#as#dolar#perangdagang#rrt

AS-RRT Meredam Perang Dagang!

( kata)
AS-RRT Meredam Perang Dagang!
H. Bambang Eka Wijaya. (Foto: Dok/Lampost.co)


MAKAN malam Presiden AS Donald Trump dan Presiden RRT Xi Jinping di Buenos Aires Sabtu (1/12/2018) membuahkan kesepakatan meredam eskalasi perang dagang antara kedua negara. Kedua kepala negara setuju untuk tidak mengenakan tarif tambahan di sektor perdagangan setelah 1 Januari 2019.

Berita itu menurut CNBC ditulis Bloomberg Minggu (2/12/2018) mengutip dari laporan televisi nasional Tiongkok, CGTN.

"Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat untuk menjaga perang dagang mereka dari eskalasi dengan janji menahan sementara pengenaan tarif baru," tulis Bloomberg.

Sementara itu, penasihat Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan kepada wartawan, pertemuan itu berlangsung sangat baik. Pertemuan makan malam itu berlangsung lebih lama dari rencana, yakni lebih dari dua jam.
Sebelumnya CNBC Internasional melaporkan Xi Jinping mengatakan kerja sama adalah pilihan terbaik bagi Tiongkok dan AS. Sedang Trump sebelum makan juga mengatakan diskusi pada poin tertentu akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi kedua negara.

Kesepakatan AS-RRT meredam eskalasi perang dagang ini jelas merupakan kabar baik bagi negara-negara berkembang yang beberapa bulan terakhir ini terimbas perang dagang tersebut. Salah satunya Argentina, tuan rumah KTT G20, yang kurs mata uangnya terhadap dolar AS terdepresiasi lebih 40%, hingga IMF mengucurkan batuan sebesar 850 miliar dolar AS untuk memulihkan ekonominya.

Sedangkan Indonesia, kurs mata uang rupiah sampai akhir Oktober 2018 sempat terdepresiasi lebih 10% (ytd) terhadap dolar AS. Namun sepanjang November 2018 rupiah kembali bangkit dan menguat dramatis dari 15.200 per dolar AS menjadi Rp14.300 per dolar AS pada 30 November 2018. Bahkan, jika kondisi eksternal dan internal kondusif, bank sentral yakin dalam 2019 nilai rupiah kembali ke fundamentalnya, Rp13.500 per dolar AS.

Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani dari Buenos Aires mengingatkan posisi Indonesia akan tetap hati-hati dengan komitmen para pemimpin negara mengenai ketegangan perang dagang yang sedang terjadi.
Trump menginginkan ekonomi negara-negara lain lebih baik untuk menjadikan ekonomi AS lebih kuat. Sedang Xi Jinping menyatakan perdagangan menguntungkan semua pihak, karena itu menjaga hubungan antarnegara menjadi kepentingan bersama.

Komitmen itu, menurut Sri, political language yang normatif. Itu mengindikasikan keharusan semua pihak meriset kembali kebijakannya pada kesepakatan dagang multilateral.  

 

 

H. Bambang Eka Wijaya







Berita Terkait



Komentar