#sampahplastik#lingkungan

Bahaya, Peneliti Temukan Mikroplastik dalam Darah Manusia

( kata)
Bahaya, Peneliti Temukan Mikroplastik dalam Darah Manusia
Ilustrasi darah.


Jakarta (Lampost.co) -- Para peneliti menemukan kandungan partikel plastik dalam darah manusia untuk pertama kalinya. Sebanyak 77 persen sampel darah yang diuji pada studi ilmiah mengandung polusi mikroplastik.

Menurut studi tinjauan sejawat yang dipublikasikan pada jurnal Environment International, polietilena tereftalat (PET) adalah jenis plastik yang paling banyak ditemukan pada aliran darah manusia. Plastik PET paling sering digunakan untuk memproduksi botol minuman, kemasan makanan, dan pakaian.

"Dari penemuan itu menunjukkan partikel-partikel tersebut melakukan perjalanan ke seluruh tubuh. Bahkan partikel kecil itu mungkin bersarang di organ-organ tubuh," ujar Chief Operating Officer Common Seas Indonesia, Celia Siura, dalam keterangan tertulis, Selasa, 29 Maret 2022.

Baca juga: Amerika Serikat dan Indonesia Penghasil Sampah Plastik Terbanyak Dunia

Studi ini dilakukan berdasarkan instruksi Common Seas dan dipimpin ilmuwan dari Vrije Universiteit, Amsterdam. Studi ini mengamati darah dari 22 orang yang diuji untuk mengetahui kandungan lima jenis plastik-polimetil metakrilat (PMMA), polipropilena (PP), polistirena (PS), polietilena (PE), dan polietilena tereftalat (PET). 

Sebanyak 17 dari 22 donor yang diamati mengandung partikel plastik dalam darahnya. Para pegiat yakin temuan baru ini menimbulkan kekhawatiran serius atas dampak plastik terhadap kesehatan.

"Para peneliti membuktikan partikel plastik dapat diangkut ke organ lainnya melalui aliran darah dan dapat menyebabkan respons peradangan. Mereka menyebut partikel mikroplastik itu bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan, air, serta udara yang dihirupnya," ujar dia.

Celia menjelaskan temuan tersebut tentu menjadi kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia. Sebab, polusi plastik di Indonesia sangat tinggi dengan sampah plastik di sungai, laut, darat, dan daerah pertanian. Hal tersebut meningkatkan kemungkinan dikonsumsi hewan ternak dan ikan yang kemudian dimakan manusia.

Di Indonesia, plastik juga sering bersentuhan dengan makanan. Misalnya, sayuran, buah-buahan, air, minuman ringan, daging, dan ikan. Sehingga, cara terbaik untuk mengurangi paparan mikroplastik adalah mengurangi jumlah sampah plastik.

Namun, Indonesia memiliki masalah plastik yang luas dan berkembang lantaran infrastruktur pengelolaan limbah yang buruk, kurangnya alternatif plastik yang layak, dan impor limbah. Indonesia adalah rumah bagi dua sungai paling tercemar di dunia dan lebih dari 80 persen kota di Indonesia akan kehabisan ruang TPA dalam tiga tahun ke depan.

“Sampah plastik mengambil alih negara kita. Kami melihat secara langsung kehancuran lingkungan, sosial, dan ekonomi yang disebabkan aliran plastik ke sungai Brantas. Sungguh mengejutkan mengetahui hari ini plastik juga ada dalam darah kita, mengalir melalui tubuh kita,” kata Celia.

Dia menyebut Common Seas sebagai LSM internasional yang memiliki misi untuk mengatasi polusi plastik, dengan dukungan dari pemerintah daerah dan 40 juta komunitas PC Muslimat NU yang kuat. Pihaknya akan bekerja sama untuk membantu menciptakan Sungai Brantas yang bersih, aman, dan sehat.

 “Sungai Brantas merupakan salah satu sungai paling tercemar di dunia. Common Seas mencatat, terdapat 1,5 juta sampah popok sekali pakai yang dibuang di Sungai Brantas setiap harinya. Pada 2023, Common Seas akan mencegah pembuangan 62,4 juta popok sekali pakai ke Sungai Brantas,” terang dia.

Pihaknya akan melatih penjahit lokal dan penyandang disabilitas untuk membuat serta menjual popok yang dapat dipakai kembali. Kemudian, menjangkau ribuan keluarga dengan cepat melalui jaringan yang ada, dan mengurangi jumlah sampah popok yang masuk ke sungai.

Common Seas, menurut dia, akan mempekerjakan lebih dari 100 ibu rumah tangga yang tinggal di sepanjang sungai. “Proyek ini akan menghasilkan sekitar Rp130 miliar keuntungan ekonomi ke daerah tersebut, dan keluarga juga dapat menghemat biaya dengan beralih ke popok yang dapat dipakai kembali,” ujar dia.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar