#guruhonorer#sekolah

Balada Guru Honorer

( kata)
Balada Guru Honorer
Ilustrasi (Foto: Dok/Google Images)

SIAPA menyangka, lelaki sepuh itu adalah seorang guru. Sosok berperawakan kurus dengan rambut memutih di balik peci, berkacamata, dan gemar menggendong tas selempang itu adalah tenaga pengajar di sebuah sekolah di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Jatiagung, Lampung Selatan. Usianya sudah menginjak lebih dari 65 tahun, tetapi semangatnya untuk mencerdaskan anak bangsa tak pernah surut. Pak Daryanto namanya.

Itu terlihat saat dirinya berada di depan kelas. Suaranya masih lantang menjangkau hingga ke ujung kelas, geraknya pun masih energik untuk mondar-mandir menguasai pembelajaran, dan artikulasinya dalam berbicara masih begitu jelas terdengar telinga. Setiap hari, kakek lima cucu itu bahkan masih kuat untuk menunggangi Honda Supra bututnya dari Labuhandalam, Bandar Lampung, menuju sekolah, sekitar 8 kilometer jaraknya.

Saat itu, saya yang juga menjadi guru honorer di sekolah itu bertanya kepadanya, apa yang membuatnya tetap mengajar walaupun kebanyakan lelaki seusianya memilih untuk menikmati hari tua bersama anak-cucu tercinta. Jawaban yang terlontar dari lisannya di sungguh mulia.

“Selama tubuh masih kuat, saya akan tetap mengabdi untuk memberikan ilmu kepada anak didik. Semoga ini juga menjadi amal jariah sebagai tabungan saya kelak,” katanya.

Ya, satu bulan sebelum Pak Daryanto sakit lalu wafat, sosok teladan kami itu memang masih mengajar di kelas dan masih royal memberi nasihat kepada kami guru-guru muda. Satu ibrah yang kita bisa dapatkan dari sosok almarhum adalah perjuangan guru untuk mengabdi kepada bangsanya tidak pernah mengenal batasan apa pun.

Kisah ini menjadi salah satu cerita heroik guru-guru di negeri ini yang dengan sekuat tenaga, upaya, dan pikiran mencurahkan segalanya demi anak didik. Akan tetapi, dengan segala bentuk pengorbanan itu, sudahkah mereka mendapatkan penghidupan yang layak?

Ironisnya, alih-alih menyandang status sejahtera, guru honorer seakan terlunta-lunta mengharap insentif yang sudah menjadi hak mereka. Di Bandar Lampung saja, ada sekitar 7.000 guru honorer yang menunggu pencairan insentif periode Januari—Juni 2019 sebesar Rp1,3 juta (Lampung Post, Selasa [14/5/2019]).

Bagi seorang guru honorer, Rp1,3 juta merupakan nominal yang besar. Terlebih, mereka membutuhkan biaya lebih untuk merayakan Lebaran sebentar lagi. Maka itu, pihak terkait harus peka mendengarkan jeritan hati guru honorer untuk segera merealisasikan tunjangan itu sebelum Idulfitri.

Dengan penghasilan per bulan yang jauh dari kata cukup, jangan sampai guru honorer terpaksa meninggalkan ladang amal jariahnya jika mendapatkan pekerjaan lain yang lebih mapan.

Sebab, saat ini anak didik milenial membutuhkan banyak tenaga pendidik untuk membenahi akhlak mereka di zaman yang serbaganas ini. Maka itu, sudah semestinya guru honorer harus dibuat betah dalam menjalani peran mulianya. Semoga! 

Chairil Anwar, Wartawan Lampung Post

Berita Terkait

Komentar