#PERTANIAN#BANJIR#BERITALAMPUNGSELATAN

Banjir di Palas-Sragi, Petani Rugi Miliaran Rupiah

( kata)
Banjir di Palas-Sragi, Petani Rugi Miliaran Rupiah
Petani sedang melakukan penyulaman tanaman padi yang rusak akibat terendam banjir, Rabu 24 Februari 2021.(Foto: Lampost.co Armansyah)


Kalianda (Lampost.co) -- Petani di Kecamatan Palas dan Sragi, Kabupaten Lampung Selatan, diperkirakan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah akibat banjir yang merendam tanaman padi mereka. Sebab, terdapat 453 hektare (ha) tanaman padi yang mengalami rusak atau puso.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, tiap petani yang tanaman padinya mengalami puso rata-rata telah mengeluarkan modal Rp5-6 juta dalam luasan satu hektare. Jika dikalikan dengan jumlah 453 ha yang puso, maka diperkirakan petani mengalami kerugian mencapai miliaran rupiah.

petani asal Desa Baliagung, Made Sujane (39) mengaku tanaman padi yang terendam banjir telah berumur berkisar 15-30 hari setelah tanam (HST). Tanaman yang puso rata-rata mengeluarkan modal berkisar Rp5-6 juta per ha.

"Dalam setiap lahan satu hektare, petani sudah mengeluarkan biaya modal cukup banyak, seperti biaya pengolahan lahan sebesar Rp1,4 juta, bibit pembenihan Rp360 ribu, cabut dan tanam bibit Rp500 ribu, dan tanam padi Rp1,2 juta," kata dia, Rabu, 24 Februari 2021.

Selain itu, kata Made, petani juga sebagian ada yang mengeluarkan biaya modal untuk pemupukan pertama, penyemprotan hama dan biaya perawatan lainnya. "Saya pribadi biaya yang sudah mengeluarkan mulai dari pengolahan tanah, pembelian bibit, penyemaian bibit hingga penanaman padi mencapai Rp5 juta lebih dalam satu hektare," ujarnya.

Hal senada diungkapkan, Ketua Gabungan Kelompok Tani Bali Jaya, Desa Bali Agung, Kecamatan Palas, Dewa Aji Sastrawan. Ia mengatakan, rata-rata petani telah menghabiskan pupuk urea 75 kilogram, NPK 50 kilogram, dan empat sak pupuk petroganik untuk pemupukan padi di tahap pertama itu.

"Kalau di Bali Agung pemakaian pupuk subsidi di kisaran 125 kilogram untuk pupuk kimia dan 200 kilogram pupuk organik. Namun ditengah sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut, pemupukan tanaman padi tahap pertama tersebut menjadi sia-sia. Pupuk yang telah ditebar menjadi mubazir karena hanyut terbawa air banjir," katanya. 

Dewa mengatakan tanaman padi yang puso akibat banjir diketahui belum terdaftar dalam Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Sehingga, petani tidak mendapatkan jaminan atas kerusakan tersebut. "Enggak ada yang masuk AUTP. Justru saat banjir belum ada pembukaan di PT Jasindo," ujar dia. 

Di sisi lain, Kepala UPTD Pelaksanaan Penyuluhan Pertanian Kecamatan Sragi, Eka Saputra mengatakan berdasarkan pantauan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) terdapat 155 Ha yang puso. Menurutnya, seluruh tanaman padi yang puso sudah dilaporkan dan diusulkan untuk mendapatkan bantuan benih melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPH-Bun)  Lamsel.

"Dari luas 546,50 ha yang terdampak banjir, setidaknya ada 155 ha tanaman padi berusia berkisar tujuh hingga 30 hari setelah tanam (HST) puso. Peristiwa ini sudah kami laporkan ke Dinas TPH-Bun Lamsel untuk diusulkan mendapatkan bantuan benih," kata dia. 

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar