#kerusuhan#bola#malang

Aremania Lampung Berduka, Minta Semua Pihak Dijatuhi Sanksi

( kata)
Aremania Lampung Berduka, Minta Semua Pihak Dijatuhi Sanksi
Logo suporter Arema FC. (Ilustrasi)


Bandar Lampung (Lampost.co)--Tragedi Kanjuruhan menjadi pukulan keras bagi persepakbolaan Indonesia. Ratusan nyawa harus menjadi korban dan jumlah kematian tersebut merupakan yang terbanyak dalam sejarah sepak bola Indonesia.

Beberapa pihak ada yang menyebutkan, bahwa banyak orang meninggal di Kanjuruhan karena kesulitan bernafas usai petugas keamanan menembakkan gas air mata ke arah tribun penonton.

Salah satunya diungkapkan Ketua Aremania wilayah Lampung, Aviv Hidayat. Ia mengatakan dugaan pelanggaran yang dilakukan jelas ada. Pelanggaran itu dilakukan oleh penonton, panitia pelaksana, hingga petugas keamanan.

"Pertama saya ucapkan duka cita yang mendalam bagi saudara-saudara yang menjadi korban di Kanjuruhan. Mengenai adanya dugaan pelanggaran jelas ada, kalau tidak ada yang dilanggar, tidak mungkin ada tragedi," kata dia, Minggu, 2 Oktober 2022.

Berdasarkan aturan FIFA, penggunaan gas air mata di dalam stadion sejatinya tidak tepat. Hal itu tercantum dalam pasal 19 b soal pengamanan di pinggir lapangan.

"Di aturan itu tertulis No firearms or 'crowd control gas' shall be carried or used, atau senjata api atau gas pengendali massa tidak boleh dibawa dan digunakan. Tapi kenyataannya aparat keamanan masih tidak humanis dalam menghadapi masa di stadion," kata Aviv.

Ia mengatakan jika ditanya siapa yang salah dalam tragedi Kanjuruhan, tentu semua pihak bersalah. Penonton juga akhirnya terkesan bersalah karena menerobos masuk ke lapangan setelah pertandingan usai.

"Panitia pelaksana juga salah karena tidak bisa mengendalikan jumlah penonton, bahkan info yang kami dengar itu tiket terjual 42 ribu sedangkan kapasitas stadion hanya 30 ribu. Jadi ada kurang lebih 12 ribu lebih yang masuk di ring  dua tanpa bangku atau tribun berdiri," katanya.

Selanjutnya, para aparat keamanan juga bisa dikatakan bersalah. Meskipun tugasnya untuk pengamanan, tapi cara yang digunakan tidak humanis bahkan terkesan arogan. Banyak video yang memperlihatkan aparat berseragam menendang dan memukul penonton menggunakan pentungan.

"Fatalnya lagi, malam tadi di Stadion Kanjuruhan itu tembakan gas air mata diarahkan ke tribun yang isinya penonton mau menuju pintu keluar. Saya bisa rasakan dan bayangkan kepanikan yg terjadi saat itu,  mau keluar tapi ada gas air mata dan lampu stadion yang sengaja di padamkan oleh panpel. Itu yangg akhirnya jadi penyebab utama jatuhnya ratusan korban jiwa," kata Aviv.

Atas peristiwa itu, Aviv meminta untuk seluruh pihak bertanggungjawab dan mengusut tuntas tragedi Kanjuruhan. Sebab, kejadian serupa bukan pertama kalinya terjadi, melainkan berulang kali terjadi di Indonesia.

"Semua harus diusut tuntas, beri sanksi berat untuk panpel, dan aparat keamanan, juga untuk Club Arema dan pendukungnya. Itu SOP panpel di semua stadion jika ada kerusuhan, dulu 2019 di stadion Sumpah Pemuda juga pernah kejadian, tapi tanpa gas air mata sehingga tidak ada korban jiwa," katanya.

Sri Agustina








Berita Terkait



Komentar