#Refleksi#LampungPostWeekend

Batik Digital                 

( kata)
Batik Digital                 
Ilustrasi/Medcom.id.

HAMPIR seluruh provinsi di negeri ini memiliki batik dengan beragam dan corak dan berciri khas daerah. Batik adalah kekuatan budaya yang tidak bisa terkalahkan. Dari tangan-tangan terampil itulah, batik bisa bertahan dari gempuran klaim asing, serta mampu mewarnai fesyen dunia. Batik harus kuat branding dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual.

Adalah Malaysia. Negara jiran ini tidak malu-malu mengklaim bahwa batik merupakan peninggalan leluhurnya. Anak bangsa tidak kehilangan akal.  Pada 2008, Indonesia mendaftarkan batik ke dalam deretan representatif budaya tidak benda warisan manusia UNESCO atau representative list of intangible cultural heritage-UNESCO.

Setelah diterima UNESCO pada 9 Januari 2009, lalu diproses dengan melakukan pengujian tertutup pada 11—14 Mei 2009 di Paris. Barulah pada 2 Oktober 2009, badan dunia PBB mengakui batik sah milik Indonesia. Bernapas lega. Sebenarnya, tidak hanya batik diklaim Malaysia sebagai warisan nenek moyangnya, juga angklung, keris, juga wayang kulit.

Batik harus dijaga. Maka itu setiap2 Oktober diperingati Hari Batik Nasional. Setiap anak bangsa pada hari itu memakai batik. Teman sekantor mem-posting di media sosial, “Ini batikku. Mana batikmu.” Ada lagi, “Kami kompak pakai batik.” Hari itu ditanggalkan seragam kantor demi hari batik.

Sebuah komitmen bersama. Semua kantor dan sekolah di negeri ini kecuali TNI-Polri, mewajibkan karyawan dan siswa memakai batik di hari tertentu. Dengan corak beragam, memakai batik meriah dan murah jadi kebanggaan. Bagaimana caranya, anak bangsa tidak hanya gemar beli barang bermerek dengan harga tinggi, tapi juga mau membeli batik tulis dengan harga mahal.

Pengalaman ketika berada di Kota Surakarta, saya bersama teman mencari batik tulis. “Tidak usah yang mahal-mahal. Harganya cukup di bawah Rp1 juta,” kata teman tadi. Dia pengin membeli batik yang bagus tapi harganya tidak lebih dari Rp1 juta. Pikirku rada aneh. Sepatunya puluhan juta rupiah.  

Pasti temanku tidak mengetahui batik tulis dikerjakan dengan tangan, dan memerlukan keahlian serta ketelitian. Terkadang pembeli tak menghargai proses pembuatannya. Sambil kubisiki ke telinganya, “Kenapa harganya mahal? Karena dibikin berbulan-bulan. Bahkan pada zaman dulu, perajin puasa dulu agar hasilnya lebih sempurna,” kataku.

Beruntungnya, batik tulis tidak ada yang serupa. Kalaupun ada yang sama, hanya coraknya yang berbeda. Kini, bahan batik sudah ada yang printing. Kalau ingin membuat seragam batik seisi kantor diproduksi melalui mesin. Hebatnya lagi di era Revolusi Industri 4.0 yang memunculkan teknologi, membuat batik kian kompetitif. Hanya untuk menjaga dan melestarikan karya anak bangsa ini jangan sampai diklaim negara asing.

Karya anak bangsa dari Balai Besar Kerajinan dan Batik milik Lembaga Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perindustrian di Yogyakarta, mampu mengembangkan aplikasi Batik Analyzer. Alat ini dibuat untuk membedakan produk batik asli dan dan tiruan.

***

Dalam aplikasi berbasis Android dan iOS itu, menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) yang sesuai dengan implementasi industri 4.0 berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0. Dengan alat ini pula, batik Indonesia memiliki keunggulan komparatif di pasar Internasional.

Dan hampir setiap minggu di dinding Instagram dan Facebook, media sosialku dikirim bermacam baju batik. Bahan batik tidak lagi dipajang di toko dan mal. Kini dipasarkan melalui digital untuk mendorong  kemajuan batik nasional. Batik sudah masuk pasar dunia maya.

Apalagi saat ini sudah terasa sekali ada batik impor—datang dari daratan Tiongkok. Dengan motif indah dan bermakna, dengan berbagai gaya dan rancangan, serbuan batik Tiongkok itu akan melemahkan pasar batik Indonesia. Belum terlambat untuk menghadang dan membatasinya.

Dengan perlindungan dari pemerintah, penggiat batik Tanah Air akan merasa nyaman berkarya. Memasuki dunia digital, kini kalangan milenial haruslah mampu memahami bahwa batik adalah jati diri bangsa. Milik Indonesia yang kini sudah mendunia. Mau apalagi? Mulai dari bahan biasa hingga katun dan sutra. Mulai harga Rp100 ribu hingga Rp1 juta ke atas.

Data dari Kementerian Perindustrian mencatat, nilai ekspor dari industri batik nasional pada semester I pada tahun 2019 mencapai 17,99 juta dolar AS. Sepanjang tahun 2018 itu, tembus hingga US$52,44 juta. Batik hasil karya anak bangsa dari berbagai pulau–tujuan utama pengapalannya, antara lain ke Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa. Menembus ekspor!

Dan lebih menjadi kebanggaan, ternyata industri batik banyak didominasi industri kecil dan menengah (IKM). Penyebarannya ada di 101 sentra di Indonesia. Industri ini mampu mendirikan 47 ribu usaha dengan serapan tenaga kerja lebih 200 ribu. Apalagi provinsi mampu mengembangkan batik berkhas, makin banyak lagi unit usaha baru batik di daerah.

Di Lampung ada namanya rumah batik Gabovira yang menghasilkan batik khas daerah. Batik Inu milik masyarakat Kalianda. Kini, industri batik diperkenalkan berbahan baku baru alternatif terbuat dari serat rayon, atau biji kapas. Bahan baku baru itu, batik akan lebih menarik dan kompetitif.

Termasuk juga pemakaian zat warna alam pada produk. Hal ini mampu memberikan solusi mengurangi pencemaran. Banyak temanku kecewa jika mencuci batik selalu luntur. Ada pelayan toko memberinya cairan agar tidak luntur. Batik sebagai eco-product bernilai ekonomi tinggi harus dengan ramah terhadap lingkungan. Ini harus dijaga!

Kualitas dan mutu harus memiliki standar kualitas. Jika tidak, akan mudah sekali batik dalam negeri kalah dengan produk impor. Saatnya anak bangsa membangun strategi–mengembangkan desain produk, sehingga mampu bersaing di pasar global. Batik karya anak Indonesia haruslah yang terbaik. Apalagi setiap tahun Hari Batik diperingati dengan menemukan inovasi barunya.  ***    

 

Iskandar Zulkarnain



Berita Terkait



Komentar