#mimbar#abdulkohar

Bahagia ala Finlandia

( kata)
Bahagia ala Finlandia
Abdul Kohar Dewan Redaksi Media Group. MI


Jakarta (Lampost.co) -- Bahagia ternyata tidak sesimpel yang dituliskan dan dilukiskan netizen melalui meme-meme yang bertaburan di media sosial. Butuh beragam daya dorong, energi, kekuatan, dan waktu ekstra untuk mewujud­kannya. Kalau ada yang berkata ‘bahagia itu sederhana’, jangan-jangan orang itu sedang pura-pura bahagia.

Itulah gambaran yang saya dapat seusai membaca laporan World Happiness Report yang dirilis Jumat, 19 Maret 2021. Dalam laporan skor indeks ke­bahagiaan negara-negara di dunia itu, Indonesia masih di peringkat 82 dari 149 negara yang disurvei.

Betul bahwa posisi tersebut mengantarkan Indonesia naik 10 anak tangga jika dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya di nomor 92. Akan tetapi, level kebahagiaan Indonesia masih di bawah Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina. Sudah lebih dari lima tahun terakhir, posisi kita dalam indeks kebahagiaan masih di wilayah medioker. Jadi, bahagia memang tak sesimpel rumusan para netizen atau motivator.

Negara yang rakyatnya menempati posisi paling bahagia, yakni Finlandia, juga butuh proses panjang dan fokus luar biasa untuk sampai pada ‘puncak tangga bahagia’. Finlandia kembali dinobatkan jadi negara paling bahagia di dunia setelah empat tahun berturut-turut mendapatkan gelar itu.

Finlandia di peringkat teratas diikuti Denmark, Swiss, Islandia, dan Belanda. Pertanyaannya, mengapa Finlandia ditetapkan sebagai negara dengan indeks kebahagiaan ter­tinggi?

Seorang profesor ekonomi dari University of British Columbia yang juga jadi salah satu penyusun laporan tersebut, John Helliwell, mencoba menjawabnya. Dalam survei tersebut, kata Helliwell, responden dari 149 negara itu ditanya soal level kebahagiaan, usia harapan hidup, pendapatan, dukungan sosial, hingga tingkat korupsi. Tak berhenti di situ, survei juga dibuat berdasarkan tingkat kesejahteraan hidup para imigrannya.

“Memang benar semua orang Finlandia lebih bahagia daripada penduduk negara lain, tetapi imigran mereka juga imigran paling bahagia di dunia. Ini bukan tentang DNA Finlandia. Ini cara hidup yang dijalani di negara itu,” papar Helliwell.

Dari sisi ketangguhan ekonomi, kendati Finlandia bukan tergolong negara paling kaya, tetapi mampu menangani gejolak ekonomi yang melanda. Finlandia telah mampu bangkit kembali dari kemerosotan ekonomi dalam tempo cepat. Selain itu, hanya sekitar 6% populasi Finlandia yang hidup dalam kemiskinan. Finlandia juga memiliki jumlah ‘pekerja miskin’ terendah di Uni Eropa setelah kemerosotan ekonomi itu terjadi.

Finlandia memang menarik pajak tinggi kepada warga. Namun, pajak tersebut diinvestasikan dengan bijaksana sehingga mampu menciptakan program-program sosial yang merata: membentuk sistem jaminan sosial yang mantap, dukungan mengurangi pengangguran, pendidikan tinggi gratis, bahkan ‘kotak Kela’ gratis untuk setiap bayi yang lahir.

Faktor lainnya yang membuat rakyat Finlandia hidup bahagia ialah tingkat korupsi pejabat sangat rendah. Bahkan, kepolisian di Finlandia disebut sebagai polisi paling dapat dipercaya di dunia. Dari hasil survei, hampir tak ada tindakan korupsi dan kebrutalan yang dilakukan kepolisian Finlandia.

Selama pandemi covid-19, Finlandia telah melaporkan kasus virus korona terendah di Eropa. Para penulis dalam laporan itu menyebutkan, Finlandia berada di peringkat sangat tinggi dalam ukuran saling percaya yang telah membantu melindungi kehidupan dan mata pencarian selama pandemi.

Bertahun-tahun sebelumnya, Finlandia terkenal sebagai negara dengan tingkat pencandu alkohol dan tingkat bunuh diri tinggi. Namun, selama satu dasawarsa terakhir, pemerintah Finlandia berjuang keras meningkatkan kesehatan masyarakat. Upaya tersebut dianggap berhasil karena telah memangkas tingkat pencandu alkohol dan tingkat bunuh diri hingga lebih dari separuhnya.

Penduduk Finlandia menikmati kualitas hidup, keamanan, dan pelayanan publik yang baik. Di antara negara-negara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development, Finlandia memiliki tingkat ketimpangan yang rendah.

Jika negeri ini ingin menggapai puncak tangga bahagia, tiru saja peta jalan Finlandia. Mulai saja dari hal-hal sederhana seperti saran filsuf Plato: kendalikan hasrat berlebihan, ja­ngan serakah. Siapa tahu, itu membantu memangkas tingkat korupsi, yang ujung-ujungnya mengantar rakyat menuju puncak kebahagiaan.

 

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar