#beritalampung#beritabandarlampung#banjir

Banjir di Lampung Rendam 4.704 Hektare Tanaman Padi

( kata)
Banjir di Lampung Rendam 4.704 Hektare Tanaman Padi
Sawah terendam banjir di Lampung Selatan. Dok/Lampost.co


Bandar Lampung (Lampost.co): Pemerintah Provinsi Lampung mencatat total 4.704 hektare (ha) tanaman padi terdampak banjir yang terjadi di sejumlah wilayah di Provinsi Lampung.

Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Holtikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Eko Dyah menjelaskan dari total 4.704 ha lahan sawah terkena banjir ada sekitar 1.140 ha tanaman pagi yang gagal panen. 

"Kerusakan tanaman akibat banjir dilaporkan terjadi pada bulan Januari, Februari, Mei, Juli, dan Oktober 2022. Luas terkena banjir tertinggi dilaporkan pada bulan Januari 2022 sebesar 1.935 ha dengan puso seluas 593 ha," kata Eko Dyah, Kamis, 27 Oktober 2022. 

Baca juga:  Jalan Desa Suak Lamsel Putus Diterjang Banjir Bandang

Pada tahun 2022, lanjut dia, ada 10 kabupaten yang melaporkan kerusakan tanaman padi akibat banjir, antara lain Lampung Barat, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Tulangbawang, Tulangbawang Barat, dan Way Kanan.

"Lampung Selatan terkena banjir 895,5 ha dan puso 209 ha. Lampung Tengah terkena banjir 82 ha, Lampung Timur terkena banjir 0,5 ha, Lampung Barat terkena banjir 350 ha dan puso 15 ha. Kemudian Pesawaran terkena banjir 30 ha, Pringsewu terkena banjir 126,25 ha dan puso 23,87 ha," papar dia. 

Selanjutnya Tanggamus terkena banjir 479 ha dan puso 41 ha. Tulangbawang terkena banjir 1.619,75 ha dan puso 579,25 ha. Tulangbawang Barat terkena banjir 300 ha, dan Way Kanan terkena banjir 38 ha dan puso 8,5 ha. 

Dia mengatakan pihaknya telah melakukan rekomendasi mulai dari penerapan pola tanam spesifik lokasi, dengan melihat waktu dimulainya musim hujan dan pola curah hujan di lokasi tersebut, serta pemilihan komoditas/varietas dan waktu tanam.

"Penyebarluasan informasi prakiraan iklim dan kewaspadaan terhadap bencana alam (banjir dan kekeringan) juga dilakukan dimana informasi tentang prakiraan iklim di dapat dari BMKG diteruskan ke kabupaten melalui petugas yang ada di lapangan, agar timbul kewaspadaan terhadap bencana alam yang mungkin terjadi terutama di daerah rawan bencana alam," katanya. 

Adi Sunaryo








Berita Terkait



Komentar