#pendidikan#rektorunila#aom
Refleksi

Aom Ajaib

( kata)
Aom Ajaib
Pelantikan Rektor Unila Karomani oleh Mendikbud Nadiem Makaraim. (LAMPUNG POST)

PERSETERUAN pemilihan rektor Universitas Lampung usai sudah. Bertepatan Hari Guru Nasional (HGN), Senin (25/11), Karomani dilantik Nadiem Makarim sebagai rektor Unila periode 2019—2023. Sosok Karomani yang akrab disapa Aom itu memang dibilang ajaib. Dia dipilih di era Menristek Dikti M Natsir, tetapi dilantik oleh Mendikbud Nadiem.

Dibilang ajaib karena perubahan nomenklatur kementerian. Ajaib kedua adalah Aom yang hanya meraih 19 suara pada pemilihan rektor (pilrek) putaran pertama, mampu mengalahkan pesaingnya Bujang Rahman yang memperoleh 22, dan Kamal mengantongi enam suara pada putaran kedua.  

Pada pilrek putaran kedua yang digelar pada Kamis, 17 Oktober lalu itu, Aom meraih tambahan 25 suara dari utusan Kemenristek Dikti. Total suara berjumlah 72 suara terdiri 65% suara Senat dan 35% suara Menristek Dikti. Dengan tambahan suara itulah, Aom memenangi pemilihan. Selamat!    

Langkah selanjutnya adalah Aom menyusun kabinet untuk empat tahun mendatang. Semua itu hak prerogatif sang Rektor. Yang jelas, cita-citanya menjadikan Unila sebagai kampus terdepan di negeri ini. Saatnya Aom harus membangun soliditas dan sinergisitas antarelemen di kampus.

Sebagai lembaga pendidikan tinggi, yang dituntut dari perubahan zaman, Unila harus memperkuat kemampuan dan kompetensi dosen, penelitian, pengabdian masyarakat. Kehadiran Unila sangat dirasakan anak-anak bangsa. Aom juga harus mempersempit konflik setelah pemilihan rektor karena ganjalan itu akan menghabiskan energi.

Pastinya Aom piawai memainkan peran Unila dalam menjawab perubahan zaman. Berangkat dari orasi ilmiah sebagai guru besar Ilmu Komunikasi, Aom mengupas model komunikasi antarelite lokal Banten. Orasinya itu sebuah refleksi kajian komunikasi antarbudaya yang ada di Lampung.

Aom membagi tiga kelompok elite lokal di Banten, yaitu ulama, jawara, dan umara. Ketiga kelompok itu memiliki peran penting bagi kehidupan rakyat. Ketiganya sangat disadari Aom, sering kurang harmonis karena ada  perbedaan peran dan kepentingan di masyarakat.

Unila harus memperkuat kemampuan dan kompetensi dosen, penelitian, pengabdian masyarakat. Kehadiran Unila sangat dirasakan anak-anak bangsa.

Aom mengilustrasikan—meski berkonflik di antara ketiganya—sejatinya mereka adalah satu konfigurasi yang saling menunjang dalam proses kehidupan. Dalam berbagai kepentingan itu, Unila harus menempatkan diri menjadi figur sentral ilmuwan yang memberikan pencerahan bagi tanah Lampung yang isinya banyak ulama, jawara, dan umara.

Tantangan berat dan nyata di hadapan Aom, bagaimana mendongkrak peringkat Unila yang kini berada di urutan ke-23 universitas terbaik bidang penelitian di Indonesia versi Kemenristek Dikti. Dan itu sangat disadari Aom bahwa peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan finansial, Unila bisa meraih posisi lebih baik lagi pada 2025 sebagai top ten university.

Tidak hanya itu, paham radikalisme dan intoleransi menjadi pekerjaan nomor wahid. Paham yang sudah bersemayam di beberapa kampus di Indonesia membuat dosen dan mahasiswanya banyak terpapar.

