#banjir

Banjir di Kampung Mesirdwijaya Tuba Rugikan Petani hingga Miliaran Rupiah

( kata)
Banjir di Kampung Mesirdwijaya Tuba Rugikan Petani hingga Miliaran Rupiah
Sawah yang terendam banjir di Kampung Mesirdwijaya, Kecamatan Gedungaji Baru, Tulangbawang merugikan petani hingga mencapai miliaran rupiah. (Foto: Lampost.co/Ferdi Irwanda


Menggala (Lampost.co) -- Kerugian yang diakibatkan banjir di Kampung Mesirdwijaya, Kecamatan Gedungaji Baru, Tulangbawang ditaksir mencapai miliaran rupiah. Selain menggenangi seratusan rumah, banjir  turut merendam seratusan lahan pertanian warga. Akibatnya, padi yang baru berusia 3 sampai 15 hari terancam gagal panen atau puso. 

Ketua Gapoktan Jadi Makmur, Kampung Mesirdwi Jaya, Rahmat, mengatakan berdasarkan catatannya terdapat sekitar 230 hektare milik 138 warga yang terendam banjir. Menurutnya, kerugian ditaksir mencapai Rp1 miliar lebih dengan asumsi modal pengolahan tanah hingga pemupukan pertama yakni Rp4,5 juta dikalikan 230 hektare. Rahmat menyebut hasilnya mencapai Rp1,3 miliar. 

"Sampai hari ini, padinya masih terendam, enggak kelihatan karena tertutup air. Jadi, padi baru ditanam, baru mau berakar, barusan dipupuk, langsung terendam," ujar Rahmat di Kantor Gapoktan Jadi Makmur, Sabtu, 15 Januari 2022. 

Petani Kampung Mesirdwi Jaya, Yono, mengungkapkan dalam satu hektare lahan sawah yang kini terancam mati akibat terendam banjir membutuhkan biaya Rp4 juta. Modal itu digunakan untuk membajak lahan sawah, membeli obat pestisida, upah penyemprotan, upah tanam, upah mencabut bibit, dan membeli pupuk, serta upah tenaga kerja. 

"Lahan saya dua hektare, terendam banjir semua. Bakalan mati kayaknya. Ini sudah siap-siap tanam ulang. Kalau soal biaya, itu kan enggak mesti. Karena tergantung orangnya," katanya.

Baca juga: Korban Banjir di Kampung Sumberagung Tuba Belum Dapat Bantuan

Sedangkan Penjabat (Pj) Kepala Kampung Mesirdwijaya, Wayan, mengatakan terdapat 136 rumah dan 170-an hektare sawah petani terendam banjir yang terjadi dalam satu pekan terakhir. Menurutnya, ketinggian air yang menggenangi rumah warga kini mulai surut dan warga mulai membersihkan material sisa banjir yang masuk ke dalam rumah. 

"Kemarin sore sudah mulai surut. Warga sudah mengeluarkan bekas lumpur yang ada di dalam rumah. Rata-rata air di dalam rumah warga itu sekitar 10 sampai 25 cm," kata Wayan.

Namun, ujar dia, air masih merendam 170-an hektare padi warga yang hingga kini memasuki hari kesembilan. Padi yang baru berumur 7 sampai 14 hari ini diperkirakan mengalami gagal panen. 

Wayan memperkirakan kerugian ditaksir mencapai ratusan juta dengan asumsi modal dikalikan jumlah luas lahan dan kerusakan barang perabotan warga akibat banjir yang menggenangi rumah. 

"170 hektare itu sudah rusak, sudah hanyut, karena kan baru tanam. Faktor utama banjir karena kanal pembuangan dari SP4, SP5 yang membuang air ke Sungai Pidada mulai dangkal dan serut (ditumbuhi rumput) ditambah curah hujan tinggi," ujar dia. 

Dua kali dilanda banjir sepanjang tahun ini, dia mengaku belum ada bantuan turun kepada korban. Menurut Wayan, banjir tahun ini merupakan peristiwa terparah sejak 15 tahun silam.

Wandi Barboy







Berita Terkait



Komentar