#Opini#Komunikasi#Simbolik#Politik

Bentuk Simbolik, Bukan Identitas Politik

( kata)
Bentuk Simbolik, Bukan Identitas Politik
Ilustrasi Komunikasi Simbolik. (Dok.Lampost.co)

MASYARAKAT Lampung bisa dipastikan tidak asing lagi dengan salam L. Salam yang viral di kalangan masyarakat Bumi Ruwa Jurai ini merupakan simbolisasi daerah yang berada di selatan Pulau Sumatera, yaitu Lampung. Salam dengan mengepalkan tangan membentuk huruf L, salam yang melambangkan kata L-ampung, sebagai bentuk salamnya masyarakat Lampung dengan makna persatuan dan kecintaan terhadap daerahnya. Lalu, bagaimanakah sejarah awal salam L?

Salam L-ampung ternyata dimulai pertama kali oleh manajemen surat kabar harian terbit tertua di Lampung, yakni Lampung Post. Sebab, huruf L merupakan simbol dari brand surat kabar tersebut. Banyak postingan para karyawan media tersebut saat itu menggunggah foto dengan simbol salam L.

Seiring berjalannya waktu, di pertengahan tahun 2016, salam L ternyata banyak digunakan oleh anak-anak muda Lampung dalam berpose, baik selfie maupun welfie, baik dengan teman sejawat maupun dengan berbagai tokoh. Kendati demikian, telaah demi telaah mengundang perhatian salah satu gubernur muda di Indonesia yang melihat fenomena salam L di tengah masyarakatnya.

Ikon Lampung

Perspektif sosiologis dan psikologis masyarakat yang laten mengenakan salam L saat-saat mengabadikan momen dalam bentuk gambar mengundang perhatian Muhammad Ridho Ficardo sebagai gubernur Lampung. Saat itu, dengan berinisiatif Gubernur meresmikan salam L sebagai ikon salam Lampung.

Dengan diresmikannya salam L sebagai salamnya masyarakat Lampung, Gubernur berkomitmen untuk memasyarakatkan salam L. Hal tersebut membuahkan hasil yang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari berbagai postingan-postingan foto orang-orang di Lampung dengan bangga mengenakan salam L di media sosial.

Tidak hanya itu, orang-orang yang berkunjung ke Lampung pun melakukan hal yang sama. Bagi mereka yang sedang berkunjung ke tanah Lampung kemudian mengabadikan momen-momen di tempat rekreasi, misalkan, hal ini merupakan bentuk komunikasi simbolik bahwa mereka sedang berada di tanah Lampung.

Kemudian beberapa kelompok organisasi kepemudaan yang ada di media sosial menggunakan salam L sebagai simbol dan ikon dari Sang Bumi Ruwa Jurai. Tidak kalah dengan para pemuda, artis Trinity pun menggunakan salam L pada saat menonton bareng disalah satu bioskop ternama di Lampung. Artis sinetron anak langit bahkan tokoh-tokoh nasional dan tokoh-tokoh Lampung pun mendukung program Gubernur Lampung tersebut. Hingga menggaung di kancah nasional, seperti ramainya peserta festival Asia-Afrika di Bandung beberapa waktu silam.

Simbol Persatuan

Salam L sampai kini menjadi tren di semua kalangan, baik anak-anak muda, masyarakat adat, aparatur pemerintah, dan lain sebagainya, baik di dunia maya maupun dunia nyata, menggunakan salam L sebagai salam persatuan dan keberagaman masyarakat Lampung. Simbol tersebut menunjukkan salah satu cara masyarakat dalam berkomunikasi.

Melalui interaksi simbolik tersebut, mereka ingin menunjukkan bahwa masyarakat Lampung menyatu dalam satu persatuan dan eksistensi kepada khalayak. Teori interaksi simbolik memiliki asumsi bahwa manusia membentuk makna melalui proses komunikasi dengan berfokus pada pentingnya konsep diri dan persepsi yang dimiliki iindividu berdasarkan interaksi dengan individu lain.

Kita berharap dengan didengungkannya ikon salam love Lampung oleh Gubernur Lampung ini benar-benar menjadi ikon persatuan, keguyuban, kekompakan, dan keberagaman dari masyarakat Lampung pada umumnya, sehingga visi mulia Lampung maju dan sejahtera dapat terwujud sebagaimana mustinya.

Dipolitisasi

Namun, eksistensi semacam simbolik itu di tengah masyarakat tidak menutup kemungkinan akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan politik. Katakan saja menjelang momentum Pemilihan Presiden 2019 mendatang yang atmosfernya semakin ke sini semakin panas.

Banyak upaya yang dilakukan oleh tim pemenangan kandidat untuk mengenalkan calon kepada masyarakat, termasuk melalui media sosial dengan mengunggah foto-foto dengan pose simbol huruf di tangan, baik satu maupun dua, yang mewakili bentuk dukungan politik mereka. Kita menegaskan bahwa secara baku melarang pihak yang coba memolitisasi simbol tersebut terlebih menggunakan itu dengan dalih apa pun mewakili nomor politik.

Sebab, bagi masyarakat Lampung, hal ini justru akan membuat kegaduhan. Mereka akan merasa dipermainkan apalagi menyebarkan foto-foto mereka dengan menggunakan simbol salam L di media sosial tanpa sepengetahuan mereka sebagai bahan kampanye di media sosial.

Maka itu, seyogianya oknum politik dapat profesional dan menghargai bahwa simbol tersebut merupakan identitas lokal bagi masyarakat yang menjadi kebanggaan mereka, baik yang berada di Lampung maupun orang Lampung, yang sedang berada di luar Lampung. Bukan menunjukkan identitas politik, melainkan sebagai kebanggaan dan ingin mengekspresikan bahwa mereka berasal dari Lampung.

 

 

Rosim Nyerupa/Kader HMI Cabang Bandar Lampung

Berita Terkait

Komentar