#opini#perbedaan

Belajar Berbeda

( kata)
Belajar Berbeda
Ilustrasi. (Foto: Dok/Pixabay)

TIDAK mudah belajar dan menuntaskan hari bersama Peter Gwazdauskas, seorang murid kelas III penderita down syndrome, di Gilbert Linkous Elementary School, Blacksburg, Virginia, Amerika Serikat, pada awal 1990-an. Keseharian Peter di kelas dan sekolah—dikisahkan dalam sebuah film dokumenter berjudul Educating Peter yang kemudian memenangkan penghargaan Oscar ke-65 di 1993—selalu penuh kejutan dan tantangan. Sebelum belajar di Gilbert Linkous, Peter ialah murid di sekolah anak berkebutuhan khusus.

Setengah tahun pertama, Peter belajar di kelas III. Hal itu, mengutip Mrs Stallings, guru kelasnya, menjadi sebuah tantangan tanpa henti (constant challenge) bagi kawan sekelas dan gurunya. Peter hampir selalu mengeluarkan suara kencang dan berisik, mengganggu, mendo­rong, merebut, memukul, dan menyepak kawannya. Peter tampak kacau, tak patuh, dan tak bisa dikendalikan walaupun, menurut ibunya, ia selalu tampak bahagia sejak bersekolah di situ.

Jika di akhir tahun semua murid menyatakan Peter ialah bagian terbaik dari perjalanan kelas mereka dan kisah kebersamaannya bersama kawan sekelas menjadi salah satu sumber inspirasi bagi pengembangan pendidikan yang inklusif, hal itu hanya menegaskan upaya tanpa kenal menyerah guru dan kawan sekelas dan juga masyarakat—dalam penyelenggaraan pendidikan yang lebih humanis, partisipatif, adil, dan setara bagi semua anak.

Mereka saling belajar dan merayakan perbedaan di antara mereka. Setidaknya, dalam lingkup kelas, Educating Peter adalah salah satu gambaran terbaik bagaimana pendidikan inklusif diupayakan dan dipraktikkan.

Pendidikan Inklusi

Pendidikan yang inklusi berdasar pada ide (yang tampak) sederhana, bahwa semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas, secara setara, tanpa menimbang kondisi, latar belakang, jenis kelamin, dan segala perbedaan yang dimilikinya. Namun, dalam praktiknya, pendidikan inklusif tidak mudah untuk dilakukan.

Lebih sering praktik pendidikan inklusi dimaknai sebagai proses keterlibatan mereka yang berkebutuhan khusus seperti Peter Gwazdauskas dalam sekolah kebanyakan/konvensional. Pendidikan inklusi karenanya hanya dimaknai sebagai proses integrasi mereka yang “berbeda” ke dalam sistem pendidikan yang selama ini diperuntukkan kebanyakan orang.

Namun, pendidikan inklusi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana memberi akses pada mereka yang berkebutuhan khusus seperti Peter Gwazdauskas. Pendidikan inklusi adalah juga sebuah proses untuk menanggapi keberagaman murid melalui peningkatan partisipasi dan pengurangan pengecuali­an dalam pendidikan. Dengan demikian, pendidikan inklusi ialah soal kehadiran, partisipasi, dan pencapaian semua murid, terutama mereka yang atas alasan tertentu dihambat, dikucilkan, atau berisiko dipinggirkan (UNESCO: 2005).

Kehadiran mengacu pada akses yang berlanjut pada skema pendidikan formal maupun nonformal. Sementara itu, partisipasi berkaitan dengan kurikulum dan aktivitas-aktivitas pendidikan yang mampu memenuhi kebutuhan seluruh murid dan menghargai hak untuk turut serta menentukan kebijakan yang mempengaruhi hidup mereka di sekolah.

Pencapaian merujuk pada kebutuhan seluruh murid untuk belajar berdasar atas kemampuan mereka sendiri, sesuai dengan kebutuhan mereka untuk berkembang dan berinteraksi dalam kehidupan sosial.

Dengan demikian, pendidikan yang inklusi lebih dari sekadar memastikan semua orang memiliki akses ke pendidikan. Ia ialah juga upaya menyediakan kesempatan untuk pendidikan berkualitas, tingkat pendidikan tertinggi, sekaligus menjamin berkembangnya potensi individu setiap orang (Guijarro: 2008).

Merancang Masa Depan

Mengupayakan dan mempraktikkan prinsip inklusi dalam pendidikan ialah juga membangun rencana dan mempersiapkan masa depan yang baik. Mengembangkan praktik inklusi di kelas dan sekolah memberikan pengalaman murid terlibat dan menjadi bagian sesuatu yang lebih besar, yaitu masyarakat. Pada akhirnya, sekolah ialah pintu menuju kehidupan bermasyarakat. Sekolah dapat menjadi tempat terbaik untuk menghadirkan miniatur masyarakat dengan segala keberagaman dan persoalannya.

Pendidikan inklusi, kare­nanya, akan mengenalkan dan membiasakan komunitas sekolah pada pemahaman dan praktik-praktik prinsip keadilan dan kesetaraan sebagai warga negara, terlepas berbagai perbedaan yang dimiliki. Adil dan setara atas kualitas pendidikan yang berkualitas, sebagai warga negara, menumbuhkan sikap toleran dan memperkuat kemampuan untuk merayakan perbedaan.

Jika prinsip-prinsip pendidikan inklusi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik belajar mengajar di sekolah, ia akan tumbuh sebagai budaya sekolah. Keberhasilan budaya pendidikan yang inklusif di sekolah sangat bergantung pada kemampuan dan komitmen warga belajar untuk menghargai perbedaan, meng­utamakan kerja sama, dan secara terus-menerus menjamin peluang untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas bagi semua murid.

Hal itu dapat dimulai dengan membangun komitmen bersama untuk menjadikan kelas dan sekolah sebagai lingkungan belajar yang positif. Lingkungan belajar yang memungkinkan seluruh entitas kelas dan sekolah dapat menemukan dan mengembangkan potensi mereka. Tempat yang mementingkan kolaborasi jika dibandingkan dengan kompetisi dalam praktik belajar maupun pengelolaan organisasi.

Pada lingkungan yang memungkinkan setiap suara didengarkan dan ditanggapi, pertanyaan-pertanyaan sensitif dapat diajukan dengan aman dan nyaman. Lingkungan belajar yang positif yang menjamin prinsip inklusi semacam itu hanya dapat diwujudkan jika terjadi perubahan nilai dan cara pandang dalam proses belajar-mengajar di kalangan siswa, guru, orang tua murid, dan manajemen sekolah.

Di lingkup lebih luas, perubahan nilai dan cara pandang juga harus terjadi di kalangan pembuat kebijakan dan pemangku kepentingan dalam sistem pendidikan. Prasyarat ini harus dipenuhi karena upaya mengembangkan pendidikan yang inklusi dan kesetaraan dalam pendidikan lebih dari sekadar persoalan teknis perubahan organisasi, tetapi lebih pada perubahan di ranah filosofis (Fulcher: 1989).

Jika di ranah kebijakan nilai-nilai dan cara pandang pendidikan yang inklusi dapat dihasilkan dan dikembangkan dalam praktik keseharian, sekolah dan guru memainkan peranan penting. Pengembangan kapasitas sekolah dan guru, kompromi, dan komitmen maksimal untuk mendamaikan kebutuhan pencapaian hasil belajar dan keluwesan praktik kurikulum di kelas, serta praktik pembelajaran efektif seperti kolaborasi dalam perencanaan, pengajaran dan evaluasi, termasuk team teaching perlu terus dilatih, dikembangkan, dan dipraktikkan.

Di kelas, saat murid belajar melihat, terlibat, dan secara terus-menerus berlatih untuk mengelola perbedaan di antara mereka, baik gender, suku, agama, ras, kemampuan, dan kebutuhan khusus yang dimiliki masing-masing sesungguhnya mereka juga saling belajar bersama kawan mereka yang berbeda. Mereka sedang merintis peradaban masyarakat di masa depan. Murid yang belajar bersama dan merayakan perbedaan di antara mereka sesungguhnya sedang belajar untuk hidup bersama dan merancang masa depan yang lebih bermakna.

Victor Yasadhana/ Direktur Pendidikan Yayasan Sukma

Berita Terkait

Komentar