bankpakanpeternak

Bank Pakan, Solusi Bagi Peternak Sapi Hadapi Musim Kemarau

( kata)
Bank Pakan, Solusi Bagi Peternak Sapi Hadapi Musim Kemarau
dok Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Tidak semua jenis limbah menyulitkan hidup manusia. Hal ini terbukti dengan dikelolanya limbah hasil pertanian dan perkebunan yang melimpah pada saat panen raya di Desa Rantau Fajar.

Desa yang terletak di Kecamatan Raman Utara, Kabupaten Lampung Timur tersebut sangat potensial dalam bidang pertanian, perkebunan, dan peternakan.

Sebanyak 49 jiwa dan 74 jiwa penduduk Desa Rantau Fajar masing-masing memelihara sapi dan kambing. Sekitar 80% biaya pemeliharaan sapi dikeluarkan peternak untuk memenuhi kebutuhan pakannya.

Hal tersebut tentunya menjadi beban tersendiri bagi peternak. Di lain pihak, Desa Rantau Fajar menemui kendala dalam hal penanganan limbah pertanian. Limbah pertanian tersebut antara lain berupa daun singkong, batang singkong, dan jerami jagung yang sangat melimpah pada saat panen raya.

Upaya untuk menekan biaya pakan tersebut ditempuh melalui pembuatan Bank Pakan. Bank Pakan merupakan salah satu komponen kegiatan Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Riset dan Teknologi  yang dikomandani oleh Dr. Kusuma Adhianto.

Menurut Kusuma Adhianto yang merupakan dosen pada Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, limbah hasil pertanian dan perkebunan di Desa Rantau Fajar belum dimanfaatkan secara optimal.

"Limbah tersebut seharusnya dapat menjadi sumber pakan tambahan bagi sapi," ujarnya beberapa waktu lalu. 

Menurut Abdurohman, Kepala Desa Rantau Fajar, sebagian besar masyarakat desa yang dipimpinnya bermatapencaharian sebagai petani dan peternak. Ternak yang dipelihara oleh masyarakat di Desa Fajar baru adalah ayam, sapi, dan kambing.

Inovasi dalam bentuk Bank Pakan sangat membantu peternak dalam menyediakan pakan yang berkualitas dan berkuantitas.

Kualitas pakan dapat diukur dari palatabilitasnya, kandungan serat kasar, daya cerna, dan kemampuan bahan pakan untuk bertahan dalam waktu yang lama.

Kelemahan kualitas limbah pertanian adalah palatabilitasnya rendah, kandungan serat kasar tinggi, daya cerna rendah, dan tidak mampu bertahan lama.

Bank pakan  yang diresmikan 5 September 2020 itu merupakan inovasi pakan ternak dengan mengoptimalkan melimpahnya limbah pertanian dan perkebunan yang sangat membantu peternak dalam menunjang produksi ternak.

Inovasi tersebut diyakini Abdurohman selaku Kepala Desa Rantau Fajar akan berhasil karena masyarakat desa tersebut dalam kehidupan sehari-hari sejak dahulu dekat dengan ternak.

Keberadaan Bank Pakan merupakan solusi bagi peternak dalam mengatasi keterbatasan hijauan pada saat musim kemarau. Peningkatan jumlah sapi yang dipelihara peternak juga merupakan tantangan bagi peternak untuk menyediakan hijauan dalam jumlah yang lebih banyak, tahan lama, dan berkualitas.

"Bank Pakan didirikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan sapi agar sapi dapat tetap mengonsumsi hijauan pada saat musim kemarau, " ujarnya. 

Metode pengawetan limbah pertanian yang ditempuh dalam kegiatan Bank Pakan adalah pembuatan silase berbahan limbah pertanian. Hal tersebut berarti bahwa ternak sapi di Rantau Fajar dapat mengonsumsi hijauan sepanjang tahun tanpa mengenal musim.

Proses silase (ensilage) terjadi dalam kondisi anaerob (tanpa oksigen). Prosedur yang dikerjakan dalam pembuatan silase pada prinsipnya harus dapat memacu terjadinya kondisi anaerob dan kondisi asam dalam waktu sesingkat mungkin. Silase yang baik dapat dilihat dari tingkah laku ternak dalam mengonsumsi pakan silase. Ternak akan memakan pakan silase dengan lahap apabila kualitasnya baik.

Pakan yang diawetkan melalui proses silase tidak boleh segera diberikan pada ternak setelah diambil dari tempat penyimpanan pakan yang dinamakan silo. Silase yang telah dikeluarkan dari silo sebaiknya diangin-anginkan terlebih dahulu.

 

Setiaji Bintang Pamungkas






Berita Terkait



Komentar