stunting

Bayi Lahir Stunting Ditentukan di Trimester Pertama Kehamilan

( kata)
Bayi Lahir Stunting Ditentukan di Trimester Pertama Kehamilan
Ketua Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Lampung Bertalina

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) -- Kasus stunting atau gizi kronis di Lampung masih tergolong tinggi yakni sebesar 27% dari seluruh jumlah balita yang ada di Lampung.

Ketua Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Lampung Bertalina menyebutkan Lampung merupakan salah satu daerah tinggi angka stunting. Sehingga tahun ini pemerintah Pusat menambah beberapa Kabupaten yang menjadi Lokus stunting seperti Pesawaran, dan Tanggamus.

"Angka stunting kita masih tergolong tinggi, akan tetapi itu sudah cendrung turun dibandingkan dengan tahun lalu yang mencapai 30%," kata Berta, Kamis, 23 Januari 2020.

Menurutnya stunting terjadi sejak awal kehamilan di trimester pertama. Ibu yang kekurangan gizi kronis akan beresiko melahirkan bayi stunting.

Di trimester pertama inilah masa penentuan anak stunting atau tidak, sebab di masa ini mulai pembentukan organ tubuh. Seperti otak, jantung, paru-paru sehingga jika kekurangan gizi maka pembentuknya akan terganggu. Untuk itu ibu perlu mempersiapkan kehamilan.

"Masalah gizi kaitannya luas, salah satunya dapat menyebabkan stunting, nah kalau sudah terjadi stunting mau intervensi juga sulit, sehingga bagaimana mencegah agar stunting tidak terjadi," tambahnya.

Menurutnya penyebab utama stunting selain masalah gizi dipengaruhi oleh faktor lain. Seperti minimnya pengetahuan, sanitasi yang buruk, kondisi lingkungan, akses air bersih yang tidak cukup sehingga mudah terkena infeksi menyebabkan kesehatan turun akhirnya ibu kurang gizi dan pembentukan janin tidak sempurna.

Sedangkan penanganan stunting bukan hanya masalah faktor kesehatan. Dari sektor kesehatan hanya sekitar 30%, sisanya 70 % dari sektor lain seperti pendidikan, pertanian, pangan, PU, keagamaan. Misalnya dalam Islam sudah dijelaskan juga memerintahkan untuk menyusui anaknya hingga 2 tahun.

Sedangkan penanganan bagi balita yang terkena stunting pada dasarnya sulit untuk bisa kembali ke kondisi normal. Akan tetapi dari segi fisik kemungkinan mengejar, dengan asupan gizi yang baik. Akan tetapi kecerdasan otak pembentukan sejak dari dalam janin sulit untuk dikejar sebab masa pembentukan otak emas sudah lewat. 

"Bisa juga dengan stimulasi tumbuh kembang seperti bina latih keluarga yang bermanfaat untuk merangsang motorik. Tapi untuk meningkat 100% sulit, tumbuh bisa kekejar tapi kecerdasan otak sulit," papar Berta yang juga ketua jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Tanjung Karang.

Berta menegaskan ciri stunting gizi bisa lihat dari tinggi badan menurut umur sesuai atau tidak. Sedangkan otak sulit diukur harus melalui tes kecerdasan, namun indikator pertama adalah tinggi badan. Sebab anak dinilai lebih mudah diukur dari tinggi. 
Masalah stunting gencar disosialisasikan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir. 

"Selama ini kita hanya melihat guzi hanya fokus pada berat badan. Berat badan bisa saja terus bertambah tapi tinggi badan tidak
diperhatikan, ilmu pengetahuan semakin berkembang ternyata tinggi badan berpengaruh kepada kecerdasan. Masalahnya bukan hanya pendek tapi kecerdasan,makanya kita lebih fokus lagi," pungkasnya.

Winarko



Berita Terkait



Komentar