#ojk#perbankan

Aset Perbankan Lampung Tumbuh 7,43%

( kata)
Aset Perbankan Lampung Tumbuh 7,43%
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung, Bambang Hermanto. Lampost.co/Triyadi Isworo


Bandar Lampung (Lampost.co) -- Industri jasa keuangan di Lampung menunjukkan pertumbuhan pada triwulan III–2021. 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampung mencatat aset perbankan di Lampung tumbuh 7,43% (Rp7,771 miliar) dari Rp96.792 miliar menjadi Rp104.563 miliar. 

Kepala OJK Lampung, Bambang Hermanto, mengatakan pertumbuhan aset itu sejalan dengan penyaluran kredit yang tumbuh 5,28% (Rp3,751 triliun) dari sebesar Rp67,2 triliun menjadi Rp71 triliun (yoy) dan penghimpunan dana pihak ketiga yang tumbuh 6,31% atau Rp3.649 Miliar (yoy). 

"Hal ini tentunya memberikan dampak positif terhadap perekonomian Lampung," kata Bambang di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Senin, 6 Desember 2021.

Ia juga menjelaskan OJK juga terus mencermati pergerakan rasio non performance loan (NPL) perbankan. Pada triwulan III-2021 kualitas kredit perbankan di Lampung cukup terkendali ditengah faktor eksternal yang masih belum sepenuhnya membaik. Meski terjadi pertumbuhan ekonomi positif pada 2 triwulan terakhir.

Rasio kredit bermasalah (NPL) masih di bawah threshold 5% dan mulai menunjukkan tren menurun dari triwulan sebelumnya, yaitu Juni 2021 4,98% menjadi 4,86% (menurun 0,12%).  

Hal itu terlihat dari penurunan nominal kredit bermasalah sebesar Rp37,8 triliun dari Rp3,491 triliun (Juni 2021) menjadi Rp3,45 triliun pada September 2021. 

Tiga sektor ekonomi penyumbang kredit bermasalah terbesar, yaitu sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi sebesar Rp1,64 triliun atau 47,52% dari total NPL, pedagang besar dan eceran sebesar Rp1,18 triliun (34,21%) dan penerima kredit bukan lapangan usaha Rp342,89 miliar (9,93%).  

Potensi kenaikan NPL juga diingatkan OJK selaku regulator di sektor jasa keuangan dan jauh-jauh hari diantisipasi perbankan dengan menjaga kecukupan pembentukan cadangan kerugian aktiva produktif serta lebih selektif dalam penyaluran kredit dan pelaksanaan restrukturisasi kredit.

Effran Kurniawan







Berita Terkait



Komentar