#teroris#polda#awasimedsos

Begini Ciri-ciri Teroris di Medsos

( kata)
Begini Ciri-ciri Teroris di Medsos
dok Lampost.co

Bandar Lampung (Lampost.co): Polda Lampung tentunya melakukan pengawasan terhadap akun sosial media dan grup. Hal tersebut dilakukan oleh jajaran Polda Lampung, termasuk subdit V Cybercrime Ditreskrimsus Polda Lampung. Pola yang dilakukan yakni preemtif, preventif hingga represif, jika memang ada temuan.

"Tentunya Polda Lampung dengan pola terbuka dan tertutup melakukan pengawasan, di sosial media, terkait Provokasi Ujaran Kebencian, dan hal lainnya di sosial Media," ujar Kabid Humas Polda Lampung Kombespol Zahwani Pandra Arsyad, Rabu, 16 Oktober 2019.

Namun pengawasan pada dugaan jaringan radikal atau kelompok yang hendak berbuat amaliah dan sebagainya,  langsung ditangani oleh Densus 88 Anti Teror Polri.

"Kalau itu, informasi yang dikecualikan itu teknis (terduga jaringan radikal jumlah yang dipantau, alat yang digunakan), teknisnya densus dan mabes polri," kata Pandra.

Berita Terkait:

 Polri Terpapar Radikalisme

Keluarga Menduga Tri Tak Terlibat JAD

Pandra memaparkan Polda Lampung, baik dari fungsi intelkam, fungsi binmas, pun melakukan berbagai upaya kontra radikal, pendekatan tiga pilar yakni fungsi RT, lurah pada bagian sipil, babinkamtibmas, dan babinsa pada unsur TNI Polri.

Namun Pandra memaparkan ciri-ciri  teroris yang bekerja di media sosial. Pertama kerap mengatakan bahwa kejadian terorisme yang menelan banyak korban sebagai rekayasa atau drama. Ini dilakukan agar masyarakat tidak bersimpati atas hilangnya nyawa korban.

Kedua, mengalihfokuskan berita korban jiwa akibat terorisme dengan berita lain yang tidak ada sangkut pautnya. Tujuannya agar masyarakat lupa dengan kekejaman teroris.

Ketiga, mengunakan kata-kata melecehkan untuk mengambarkan keadaan korban. Ini memang sesuai dengan tabiat teroris yang senang melihat korbannya tersiksa.

Keempat, suka menyalahkan aparat hukum bila terjadi tindakan terorisme. Padahal aparat hukum adalah garda terdepan membendung aksi teroris, tapi oleh para teroris di media sosial keadaan diputar balik.

 Kelima, suka mencaci pemerintah dengan istilah keagamaan yang negatif. Misal, pemerintah dituduh anti-Islam dan istilah lain yang membangkitkan kebencian rakyat terhadap pemerintah.

"Jadi awalnya, dari ujaran kebencian, sara, terus ke intoleran, sampai ke radikal, baru dia jadi jaringan beramaliah," katanya.
 

Asrul Septian Malik

Berita Terkait

Komentar