#bkpm#investasi

Bahlil yang 'Bihlul'

( kata)
Bahlil yang 'Bihlul'
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI


Oleh: Abdul Kohar
Dewan Redaksi Media Group

LAGI-lagi saya mesti segera angkat topi untuk sosok yang satu ini: Bahlil Lahadalia. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini seperti tak pernah kehilangan cara untuk mendulang prestasi. Mungkin karena sesuai nama depannya, yang menurut seorang teman santri berakar dari kata Arab bihlul yang berarti cerdas, pintar, smart.

Prestasi puncak ialah saat ia bersama seluruh jajaran BKPM mewujudkan realisasi investasi yang melampaui target. Hebatnya lagi, itu dicapai di tengah situasi serbasulit, yakni pandemi covid-19. Itu kian mengonfirmasi bahwa Bahlil ialah sang bihlul yang pintar nan banyak akal.

Dalam pengumumannya awal pekan ini, BKPM mencatat realisasi investasi mencapai Rp826,3 triliun atau tumbuh 2,1%  year on year (yoy). Realisasi investasi tersebut mencapai 101,1% dari target tahun 2020 yang dipatok sebesar Rp817,2 triliun. Realisasi sebesar itu mampu menyerap  1,15 juta orang tenaga kerja dari 153.349 proyek investasi.  "Alhamdullilah, atas kerja keras teman-teman di BKPM itu mampu melakukan pendampingan kepada investor sebesar Rp826,3 triliun," ujar Bahlil.

Yang menggembirakan, dari total realisasi investasi tersebut,  penanaman modal dalam negeri (PMDN) menyumbang lebih dari separuh investasi, yakni senilai Rp413,5 triliun (setara 50,1%). Kontribusi PMDN itu tumbuh 7% jika dibandingkan dengan realisasi investasi tahun 2019. Sedangkan penanaman modal asing (PMA) turun 2,4% dengan nilai investasi sebesar Rp412,8 triliun (setara 49,9%). PMA masih didominasi dari Singapura sebesar US$9,8 miliar dan Tiongkok sebesar US$4,8 miliar.

Bahlil menegaskan bahwa pertumbuhan PMDN ini merupakan pencapaian yang luar biasa, terlebih di era pandemi. Kini, investor domestik menjadi penopang investasi di saat hampir seluruh ekonomi negara-negara di dunia mengalami pelemahan dampak pandemi virus korona. "Jadi, kini kita tidak bisa membeda-bedakan PMA dan PMDN lagi, karena PMDN sangat luar biasa," ujarnya. 

Satu hal lagi perkembangan yang layak dicatat: investasi di luar Jawa tumbuh 11,3% (yoy) menjadi Rp417,5 triliun. Namun,  realiasi investasi di Jawa yang mencapai Rp408,8 triliun tercatat turun sebesar 5,9% (yoy).

Realisasi investasi di Indonesia yang tumbuh positif dan melampaui target di tahun 2020 jelas  capaian yang patut diapresiasi. Pasalnya, hampir semua negara dirundung paceklik investasi di era pandemi. Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perdagangan dan Pembangunan dalam sebuah laporannya menyatakan secara total investasi asing langsung  global anjlok 42% pada tahun 2020, menjadi US$ 859 miliar (Rp12 ribu triliun). Itu berarti turun sebesar 30%. Penurunan tersebut bahkan lebih dalam jika dibandingkan dengan krisis keuangan 2009.

Investasi asing langsung (FDI) di negara berkembang turun 12%. Uni Eropa mencatat penurunan FDI sebesar dua pertiga. Bahkan tidak terlihat arus masuk terbaru pada 2020 untuk investasi ke Inggris. Tiongkok, selain Indonesia, ialah pengecualian. Negeri Tirai Bambu itu sukses menggeser Amerika Serikat sebagai negara yang mampu mendatangkan investasi asing terbesar di dunia.

Keberhasilan Tiongkok mengendalikan sebagian besar virus korona di dalam wilayahnya tahun lalu, meskipun menjadi negara pertama yang terkena penyakit mematikan itu, membuat negara berpenduduk lebih dari 1,4 miliar itu mendatangkan US$163 miliar (Rp2.200 triliun) investasi masuk tahun lalu. Sedangkan AS, tergeser ke peringkat kedua dengan raihan US$ 134 miliar (Rp1.885 triliun).

Di Indonesia, penurunan investasi asing langsung bisa ditutup oleh peningkatan PMDN. Itu artinya investor domestik percaya bahwa apa yang dijanjikan oleh pemerintahan Jokowi bukanlah pepesan kosong. Bahlil dan tim pun dengan cerdas dan pas sanggup menerjemahkan misi Presiden Jokowi.

Bahlil melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa semua orang kerjakan. Pertama, ia benahi cara berpikir orang-orang di BKPM. Ia tanamkan sikap bahwa BKPM itu bukan bos, melainkan pelayan. Karena itu, tim BKPM wajib proaktif menjemput bola. Kedua, Bahlil menginstruksikan bahwa segala tetek-bengek investasi harus kelar di BKPM. Ibarat penggalan syair lagu Rhoma Irama: 'BKPM yang memulai, BKPM pula yang mesti mengakhiri'. Ketiga, Bahlil menyebut bakal membersihkan para abuleke dari tim BKPM. Abuleke inilah yang kerap memainkan jurus pungut sana pungut sini sehingga investor pun jeri.

Walhasil, intuisi Presiden Jokowi pada acara Silaturahim Nasional dan Buka Puasa Bersama HIPMI di Jakarta, pada awal Mei 2019, lalu serasa tepat. Saat itu Presiden berkata, "Saya melihat-lihat Adinda Bahlil ini kelihatannya cocok jadi menteri. Saya lihat dari samping, saya lihat dari bawah ke atas, cocok ini kelihatannya."

Bahlil memang bihlul. ***

Sobih AW Adnan







Berita Terkait



Komentar