tak bisa mengganti bahan dasar tahu tempe itu dengan produk lokal. Sebab, selain kualitas yang kurang baik, barang sulit didapatkan di pasaran. 

“Kalau produk lokalnya bagus dan barangnya ada, ya pasti pakai yang lokal. Tapi kan memang keadaan di lapangan yang nggak ada barang lokalnya,” ujarnya.

Pengrajin tempe lainnya, Aji, mengeluhkan harga kedelai yang tak kunjung normal. Ia mengaku kerap mendapatkan protes dari pelanggannya dengan alasan ukuran yang tak seperti biasa.

“Kalau harga kedelai tinggi ya terpaksa ukurannya kami kecilkan, tapi resiko pelanggan ngedumel,” kata dia.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar