#Kesehhatan#KoronaVirus

AS Berpotensi Jadi Pusat Pandemi Covid-19

( kata)
AS Berpotensi Jadi Pusat Pandemi Covid-19
Seorang pria mengenakan masker di tengah kekhawatiran penyebaran covid-19 di New York City, AS, 8 Maret 2020. (Foto: AFP)

Jenewa (Lampost.co) -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa Amerika Serikat berpotensi menjadi pusat pandemi baru virus korona (covid-19) setelah Eropa. Pernyataan didasarkan pada lonjakan jumlah kasus dan kematian terkait covid-19 di seantero AS.

"Jumlah kasus (covid-19) di AS bertambah dengan sangat cepat. Jadi, memang ada potensi (menjadi pusat pandemi)," ujar juru bicara WHO, Margaret Harris, seperti dikutip dari Guardian.

Kekhawatiran diungkapkan WHO usai Presiden AS Donald Trump mewacanakan membuka kegiatan aktivitas bisnis di Negeri Paman Sam bulan depan. Padahal, AS belum dapat mengendalikan pandemi virus tersebut, sedangkan April sudah ada di depan mata.

Berdasarkan data terbaru Universitas Johns Hopkins pada Rabu 25 Maret 2020, jumlah kasus covid-19 di AS telah melampaui 53 ribu dengan lebih dari 700 kematian dan 348 pasien sembuh. Sebagian besar kasus dan kematian akibat virus tersebut berada di negara bagian New York.

Gubernur New York Andrew Cuomo mengaku khawatir terhadap perkembangan covid-19 di wilayahnya, dan meminta pemerintah federal untuk segera mengirim tambahan peralatan medis. Menurutnya, jumlah peralatan medis yang dikirim ke New York masih sangat jauh dari kata cukup.

"Kami membutuhkan bantuan pemerintah federal sekarang juga," tutur Cuomo, seorang politikus Partai Demokrat.

"New York sudah seperti burung kenari di dalam tambang batu bara. Apa yang terjadi di New York bisa saja terjadi di California dan Illinois," sambungnya.

Cuomo mengecam pemerintah federal yang hanya mengirim 400 ventilator ke New York. Ia mengatakan saat ini New York memiliki 7.000 ventilator, dan tambahan alat yang dibutuhkan mencapai sedikitnya 30 ribu.

Sementara itu di India, negara dengan tingkat populasi tertinggi kedua dunia di atas AS, kebijakan penutupan wilayah secara menyeluruh (lockdown) telah ditingkatkan ke level nasional.

Perdana Menteri Narendra Modi mengatakan kebijakan tersebut memang akan melukai perekonomian negara, namun diperlukan demi menyelamatkan nyawa 1,3 miliar warga India.

Abdul Gafur



Berita Terkait



Komentar