#kripto

Aset Kripto Senilai Rp1,4 Triliun Dibobol Peretas

( kata)
Aset Kripto Senilai Rp1,4 Triliun Dibobol Peretas
Ethereum salah satu jenis Kripto. Ilustrasi


Jakarta (Lampost.co) -- Investasi aset kripto diklaim memiliki teknologi yang aman. Namun, ternyata sejumlah platform perdagangan atau exchange aset kripto masih berhasil dibobol dan dicuri hacker atau peretas.

Kasus terbaru di Jepang menambah daftar hal tersebut sehingga membuat investor harus waspada. Dilaporkan terjadi pencurian aset kripto yang menimpa platform exchange bernama Liquid. Aset kripto yang dicuri disebut sangat besar dengan nilai USD97 juta atau kisaran Rp1,4 miliar.

Kabar buruknya, porsi senilai USD45 juta yang dicuri adalah jenis Ethereum. Hacker memanfaatkan hal ini melakukan konversi ke jenis aset kripto Ether. Sebab, sifatnya yang desentralisasi sehingga hasil curian tidak bisa dibekukan, dikutip dari Engadget.

Firma investigasi bernama Elliptic menyebutkan laporan ini diterima langsung dari pihak platform perdagangan aset kripto Liquid. Mereka mengungkapkan pada Kamis ada akses yang tidak dikenal pada rekening aset kripto nasabahnya. 

Kasus ini menjadi salah satu aksi pencurian aset kripto terbesar yang terjadi pada bulan ini. Sebelumnya juga dilaporkan USD611 juta aset kripto beragam jenis dicuri dari platform Poly Network. Namun, kabarnya hasil curian tersebut berhasil dikembalikan setelah mereka menggelar sayembara berhadiah untuk pelaku mengungkap celah keamanan di sistem.

Pada 2018 Jepang juga mengalami beberapa kasus pencurian aset kripto. Pemerintah Jepang sendiri mulai membuat regulasi pengawasan aset kripto sejak 2014 setelah kasus pencurian senilai USD400 juta dan USD480 juta terjadi di platform Mt. Gox dan membuat perusahaan perdagangan aset kripto ini bangkrut.

Di Indonesia sejumlah platform perdagangan atau exchange aset kripto mulai bermunculan. Satu-satunya cara agar investor bisa mendapatkan keamanan dalam berinvestasi dengan hanya mengandalkan platform yang mendapatkan izin Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI).

Effran Kurniawan








Berita Terkait



Komentar