#pencabulan#asusila#dosenunila

Begini Cerita Lengkap Dosen Lakukan Pencabulan pada Siswi Bimbingannya

( kata)
Begini Cerita Lengkap Dosen Lakukan Pencabulan pada Siswi Bimbingannya
Foto: Dok/Lampost.co


BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Tinggi Lampung mendakwa dosen Universitas Lampung atas nama Chandra Ertikanto (58) yang diduga melakukan pencabulan terhadap mahasiswinya sendiri dengan dua pasal sekaligus.

Dalam sidang tertutup di ruang Candra Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjungkarang, Jaksa Kadek Agus Dwi Hendrawan menyebutkan jika perbuatan terdakwa melanggar Pasal 290 ayat (1) Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHPdana, atau perbuatan terdakwa diancam pidana dalam Pasal 281 Ke-2 Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHPdana.

Dalam dakwaan Jaksa Kadek, perbuatan cabul yang dilakukan Chandra sebanyak tiga kali, dimana pencabulan pertama terjadi pada 13 November 2017 sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu korban disuruh oleh terdakwa untuk mencari contoh proposal milik orang lain yang akan dicontoh oleh korban.

Korban menemukan proposal yang akan dicontohnya, lalu tiba-tiba terdakwa mengambil proposal tersebut menggunakan tangan kanannya dan mengenai payudara saksi korban melalui punggung menekan ke arah payudara dan jari-jari tangan kiri terdakwa mengenai payudara sebelah kiri terdakwa.

Dua hari setelah kejadian pertama, perbuatan tidak senonoh kembali dilakukan sang dosen terhadap mahasiswi bimbingannya itu, dimana saat itu korban bersama tiga rekannya duduk diatas kursi panjang hendak melakukan bimbingan dengan terdakwa.

"Terdakwa menanyakan kepada korban mana proposal miliknya (korban). Saat akan memberikan proposal kepada terdakwa, korban meletakkan proposal diatas pahanya, belum sempat memberikan proposal itu terdakwa mengambilnya sendiri saat itu tangan kanan terdakwa menyentuh payudara korban, korban terkejut atas peristiwa yang ia alami," kata Jaksa.

Perbuatan cabul sang dosen tidak sampai disitu saja. Satu minggu setelah kejadian, dosen kembali melakukan perbuatan cabulnya lagi, dimana saat itu korban hendak melakukan bimbingan skripsi dengan terdakwa. Saat korban berada di dalam ruangan terdakwa, terdakwa mengunci pintu ruangan tersebut dan mengatakan DS harus berjanji dulu dengan terdakwa, mendengar ucapan tersebut korban menanyakan maksud dari ucapan tersebut.

"Korban bertanya janji apa yang dimaksud oleh terdakwa, terdakwa lalu menjawab jika korban dipegang pegang jangan marah ya," kata Jaksa menirukan ucapan dosen.

Mendengar ucapan dosen, terdakwa lantas menjawab tidak bisa seperti itu. Mendengar ucapan korban, terdakwa marah dengan membanting skripsi korban sembari menarik tangan korban dan berkata."Ya udah kalau kamu seperti itu, nggak akan saya bantu. Enggak lulus, enggak lulus kamu. Korban menjawab jangan seperti itu, pak. Makanya kalau dipegang pegang jangan marah," kata jaksa menirukan percakapan keduanya.

Korban berusaha melepaskan tangannya dari genggaman dosen dengan berkata. "Pak, bapak ini dosen saya, sudah saya anggap sebagai bapak saya sendiri. Saya pun sebagai anak bapak," kata DS.

Pada saat terdakwa akan memegang tangan korban untuk kedua kalinya, penjaga gedung datang mengantarkan amplop kepada terdakwa. Setelah penjaga gedung pergi terdakwa kembali meraba korban dengan memohon untuk memegang korban. "Pegang ya, sebentar saja," kata Jaksa menirukan ucapan dosen.

Kemudian terdakwa berdiri dibelakang saksi korban dan memasukkan tangannya ke bawah ketiak korban, lalu tangannya meraba payudara korban. Korban kesal dengan nada tinggi berucap "Sudah pak skripsinya. Terdakwa menjawab, ya udah kalau enggak mau dibantu," kata Jaksa membacakan dakwaanya.

Setelah kejadian itu korban meninggalkan ruangan, belum jauh dari ruangan tersebut korban disuruh oleh terdakwa untuk masuk keruangan kerjanya lagi. Disitu terdakwa mengatakan bahwa dia bersedia membantu korban asalkan perbuatan yang dilakukan terhadap korban jangan diceritakan kepada siapa-siapa.

"Keluar dari gedung, terdakwa langsung menemui rekannya dan menceritakan kejadian tersebut sembari menagis," kata Jaksa.

Febi Herumanika







Berita Terkait



Komentar