#refleksi#badak#TNWK

Badak Bercucu

( kata)
Badak Bercucu
Iskandar Zulkarnain, Wartawan Lampung Post. (DOK)


LAMPUNG jadi sorotan dunia! Perjalanan panjang penangkaran badak sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) membuahkan hasil. Badak jantan bernama Andalas–hasil pengembangbiakan di Kebun Binatang Cincinnati, Amerika Serikat, kini memberinya cucu bagi Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur.


Andalas dilahirkan pada 13 September 2001. Lalu diboyong ke Indonesia pada 2007. Ia pun dikawinkan dengan badak betina bernama Ratu di TNWK. Selang beberapa tahun, tepatnya, 23 Juni 2012,  pasangan badak itu melahirkan anak jantan bernama Andatu.

Andatu merupakan badak sumatera pertama di Asia yang lahir dalam penangkaran selang 124 tahun, sejak kelahiran badak sumatera terakhir di Calcutta Zoo, India. Dari perkawinan Andatu dan Rosa, maka lahirlah badak betina pada Kamis, 24 Maret 2022. Kini cucu Andalas belum diberi nama.

Kelahiran anak badak Rosa itu menambah semarak penangkaran hewan bercula di Suaka Rhino Sumatera (SRS) TNWK. Kini jumlahnya  delapan ekor. Selain Rosa, ada lagi badak Bina (betina), Ratu (betina), Andalas (jantan), Harapan (jantan), Andatu (jantan), dan Delilah (betina).

Mengapa ada penangkaran? Sebab, hewan ini hampir punah. Dan proses kelahirannya tidaklah mudah. Kali pertama badak Ratu yang dikawinkan dengan Andalas sejak tahun 2007. Dua kali hamil, dua kali pula keguguran.

Perkawinan badak ini juga tergolong sulit karena dalam satu tahun masa berahinya hanya empat bulan. Untuk menyatukan sperma dan ovumnya, hanya bisa terjadi dalam waktu empat hari. Kelahiran anak badak Andatu dan Rosa jadi tonggak sejarah bagi pelestarian badak sumatera di negeri ini.

Sedangkan Rosa adalah badak yang muncul di jalan, kebun, kampung dan bertemu dengan kendaraan serta manusia di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Hewan spesies mamalia besar ini diboyong ke TNWK pada 2005. Rosa berperilaku tidak takut dengan manusia.

Inilah yang mengancam keselamatannya, serta kemungkinan ia terjangkit penyakit dari hewan ternak. Dalam pengembangbiakan, kehamilan Rosa menemui tantangan. Ini disebabkan perilakunya merasa nyaman ketika dekat manusia. Sepuluh tahun menunggu, Rosa baru bisa dikawinkan.

Kehamilan pertama pada 2017. Namun upaya itu sia-sia. Badak Rosa sudah delapan kali mengalami keguguran. Kelahiran kali ini merupakan hasil dari kebuntingan Rosa yang kesembilan. Dengan masa kebuntingan 476 hari, ternyata Rosa bunting dari Desember 2020 hingga Maret 2022. Kelahiran anak badak sumatera kalinya ini, menunjukkan kepada masyarakat dunia bahwa Indonesia berhasil melakukan konservasi spesies mamalia besar.

Lalu siapa yang berhak memberi nama dari cucu badak Andalas ini? Publik menunggu. Jika anak Andalas diberi nama Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, saat itu. Nama yang sudah disiapkan untuk anak Andalas-Ratu, yakni Abadi, Andatu, dan Arjuna. Semuanya memiliki makna yang mendalam.

Nama Abadi artinya, kelahiran badak ini telah ditunggu selama satu abad dan perkembangan diharapkan dapat berlanjut lestari. Sedangkan  Andatu berarti anugerah dari Tuhan. Dan juga kepanjangan dari Andalas dan Ratu. Arjuna kepanjangan dari Andalas—Ratu. Akhirnya dipilih Andatu sebagai nama bayi badak. Namanya bermakna, anugerah dari Tuhan Mahakuasa.

SRS sudah jadi bahan diskusi. Saat ini, ada badak jantan bernama Harapan. Ia juga didatangkan dari Amerika pada November 2015. Badak Harapan diharapkan mengikuti jejak Andalas untuk menjadi bapak dari anak-anak badak sumatera berikutnya.

