#feature#wisudawanterbaik#umMetro

Anak Buruh Tani Jadi Wisudawan Terbaik UM Metro

( kata)
Anak Buruh Tani Jadi Wisudawan Terbaik UM Metro
Muhammad Rifa'i, anak petani yang menjadi salah satu wisudawan terbaik UM Metro pada Wisuda Pascasarjana ke-7, Sarjana ke-37, dan Ahli Madya UM Metro, Kamis (22/11/2018). (Foto: Dok.UM Metro)

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co)--Muhammad Rifa’i, mahasiswa dari keluarga tidak mampu membuat orang tuanya bangga karena menjadi salah satu wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah (UM) Metro tahun 2018. 

Selain menimba ilmu dengan torehan prestasi, ia pun tak pantang menjadi bekerja serabutab, pernah menjadi kuli bangunan dan buruh untuk menambah biaya hidupnya selama kuliah di UM Metro.

Rifa’i yang kuliah dengan beasiswa Bidik Misi di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UM Metro itu memperoleh indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,90 dan menjadi wisudawan terbaik kedua tingkat sarjana. 

Meski perkuliahan Rifa’i berjalan baik melalui beasiswa tersebut, pada awal perkuliahan ia sempat menjadi buruh tani di wilayah Bengkulu untuk menutup biaya indekos di Kota Metro. Orang tuanya yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani di Belitang, Sumatera Selatan, belum cukup mampu membiayai hal tersebut, terlebih bapaknya sedang sakit kala itu.
“Kemauan saya untuk kuliah sudah bulat, saat itu ayah sedang sakit dan memang benar-benar tidak ada biaya. Setelah lepas salat jumat, sempat bertemu dengan bapak-bapak yang mengajak kerja ke daerah Bengkulu. Tanpa pikir panjang saya langsung ikut bapak itu. Selama di perantauan, saya kerja sebagai buruh petani di sawah dan buruh di kebun karet. Kebetulan saat itu pas bulan puasa. Kerja sebagai buruh dari pagi sampai magrib benar-benar menguras tenaga. Kerja di perantauan ini selama setengah bulan mendapat uang Rp950 ribu untuk menambah biaya indekos,” ujarnya kepada Lampost.co, Kamis (22/11/2018).

Ia selalu menghabiskan masa libur panjang kuliah dengan bekerja di sawah, terkadang buruh, bahkan sempat menjadi pemandu pariwisata. “Paling lama bekerja di sawah. Uang yang terkumpul dipakai untuk menambah bekal selama kuliah di UM Metro,” kata dia.
Namun, hal itu tidak membuat Rifa’i patah semangat. Ia mampu menorehkan prestasi dengan selalu memperoleh IPK tertinggi pada tiap semester. Bahkan, ia dapat bekerja di salah satu perusahaan besar di Kota Bogor sebelum lulus kuliah.

“Saya selalu bercita-cita pengen dapat kerjaan sebelum wisuda. Akhirnya setelah sidang, saya memutuskan untuk pergi merantau ke Pulau Jawa, tepatnya di daerah Bogor. Dengan membawa transkrip dan SK menunggu yudisium, saya memberanikan melamar pekerjaan di salah satu industri tekstil di Bogor. Singkat cerita, di situ saya mendapat panggilan untuk psikotes. Lulus psikotes dan interviu, akhirnya saya diterima dan ditempatkan sebagai bagian HRD di perusahaan itu,” kata Rifa’i.
Hari ini Rifa’i berhasil membuat 925 wisudawan dan ribuan orang tua serta dewan senat UM Metro menitikkan air mata. Rifa’i bersungkur di kaki kedua orang tuanya mengucapkan terima kasih di depan peserta Wisuda di halaman kampus setempat.

Rifa’i lalu mengajak orang tuanya untuk naik ke atas panggung senat sembari memberikan bunga untuk Rektor UM Metro Karwono. Bunga yang ia berikan tersebut dimaksudkan sebagai ucapan terima kasihnya dan orang  tuanya atas gelar sarjana yang didapatkan di kampus tercinta itu. 

 

Rilis

Berita Terkait

Komentar