#AS#rudal#korut#internasional

AS Peringatkan Korut Konsekuensi Uji Coba Rudal

( kata)
AS Peringatkan Korut Konsekuensi Uji Coba Rudal
Pemimpin Korut Kim Jong-un meminta Donald Trump meringankan sanksi. Foto: AFP

New York (Lampost.co) -- Amerika Serikat (AS) memperingatkan Korea Utara akan konsekuensinya jika negara itu kembali melakukan uji coba senjata pada Tahun Baru. Namun di saat bersamaan, AS menawarkan fleksibilitas jika Korut tetap bersedia negosiasi.
 
Frustrasi oleh kurangnya dikuranginya sanksi setelah tiga pertemuan dengan Presiden Donald Trump, Korea Utara telah bersumpah ‘hadiah Natal’ yang tidak menyenangkan. Hadiah Natal untuk AS tidak akan datang dengan konsesi pada akhir tahun.
 
Pada sesi Dewan Keamanan PBB tentang Korea Utara, Duta Besar AS, Kelly Craft, menyuarakan keprihatinan bahwa Korut mengindikasikan akan menguji rudal balistik antarbenua. Rudal itu dirancang untuk menyerang benua Amerika Serikat dengan senjata nuklir.

"Uji coba rudal dan nuklir tidak akan memberikan keamanan yang lebih besar bagi DPRK," kata Craft, merujuk pada Korea Utara dengan nama resminya, Republik Rakyat Demokratik Korea.
 
"Kami percaya bahwa DPRK akan berpaling dari permusuhan dan ancaman lebih lanjut, dan bukannya membuat keputusan berani untuk terlibat dengan kami," ujar Dubes Craft, seperti dikutip AFP, Kamis. 12 Desember 2019.
 
"Jika acara membuktikan sebaliknya, kami, Dewan Keamanan ini, semua harus siap untuk bertindak sesuai,” ucapnya mengenai sanksi untuk Korut.
 
Dia menyebut uji coba jangka pendek terus-menerus Korea Utara "sangat kontraproduktif" dan, dalam kecaman langsung yang tidak biasa oleh Amerika Serikat, mengatakan mereka melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
 
Craft tampaknya mengesampingkan memenuhi tuntutan Korea Utara untuk tawaran dalam minggu-minggu terakhir tahun ini, dengan mengatakan: "Biarkan saya jelaskan, Amerika Serikat dan Dewan Keamanan memiliki tujuan - bukan batas waktu."
 
Namun dia mengatakan Amerika Serikat, yang menjadi Presiden Dewan Keamanan PBB bergilir, untuk mengadakan pertemuan, bersedia untuk terus berbicara.
 
"Kami tetap siap untuk mengambil tindakan secara paralel, dan secara bersamaan mengambil langkah konkret menuju perjanjian ini," kata Craft.
 
"Kami siap untuk fleksibel dalam cara kami mendekati masalah ini,” pungkasnya.
 

Medcom



Berita Terkait



Komentar