#kenakalanremaja#humaniora#gengmotor

Ancaman Serius Geng Motor Perlu Penanganan Bersama

( kata)
Ancaman Serius Geng Motor Perlu Penanganan Bersama
Foto: Lampost.co/Hesma Eryani

JAKARTA (Lampost.co) -- Keberadaan geng motor yang selalu membuat resah masyarakat perlu tindakan tegas dari pihak berwajib seperti kepolisian. Pasalnya, keberadaan mereka menjadi ancaman serius karena berbagai kasus yang muncul di permukaan kerap menimbulkan korban jiwa.

"Anarkisme yang selalu dilakukan geng motor ini patut untuk segera diakhiri agar tidak makin banyak korban jiwa atau kerugian materiil yang disebabkan oleh ulah mereka," kata Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto, Forum Promoter Polri bertema Penanggulangan Teror Geng Motor Demi Memberikan Rasa Aman dan Terwujudnya Kamtibmas di Menara 165 Jakarta, Kamis (8/11/2018).

Hadir sebagai pembicara Kadiv Humas Polri, Irjen Pol. Setyo Wasisto,Kasubnit V Subdit III Ranmor, AKP Andhiek Budy Kurniawan, Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar, Sekjen LPAI Henny Adi Hermanoe,  dan Juandanilsyah (dari Kemendikbud)

Menurut Setyo, saat ini motor bukan menjadi satu hal yang mewah, ini dampak dari beberapa waktu yang lalu dengan DP 500 dapat motor. Tapi pergeseran dan nilai membuat wawasan bermotor jadi beda.

Perkembangan geng motor di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor seperti imitasi, lingkungan, budaya, pengagguran, perhatian orang tua yang minim dan kemiskinan.

Rata-rata geng motor terbentuk karena kebiasaan para remaja atau pemuda yang nongkrong - nongkrong yang biasanya dilakukan di malam hari.

Selanjutnya mereka melakukan aksi balap liar da hal-hal yang menantang untuk menunjukkan eksistensi diri terhadap kelompoknya atau kelompok lainnya. "Kondisi tidak ideal biasanya menimbulkan celah sosial, lemahnya disiplin lalu lintas menjadi peluang timbulnya geng motor. Lingkungan sosial yang tidak komdndusif dan pendidikan karakter yang gagal menjadikan mereka mudah terombang - ambing sehingga menuju pergaulan yang salah," ulas Setyo.

Untuk mengatasi munculnya geng-geng motor baru, perlu upaya bersama dari semua pemangku kepentingan termasuk peran orang tua, sekolah, lingkungan dan masyarakat. Kepolisian diakuinya tidak dapat bekerja sendiri untuk mengatasi teror geng motor yang sudah sangat meresahkan masyarakat.

Kasubnit V Subdit III Ranmor, AKP Andhiek Budy Kurniawan, menambahkan rata-rata geng motor muncul di kota-kota besar. Dari catatannya geng motor banyak bermunculan di wilayah Jawa Barat disusul Jakarta, Medan dan Bali. Aksi yang kerap diciptakan oleh gerombolan geng motor ini diantaranya pengrusakan fasilitas umum mauun pribadi, penganiayaan, pengeroyokan, pemerasan, pencurian dengan  kekerasan, pemerkosaaan hingga pembunuhan.

"Keberadaan geng motor yang  mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat akan ditindak tegas oleh kepolisian. Polisi tidak akan ada toleransi lagi bagi anggota geng yang bertindak anarkis," kata Andhiek.

Upaya untuk mengatasi persoalan geng motor ini, kepolisian aktif melakukan berbagai upaya pencegahan. Diantaranya preemtif, preventif dan represif. "Apabila pelaku kekerasan dari geng motor adalah anak-anak, kita melakukan mekanisme restorative justice yaitu menghindarkan anak-anak dari pemidanaan dan diganti dengan bimbingan," ulas dia.

Sementara itu Sosiolog dari Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, Musni Umar, mengatakan bahwa geng motor merupakan fenomena global yang ada di hampir semua negara. Namun perkembangan geng motor di Indonesia menjadi salah satu yang paling pesat. Menurutnya,

Untuk mencegah geng motor terus perkembang salah satu cara yang efektif adalah dengan mengembalikan fungsi keluarga dan sekolah sebagai pusat pendidikan akhlak dan nilai-nilai agama. Kemudian enciptakan lingkungan sosial yang peduli terhadap anggota geng motor. Selain itu, orang tua harus diberi pendidikan cara mendidik anak agar tidak salah asuh.

Hal lain yang tak kalah penting adalah kolaborasi dan sinergi antara orang tua, sekolah, masyarakat, polisi dan pemerintah untuk membina geng motor. Pada dasarnya, anak remaja yang sedang tumbuh dimana rata-rata anggota geng motor adalah dari kalangan remaja, membutuhkan kehangatan, keakraban dan rasa aman dalam keluarga dan lingkungan.

Hesma Eryani



Berita Terkait



Komentar