#kesehatan#bayiprematur#beritalampung#talkshow

Bayi Prematur Beresiko, Perlu Penanganan Tepat

( kata)
Bayi Prematur Beresiko, Perlu Penanganan Tepat
Konsultan Perinatologi, dr. Leni Ervina SpA saat Talk Show Kesehatan SAI 100 FM Radio Lampung Post bersama Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Bandar Lampung, Jumat (19/7/2019). (Foto:Lampost/Triyadi Isworo)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Kelahiran bayi prematur sangat rentan terjadi berbagai masalah kesehatan. Bayi-bayi yang lahir prematur dibawah 37 minggu dan berat badan di bawah 2.500 gram atau 2.5 kg sangat rentan mengalami resiko kesehatan. Kemudian bayi premature juga memiliki resiko lebih tinggi terhadap infeksi dan berisiko untuk sindrom kematian bayi mendadak (SIDS).
Konsultan Perinatologi, dr. Leni Ervina SpA mengatakan semakin adanya kemajuan zaman saat ini banyak ibu-ibu yang melahirkan premature. Hal tersebut dimungkinkan karena sang ibu terkena infeksi, pola hidup yang kurang sehat dan tidak mengkonsumsi makan-makanan bergizi.
"Ibu hamil harus menjaga asupan yang dimakan, supaya saat melahirkan berat badan bayinya cukup," katanya dalam Talk Show Kesehatan SAI 100 FM Radio Lampung Post bersama Ikatan Dokter Indonesia Cabang Kota Bandar Lampung, Jumat (19/7/2019).
Kemudian ia berpesan kepada ibu-ibu yang sedang hamil jangan suka diet, karena kasihan bayi didalam kandungannya asupan gizinya akan kurang. Bayi dalam kandungan membutuhkan sumber-sumber asupan gizi yang baik yang didapatkan dari makanan  yang dikonsumsi oleh ibunya.
"Maka ibu-ibu harus mengonsumsi gizi yang cukup sehingga bayinya akan lahir dengan cukup bulan dan cukup berat badan," kata Konsultan Perinatologi di RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung, RSIA Bunda Asy Syifa dan RSIA Belleza ini.
Ia mengatakan orang tua harus paham Kangaroo Mother Care (KMC) atau Perawatan Metode Kanguru (PMK) merupakan perawatan untuk bayi prematur dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu atau skin-to-skin contact, dimana ibu menggunakan suhu tubuhnya untuk menghangatkan bayi. Metode perawatan ini juga terbukti mempermudah pemberian ASI sehingga meningkatkan lama dan pemberian ASI.
"PMK merupakan alternatif pengganti incubator dalam perawatan BBLR. Komponen PMK terdiri dari kontak kulit ke kulit (skin-to-skin contact), pemberian ASI atau breastfeeding, dan dukungan terhadap ibu (support)," kata Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ini. 

Triyadi Isworo

Berita Terkait

Komentar