cuacaburukgelombangtinggilampung

Nelayan Kalianda dan Rajabasa Takut Melaut

( kata)
Nelayan Kalianda dan Rajabasa Takut Melaut
Sejumlah nelayan yang berdandar di Dermaga Bom Kalianda, Lampung Selatan, saat memperbaiki jaring, Minggu, 3 November 2019. Lampost.coArmansyah

Kalianda(Lampost.co):Tidak mau ambil resiko, sejumlah nelayandi Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan, enggan melaut, Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir kondisi perairan selat sunda terjadi kencang angin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Lampost.co, beberapa nelayan lebih memilih membersihkan perahu dan perlengkapan nelayan lainnya untuk mengisi kekosongan mereka.

Seperti yang diungkapkan, Winarno (38) salah satu nelayan bagan congkel di Desa Maja, Kecamatan Kalianda mengatakan sejak tiga hari terakhir dirinya tidak melaut akibat cuaca laut yang ekstrim. Ia lebih memilih untuk memperbaiki perahu dan alat tangkap.

"Saat ini saya hanya bisa mengisi hari-hari dengan membetulkan perahu dan jaring. Walaupun sesekali melaut, namun tidak berani jauh dari bibit pantai karna anginnya yang terlalu kencang. Saya khawatir akan keselamatan apa lagi masih ingat pasca bencana tsunami lalu," katanya, Minggu, 3 November 2019.

Hal senada dikatakan, Agus Abidin (36) nelayan asal Desa Waymuli Induk, Kecamatan Rajabasa. Dia mengaku seoama tidak melaut ia lebih memilih mengais rezeki melalui kerja serabutan demi menghidupi keluarga.

"Kalau memaksa melaut hasil tangkapan juga saat ini menurun. Soalnya, angin kencang ikan sulit didapatkan. Bahkan, tidak jarang kalau pulang tanpa membawa hasil. Mendinga saya jual jasa perbaiki parabola atau televisi warga," ujarnya.

Sebelumnya, seorang nelayan di TPI Desa Ketapang, Kecamatan Ketapang, Wandi (45), mengatakan akibat angin kencang yang mengakibatkan gelombang tinggi tersebut, perahu nelayan tradisional dengan mesin tempel tidak bisa sampai ke tengah laut. "Jadi terpaksa menangkap ikan di pinggiran saja. Kalau ke tengah bisa membahayakan," katanya.

Hasil tangkapan ikan menurun

Dia menjelaskan dalam kondisi biasa hasil tangkapan bisa mencapai 500 kilogram sampai 1 ton teri basah. Namun, sejak sepekan ini hasil melaut hanya mencapai 50 hingga 100 kilogram. "Biasanya melaut bisa seharian, tapi tadi hanya sampai setengah hari saja karena semakin ke tengah angin semakin kencang dan gelombang bertambah tinggi," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Acok (40), seorang nelayan di TPI Way Apus, Bakauheni. Dia berangkat melaut mulai pukul 06.00 WIB dan pulang sekitar pukul 12.00. Selama enam jam tersebut, ia hanya mendapat tangkapan empat baskom ikan. "Kalau cuaca normal, melaut dari pagi sampai malam bisa menghasilkan 20 baskom ikan, " katanya.

Dia bersama rekannya memilih melaut setengah hari karena harus mempertimbangkan jumlah bahan bakar agar tidak merugi. Selain itu, kondisi angin kencang yang mengakibatkan gelombang tinggi membuat mereka tidak berani melaut hingga ke tengah.

"Kondisi cuaca ini sudah terjadi selama seminggu ini. Biasanya kami melaut hingga ke perairan sebelah selatan Selat Sunda sampai barat Lampung. Tapi sekarang cuma di pinggiran saja, " ujarnya.

Adi Sunaryo



Berita Terkait



Komentar