Kondisi kampus terpapar itu tidak membuat Unila tutup mata dan berdiam diri. Unila harus memberi pencerahan untuk anak bangsa, bangun dan berhadapan sekuat tenaga menghadapi gerakan radikalisme di kampus.

***

Dua hasil riset, yakni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Indonesian Institute for Society Empowerment, membeberkan bahwa pengaruh paham radikalisme dan intoleransi sudah merasuki otak dan sumsum anak-anak bangsa di kampus dan di sekolah. 

Pusat Pengkajian Islam dan Moderasi Masyarakat Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tahun 2018 ditemukan persoalan krusial pada dosen. Diketahui ada 28,10% dosen yang tidak setuju mengajarkan intoleransi. Kalangan guru diketahui 46,10% setuju dengan radikaslisme. Sementara mahasiswa bervariasi bahkan hingga 35% bersikap intoleran.

Riset UIN itu juga senada dengan hasil penelitian Indonesian Institute for Society Empowerment pada 2012. Risetnya menunjukkan bahwa ideologi agama 45,5% menjadi motif aksi teror yang dilakukan selama ini. Itu sangat jelas terjadi menjelang Pilkada DKI Jakarta dan Pemilihan Presiden 2019.

Selain motif agama, ada pula motif solidaritas komunal bertengger 20% dan mob mentality (12,7%). Bagaimana menangkalnya? Aom sambil berseloroh saatnya menguatkan narasi kebangsaan.

“Indonesia separuhnya surga. Orang Singapura hanya sejam mengeliling negerinya. Kita saja harus berjam-jam terbang dari Jakarta ke Papua. Ini kan nikmat,” kata Aom.

Tidak hanya narasi kebangsaan, kata Aom, isu radikalisme juga ditangkal dengan cara moderasi beragama dan mendata akun media sosial (medsos) mahasiswa, dosen, hingga pegawai. Sangat beruntung Unila tidak termasuk kampus yang menjadi tempat berkembangnya kelompok Islam eksklusif transnasional.

Kelompok itu ditengarai masuk kampus dari pintu Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Paham itu dibawa sekelompok mahasiswa yang kemudian difasilitasi oleh organisasi kampus.

Kelompok tersebut cenderung mengutamakan kepentingan golongannya di sejumlah LDK. Dalam berbagai penelitian, gerakan tarbiah (pendidikan) itu dipengaruhi oleh Ikhwanul Muslimin di Mesir. Aom bukan dari NU atau Muhamamdiyah atau golongan lainnya. Tapi Aom adalah kelompok Merah Putih, tegak lurus merekatkan perbedaan dalam bingkai Indonesia Satu.

Mari kita teliti, sudah adakah kelompok ini masuk kampus di Lampung?  Sebagai aktivis, Aom tidak terlena dengan gerakan tersebut. Dia menyadarkan masyarakat kampus agar hidup lebih baik lagi. Targetnya jangan sampai Unila terpapar radikalisme dan intoleransi. Unila pula harus dibangun dengan keberagaman dan berkelanjutan serta mengelola kecerdasan.

Unila tidak hanya mengurus orang menjadi cerdas, tetapi lebih kepada berwirausaha dengan kerja sama pihak ketiga. Di kampus itu, ada rumah sakit, pompa bensin, dan akan ada hotel yang dikelola profesional. 

Keajaiban yang ditunggu dari gagasan Karomani menjadikan Unila motor penggerak wirausaha di Lampung. Alumni tidak lagi berpikir ingin menjadi pegawai negeri, tetapi lebih pada kemandirian untuk membuka bisnis. Oleh karena itu, akan terbuka pula lapangan kerja baru.  

Itu mengapa pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim, dijadikan mendikbud oleh Presiden Jokowi. Sebab, dunia pendidikan perlu inovasi, kreativitas, dan berjiwa wirausaha, serta dimerdekakan agar paham radikalisme dan intoleransi tidak lagi tubuh subur juga bersemayam di kampus.   ***

Bambang Pamungkas

loading...

Berita Terkait

<<<<<<< .mine
loading...
||||||| .r621
loading...
=======
>>>>>>> .r624

Komentar