Dan selain Ratu dan Rosa, masih ada lagi badak betina bernama Bina. Ia juga akan mampu memberikan keturunan. Bina adalah satu-satunya badak sumatera yang hidup— berasal dari program penyelamatan badak antara 1985 dan 1991. Inilah kekuatan TNWK, tempat penangkaran badak seutuhnya.

***

Bagi kebanyakan orang, apa untungnya memproteksi badak sumatera? Lalu sampai-sampai badak Andalas dan Harapan diboyong dari Negeri Paman Sam ke TNWK. Menurut Susie Ellis, direktur eksekutif International Rhino Foundation yang berbasis di Virginia, Amerika Serikat, melindungi badak berarti ikut melestarikan spesies yang hidup bersama-sama badak.

Seperti gajah, harimau, tapir, rusa, dan banyak lagi hewan yang dilindungi karena perburuan liar. Dan Indonesia memiliki keragaman mamalia paling banyak di bumi. Tetapi populasi seperti badak, harimau, dan orangutan mengalami penurunan tajam. Saat ini jumlah badak tak sampai 200 ekor.

Susie menilai Indonesia memiliki kelebihan dalam pembiakan mamalia ini. Dari lima jenis badak yang masih bertahan di dunia, Indonesia menyimpan dua jenis, yakni badak sumatera dan badak jawa. Dan Indonesia mempunyai opsi masa depan, salah satunya lewat bayi dari Andalas. Ini sudah terbukti dengan lahirnya cucu Andalas dari pasangan Andatu dan Rosa.

Badak diperkenalkan pertama kali oleh Joseph Banks, seorang naturalis yang menjadi presiden Royal Society. Ketika itu, dokumentasi badak yang ditembak, di daerah 16 km dari Benteng Marlborough, Bengkulu, pada 1793. Gambar hewan itu lalu diterbitkan dalam makalah tentang spesimen.

Baru pada 1814, spesies hewan ini diberikan nama ilmiah oleh Johann Fischer von Waldheim, seorang ilmuwan Jerman. Dia kurator dari Museum Negara Darwin di Moskow, Rusia. Nama ilmiah Dicerorhinus sumatrensis berasal dari istilah Yunani:  di (dua), cero (cula), dan rhinos (hidung). Sedangkan sumatrensis menandakan “dari Sumatera”.

Bahkan, negeri ini mencetak uang–sebagai alat pembayaran bergambar badak. Pada era Presiden Soekarno menerbitkan uang kertas pecahan bernilai Rp1.000 pada tahun 1957, dan 1960 juga bergambar badak. Di era pemerintahan Presiden Soeharto juga menerbitkan uang kertas pecahan Rp100 pada 1977. Itu artinya, badak menjadi perhatian untuk dilindungi.

Dalam catatan persatwaan, hewan yang terancam punah di dunia itu, ada dua spesies yang masih hidup di Indonesia, yakni badak sumatera dan jawa. Badak sumatera satu-satunya badak Asia yang memiliki dua cula. Hewan ini kerabat dekat badak purba yang cenderung berambut dari spesies badak lainnya. Sedangkan badak jawa hanya bercula satu.

Kedua hewan ini bertahan dari ancaman kepunahan akibat penyempitan habitat, penyakit menular, hingga perburuan ilegal. Samahalnya gajah yang diburu gadingnya. Kalau badak diambil culanya yang dijual ke pasar gelap. Cula badak dipercaya sebagai obat tradisional yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tapi kepercayaan tidak terbukti secara ilmiah.

Ketika menghadiri peringatan Hari Badak Sedunia serta peresmian Suaka Rhino Sumatera (SRS) II, di TNWK, Lampung Timur, pada Oktober 2019, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi berkomitmen melindungi satwa dari kepunahan serta menjadikan SRS sebagai benteng terakhir melestarikan, melindungi, dan mengembangbiakkan badak sumatera.

Pada saat melakukan kunjungan di kandang badak, terlihat badak pejantan Harapan langsung mendatangi Gubernur dan menundukkan kepalanya. “Itu bukan sebagai bentuk hormat, melainkan tanda minta menyelamatkan populasi badak yang kini terancam punah,” kata Arinal yang juga tokoh rimbawan Lampung.

Yang jelas dengan beranakpinaknya badak di TNWK, Lampung menjadi destinasi pariwisata nasional berwawasan lingkungan yang mengutamakan konservasi alam. Tanah Lada ini banyak menyimpan badak. Ingat! Tidak semua provinsi, bahkan dunia memiliki badak bercula dua. ***

Winarko








Berita Terkait



Komentar