#nuansa#program-daur-ulang-sampah#sampah-plastik

Asa Pegiat Sampah

( kata)
Asa Pegiat Sampah
foto dok Lampost.co

Chairil Anwar

Wartawan Lampung Post

BUNGKUSAN sampah dalam plastik keresek tampak bergelantungan di pagar besi rumah Turina. Sesekali, terlihat warga yang lewat meletakkan bahkan melempar sampah-sampah plastik itu ke dalam pagar rumahnya. “Itu hal biasa! Malah, saya yang nyuruh warga untuk membuang sampah di depan rumah saya,” kata ibu paruh baya tersebut, beberapa waktu lalu.

Sejak enam bulan terakhir, Turina memang merangkul warga di lingkungan sekitarnya, yakni di Kampung Baru III (Kabarti), Panjang Utara, Bandar Lampung, untuk melaksanakan program daur ulang sampah. Semangat Turina itu disambut oleh para ibu rumah tangga yang memang risi dengan banyaknya sampah yang kian menumpuk di pinggir Pantai Kabarti, tepat di belakang kampung mereka.

Awalnya, Turina menjemput bola dengan mendatangi rumah-rumah warga untuk mencari sampah-sampah yang bisa didaur ulang. Namun, kini dia tak perlu repot untuk berkeliling kampung. Sebab, warga mulai menyadari niat mulia Turina dan kawan-kawan, dengan mengantar langsung sampah-sampah itu ke depan rumahnya. “Penduduk sini sangat mendukung. Kami enggak perlu repot lagi. Saya yang terima kasih karena mereka yang antar sampah ke rumah,” ujarnya.

Dengan didukung perusahaan BUMN dan sebuah lembaga kemanusiaan, langkah Turina semakin mantap. Buktinya, dia sudah mengader 10 ibu rumah tangga di kampungnya untuk mengelola barang yang dianggap tak berguna itu.

Sebuah rumah seluas 10 x 8 meter pun mereka sulap menjadi “bengkel” tempat mereka berkreasi dengan sampah. Di dalam ruangan itu, terlihat botol-botol bekas air mineral tertata rapi di sebuah rak.

Tamu yang datang akan disuguhi dengan sofa dan meja-meja minimalis yang memenuhi ruangan. Tak dinyana, ternyata tempat duduk itu terbuat dari tumpukan botol air mineral yang disusun.

Sofa mini itu ada yang dilapisi dengan bahan kulit ada pula yang dibuat orisinal dengan warna-warni dari sampah plastik yang sudah dikemas rapi. “Kami menyebutnya ecobrick,” kata Turina.

Usai diamati dari dekat, botol-botol yang sudah dicuci bersih itu terisi oleh potongan plastik-plastik bekas kemasan makanan ringan. Usai digunting kecil-kecil, potongan itu dimasukkan ke dalam botol hingga padat. Sebuah tongkat kayu menjadi alat bantu untuk memadatkan botol-botol itu dengan sampah plastik. Lalu, botol-botol itu disusun dan direkatkan hingga menjadi rangka meja-kursi. “Kami menyebut cara ini dengan ecobrick,” ujarnya.

Siapa yang mengira, daya tahan botol-botol plastik itu jauh lebih lama ketimbang bahan lainnya. Menjadi masuk akal, lantaran sampah plastik membutuhkan waktu 1.000 tahun agar dapat terurai.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi harapan Turina dan kader-kadernya. “Kami belum punya pasar yang bisa menampung barang-barang ini, Mas!” kata Turina lirih sambil memandang tumpukan sofa daur ulangnya.

Tentu Turina berharap langkah mereka menyelamatkan lingkungan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, seperti instansi, perusahaan, dan pemerintah, dengan memakai barang-barang daur ulang miliki mereka sebagai bentuk dukungan atas penanggulangan sampah. Semoga.

Bambang Pamungkas



Berita Terkait



Komentar