#beritalampung#beritalampungterkini#aliransesat#ajaranmenyimpang

Anggota Almahdi Berjanji Hentikan Kegiatan 

( kata)
Anggota Almahdi Berjanji Hentikan Kegiatan 
Tokoh agama, petugas kepolisian, dan TNI bersama warga menyaksikan pernyataan HR yang mengaku ratu adil tidak akan mengulangi perbuatan lagi di Balai Desa Jagang, Kecamatan Blambangan Pagar, Lampung Utara, Rabu, 7 Desember 2022. Dok Polres


Kotabumi (Lampost.co) -- Dugaan aliran agama menyimpang menghebohkan wilayah Lampung Utara. Aliran tersebut berada di Desa Jagang, Kecamatan Blambangan Pagar. 

RH (45), seorang guru TK disebut-sebut sebagai ratu adil yang bertanggung jawab di dunia ini. Aliran sesat itu diketahui bernama Almahdi dan setiap anggotanya diwajibkan menyetor sejumlah uang Rp400 ribu setiap bulannya. 

Kasat Intelkam Polres Lampura Iptu Suhaili mewakili Kapolres AKBP Kurniawan Ismail, membenarkan adanya seorang warga diduga menjalankan aliran menyimpang di Desa Jagang, Blambangan Pagar. "Orang tersebut diketahui berinisial RH, seorang guru TK yang mengakui sebagai ratu adil," katanya, Rabu, 7 Desember 2022.

Baca juga: KPK Periksa Bupati Lampung Barat terkait Kasus Karomani 

Dia menjelaskan pihaknya mendapatkan  informasi dari warga setempat lantaran aliran agama sesat yang telah meresahkan masyarakat yang bermukim di desa tersebut.

"Setelah ditindaklanjuti, kami bersama salah seorang ustaz menemui seorang wanita berinisial An. Dalam penjabarannya, An menganggap IA sebagai wali Allah, titisan Abdullah, ayah dari Rasulullah Nabi Muhammad saw. Selain itu, ada RH, yang dianggapnya sebagai Almahdi, seorang yang hidupnya di langit dengan bergelimang kemewahan," ujarnya.

An menganggap RH harus dimuliakan. Sebab, jika tidak, akan ditimpa musibah. Sebaliknya, apabila dimuliakan akan diberi keberkahan.

“RH merupakan ratu adil yang mengaku penanggung jawab di dunia. Sedangkan An, menganggap dirinya sebagai penghubung ke langit untuk bertemu Rasulullah," kata Suhaili.

Kemudian, pihaknya langsung bertemu dengan kepala desa setempat. “Kami juga sudah meminta keterangan dari warga dan An, serta RH,” katanya. 

Untuk permasalahan aliran menyimpang itu juga akan diselesaikan dengan musyawarah di balai desa setempat. 

“Hari ini (Rabu, red) pertemuan semua warga yang ikut aliran menyimpang, kepala desa, serta tokoh agama dan masyarakat desa,” ujarnya.

Pada hari ini juga mereka akan membuat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya. “Mereka membuat pernyataan di atas kertas bermeterai disaksikan kepala desa, tokoh agama, dan warga,” katanya.

Dari data yang ada, tujuh pengikut RH, yakni lima warga Desa Jagang, Blambangan Pagar, dengan inisial SH, HI, DI, EI, dan NH. Selain itu, dua orang lainya BA dan AO, warga Belitang, Sumatra Selatan.

Muharram Candra Lugina








Berita Terkait



Komentar