#Opini#Bencana#Edukasi#Agama

Bencana dan Edukasi Agama

( kata)
Bencana dan Edukasi Agama
Muhbib Abdul Wahab. (Dok.Lampost.co)

GEMPA bumi, tsunami, dan likuefaksi (tanah/batu tiba-tiba menjadi lumpur) yang terjadi di Palu, Sigi, dan Donggala merupakan musibah dahsyat yang menelan banyak korban, baik jiwa maupun materi. Bahkan, Kelurahan Petobo hilang ditelan bumi.

Tentu tidak seorang pun menghendaki bencana terjadi. Namun, apabila bencana menimpa warga tanpa bisa dihindari seperti gempa bumi dan tsunami, tidak ada jalan lain selain berempati, bergandeng tangan, bersinergi, dan saling menolong untuk menyelamatkan jiwa dan meringankan beban penderitaan korban yang selamat, terutama dari trauma dan pemulihan jiwa.

Selain itu, sebagai umat beragama, bencana sejatinya merupakan ujian keimanan sekaligus kesabaran dalam rangka penyadaran dan introspeksi diri sehingga menumbuhkan kesadaran religius bahwa bencana alam itu harus menjadi laboratorium keagamaan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, Sang Pemilik alam semesta.

Mengarifi Bencana

Kesadaran religius itu perlu dimanifestasikan dalam bentuk sikap arif dan pemikiran positif sehingga yang dicari bukan kambing hitam, melainkan pelajaran terpetik dan hikmah indah di balik bencana itu. Mengarifi bencana merupakan proses pembelajaran dan pendewasaan mental spiritual, baik bagi korban langsung maupun tidak langsung. Pelajaran terpetik itu harus dijadikan sebagai bahan introspeksi diri, muhasabah, dan zikir agar kita menjauhkan diri dari kesom­bong­an dan kemaksiatan menuju pendekatan diri dan ketaatan kepada Sang Penguasa alam semesta.

Karena itu, mengarifi bencana mengharuskan kita berbaik sangka kepada Allah swt. Bencana yang menimpa bangsa ini perlu direspons sebagai ujian iman dan kesabaran agar yang diuji memiliki etos perjuang­an dan ketahanan mental spiritual yang kokoh. “Dan, sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu.” (QS Muhammad (47):31).

Mengarifi bencana itu sarat dengan edukasi iman dan penyadaran mental spiritual agar kita tetap memiliki nalar positif dan kreatif sehingga semakin bersyukur, bersabar, dan bertawakal kepada-Nya. Mengarifi bencana alam di Palu, Sigi, Donggala, pada umumnya mengharuskan kita bersikap positif bahwa bencana itu merupakan salah satu cara Allah SWT untuk menegur hamba-Nya supaya tidak melampaui batas, dengan menghentikan pelampiasan nafsu syahwat duniawi dan kekuasaan serta kemaksiatan dan kerusakan di muka bumi.

Dengan kata lain, bencana menyadarkan semua untuk bertobat dan mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus mengembangkan kesalehan autentik dengan peneguhan iman, ilmu, dan amal saleh.

Edukasi Agama

Bencana juga mengharuskan kita mengevaluasi keberagamaan dan edukasi agama yang selama ini dilakukan. Tampaknya, keberaga­maan mayoritas warga bangsa ini masih cenderung simbolis dan ritual formal, belum substansial dan kontekstual. Sudah saatnya umat beragama memaknai bencana sebagai alarm kehidupan bahwa manusia itu milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.

Karena itu, totalitas keyakinan dan keberserahan diri kepada Allah merupakan sikap keberagamaan yang positif. “Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya, kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)’ adalah orang yang mendapatkan kabar gembira dengan kesabaran dan keimanannya.” (QS Al-Baqarah (2): 155—156).

Edukasi agama yang konstruktif akan membentuk mindset positif dalam melihat bencana. Karena itu, bencana dimaknai sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya untuk membuktikan rida-tidaknya. “Sesungguhnya, pahala besar itu sebanding dengan ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menimpakan ujian kepada mereka. Siapa yang rida, ia akan meraih rida Allah. Sebaliknya, siapa yang tidak suka, Allah pun akan murka.” (HR Ibn Majah).

Edukasi agama juga harus mencerdaskan umat bahwa bencana merupakan bagian dari kemahakuasaan-Nya. Semua fenomena alam, termasuk bencana gempa bumi dan tsunami didesain menjadi sumber dan proses pembelajaran, dengan senantiasa membaca dan memaknai ayat-ayat Allah yang ada di alam raya dan ayat-ayat-Nya dalam kitab suci.

 

 

Muhbib Abdul Wahab/Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berita Terkait

Komentar