#bahasadaerah

Bahasa Daerah Rentan Punah Tiap Tahun jadi Fenomena Global

( kata)
Bahasa Daerah Rentan Punah Tiap Tahun jadi Fenomena Global
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Aminudin Azis. DOK


Jakarta (Lampost.co) -- Bahasa daerah rentan punah setiap tahunnya. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Aminudin Azis, mengatakan ancaman kepunahan bahasa daerah atau bahasa ibu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga menjadi fenomena global.

Dia menyebut data UNESCO menunjukkan sekitar 200 bahasa daerah punah dalam rentang waktu 30 tahun terakhir. Di Indonesia, sekitar 11 bahasa daerah punah pada 2019. Hingga saat ini, ada sekitar 718 bahasa daerah di Indonesia.

“Ini (punahnya bahasa daerah) adalah fenomena global. UNESCO sendiri menunjukkan bila tiap dua minggu ada bahasa daerah yang hilang,” ujar dia dalam taklimat media bersama Fortadikbud, Minggu 2 Oktober 2022.

Pihaknya melakukan riset mengenai kondisi bahasa daerah pada 2021. Ada 24 bahasa daerah yang diteliti. Hasilnya tidak cukup menggembirakan. 

“Semuanya mengalami kemunduran,” kata dia.

Aminudin mengatakan di Indonesia bahasa daerah yang terancam punah tidak hanya terjadi di wilayah timur saja. Namun, juga terjadi di wilayah barat.

Dia mengambil contoh bahasa Sunda yang penggunanya cukup banyak. Setidaknya bahasa Sunda memiliki 48 juta penutur dan jumlah penuturnya menyusut sekitar 2 juta dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

“Bahasa Sunda penuturnya banyak, mungkin penyusutan itu cukup kecil. Tapi, bayangkan bila bahasa daerah itu (jumlah penuturnya) kecil, tentu akan banyak,” ujar dia.

Aminudin mengatakan kepunahan bahasa daerah juga terpengaruh oleh globalisasi. Namun, di sisi lain, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional juga berpengaruh terhadap kepunahan bahasa daerah.

Dia menganalogikan penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai ‘zero sum game’. “Kita menaikkan bahasa Indonesia, maka menurunkan bahasa daerah. Oleh karena itu, kita cari keseimbangan,” kata dia.

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar